JawaPos.com - Pemerintah Iran membuka peluang tercapainya gencatan senjata dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Namun Teheran menegaskan bahwa setiap upaya mediasi internasional harus disertai jaminan kuat bahwa serangan dihentikan sepenuhnya dan tidak akan terulang.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan negaranya tidak menutup pintu diplomasi, tetapi menetapkan sejumlah syarat tegas sebagai dasar menuju penghentian konflik.
Menurutnya, Iran tidak memulai perang tersebut, sehingga upaya perdamaian harus dimulai dengan penghentian serangan secara menyeluruh.
Baca Juga: Iran Tegaskan Tak akan Buka Pintu Negosiasi dengan AS-Israel!
“Semua upaya mediasi harus memenuhi syarat, bukan hanya mencapai gencatan senjata tetapi juga menghentikan serangan sepenuhnya dan mencegah pengulangan di masa depan,” kata Mohajerani mengutip WANA News Agency.
Ia menegaskan bahwa tuntutan tersebut mencerminkan keinginan serius masyarakat Iran yang ingin konflik segera diakhiri tanpa risiko pengkhianatan atau serangan ulang.
“Kami tidak memulai perang ini, tetapi kami yang akan mengakhirinya,” lanjutnya.
Mediasi Dilakukan Saat Serangan Masih Berlangsung
Mohajerani mengungkapkan bahwa Iran sebenarnya sedang terlibat dalam proses perundingan ketika serangan dari Amerika Serikat dan Israel terjadi.
Ia menyebut ini sebagai kali kedua pemboman berlangsung di tengah proses negosiasi.
Karena itu, Iran menilai setiap kesepakatan gencatan senjata harus dilandasi komitmen nyata dari pihak lawan agar tidak menggunakan proses diplomasi sebagai celah untuk melanjutkan serangan.
Ia juga menolak narasi bahwa serangan terhadap Iran dilakukan demi kebebasan atau demokrasi.
“Tujuan serangan ini bukan kebebasan atau demokrasi. Mereka ingin memecah Iran. Target mereka adalah Iran dan rakyat Iran,” kata Mohajerani.
Pemerintah Iran juga melaporkan dampak besar serangan terhadap infrastruktur sipil. Sebanyak 52 fasilitas kesehatan dilaporkan menjadi sasaran serangan dan 11 tenaga medis tewas dalam konflik tersebut.
Meski demikian, pemerintah mengklaim mampu memulihkan pasokan bahan bakar dalam waktu satu hari setelah serangan terhadap infrastruktur energi.
Baca Juga: Kemlu: 32 WNI yang Dipulangkan dari Iran Tiba di Tanah Air Hari Ini
Menurut Mohajerani, tim medis dan layanan darurat tetap bekerja di tengah serangan untuk memastikan layanan dasar bagi masyarakat tetap berjalan.
Korban Sipil Termasuk Anak-anak
Dalam laporan terbaru pemerintah Iran, sebanyak 206 perempuan dan anak-anak dilaporkan tewas dalam serangan militer di Teheran selama periode Ramadhan.
Dari jumlah tersebut, 193 korban adalah anak di bawah usia 18 tahun. Mohajerani mengatakan korban termuda adalah bayi perempuan berusia delapan bulan, sementara anak yang terluka termuda berusia empat bulan.
Ia juga mengecam serangan terhadap infrastruktur bahan bakar di Teheran yang disebutnya sebagai kejahatan lingkungan terhadap warga sipil.
Iran Tegaskan Kedaulatan Kepemimpinan
Menanggapi ancaman dari pejabat Israel dan Presiden Amerika Serikat terhadap pimpinan tinggi Iran, Mohajerani menyebut pernyataan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Baca Juga: Klaim Menang Telak atas Iran, Trump Sebut Peperangan Akan Segera Berakhir
“Apakah negara lain yang akan menentukan siapa yang memimpin Iran? Masa itu sudah berlalu, era ketika kekuatan asing datang ke Teheran dan mengambil keputusan tentang Iran tanpa kehadiran negara ini sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan Iran akan terus menentukan sendiri arah kepemimpinan dan kebijakan nasionalnya, serta melindungi kedaulatan negara.
“Secara alami, Iran tidak akan menyisakan upaya apa pun untuk melindungi otoritas dan kemerdekaannya,” kata Mohajerani.