JawaPos.com - Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali menjadi sorotan setelah badan pengawas nuklir dunia menyatakan belum menemukan bukti bahwa Teheran sedang mengembangkan bom nuklir.
Kepala International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, mengatakan lembaganya hingga kini tidak memiliki bukti bahwa Iran tengah membangun senjata nuklir, meskipun program nuklir negara tersebut masih menimbulkan sejumlah kekhawatiran.
Dalam pernyataan yang dilaporkan pada Selasa (3/3) malam waktu setempat, Grossi menjelaskan bahwa Iran memang memiliki cadangan uranium yang diperkaya dalam jumlah besar, dengan tingkat kemurnian yang mendekati level yang bisa digunakan untuk senjata.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa IAEA tidak menemukan bukti konkret yang menunjukkan Iran sedang membuat bom nuklir.
“Badan ini tidak memiliki bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir,” kata Grossi.
Baca Juga: Senat AS Tolak Resolusi untuk Batasi Wewenang Trump dalam Perang Lawan Iran
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa masih ada sejumlah persoalan yang belum terselesaikan terkait program nuklir Iran. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah keterbatasan akses yang diberikan Teheran kepada para inspektur internasional.
Menurut Grossi, penolakan Iran untuk memberikan akses penuh kepada tim inspeksi telah meningkatkan kekhawatiran di kalangan pengawas nuklir dunia. Tanpa kerja sama yang memadai, IAEA tidak dapat memastikan sepenuhnya bahwa program nuklir Iran hanya bertujuan damai.
“Tanpa kerja sama dari Iran untuk menjawab pertanyaan yang masih tertunda, kami tidak bisa memberikan jaminan bahwa program nuklirnya sepenuhnya bersifat damai,” ujarnya.
Konflik Memanas Setelah Negosiasi Nuklir Gagal
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang pecah pada akhir pekan lalu. Ketegangan meningkat setelah perundingan mengenai program nuklir Iran tidak menghasilkan kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, sehari sebelum konflik meletus mengatakan bahwa Iran sebenarnya telah menyetujui secara prinsip untuk tidak menyimpan uranium yang diperkaya sebagai bagian dari diskusi diplomatik yang sedang berlangsung.
Mengutip Middle East Monitor, menurut al-Busaidi, proposal tersebut mencakup langkah Iran untuk menyerahkan material uranium yang telah diperkaya serta memastikan tidak ada bahan bakar nuklir yang ditimbun.
Baca Juga: ABK Fandi Ramadhan Divonis 5 Tahun Penjara, Lolos dari Tuntutan Hukuman Mati
Skema itu juga disertai mekanisme verifikasi untuk memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan.
Namun posisi Washington tetap keras. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Iran seharusnya tidak melakukan pengayaan uranium sama sekali, bahkan pada tingkat rendah yang tidak mencapai standar bahan senjata.
Pemerintah Amerika Serikat telah lama menuntut agar Teheran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium sebagai syarat utama kesepakatan baru terkait program nuklirnya.
Dalih Nuklir Kembali Dipertanyakan
Pernyataan IAEA yang tidak menemukan bukti pembangunan bom nuklir kembali memunculkan pertanyaan mengenai dasar kekhawatiran yang selama ini digunakan dalam ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meski Iran tetap diawasi ketat karena kapasitas teknologinya dalam memperkaya uranium, badan pengawas nuklir dunia menegaskan bahwa bukti langsung terkait pengembangan senjata nuklir hingga kini belum ditemukan.
Situasi ini membuat isu program nuklir Iran kembali menjadi pusat perdebatan internasional di tengah konflik yang terus meningkat antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv.