← Beranda
Serangan Terbaru Israel ke Lebanon Tewaskan Kepala Intelijen Hizbullah, Konflik Meluas
Rian AlfiantoSelasa, 3 Maret 2026 | 20.04 WIB
Serangan Israel ke Lebanon menyerang markas Hizbullah. (Al-Jazeera)

 

JawaPos.com - Eskalasi konflik di perbatasan Israel-Lebanon makin memanas. Militer Israel mengonfirmasi bahwa salah satu petinggi Hizbullah tewas dalam serangan udara yang menghantam Beirut pada Senin (2/3) dini hari.

Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyebut target serangan itu adalah Hussein Makled, yang diklaim sebagai kepala markas intelijen Hizbullah.

Dalam pernyataannya, IDF menuduh Makled berperan menyusun analisis intelijen terkait pergerakan pasukan Israel serta mendukung perencanaan serangan terhadap warga dan wilayah Israel.

Menurut IDF mengutip Times of Israel, Makled juga bekerja sama dengan komandan senior Hizbullah dalam merancang dan mengembangkan berbagai operasi militer.

Serangan ini menjadi bagian dari gelombang balasan Israel setelah kelompok yang didukung Iran itu meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel beberapa jam sebelumnya.

Rentetan Serangan Balasan

Serangan roket dan drone Hizbullah terjadi menjelang fajar dan disebut sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi gabungan Israel-AS terhadap Iran pada akhir pekan lalu.

Tak lama setelah serangan tersebut, jet-jet tempur Israel menggempur sejumlah titik di Lebanon, termasuk di ibu kota Beirut dan wilayah selatan negara itu.

Selain menewaskan pejabat intelijen Hizbullah, satu serangan lain dilaporkan menewaskan Adham al-Othman (41), yang disebut sebagai komandan Brigade al-Quds di Lebanon dari kelompok Jihad Islam Palestina.

IDF mengklaim telah menghantam sekitar 70 target di Lebanon selatan, termasuk gudang senjata dan lokasi peluncuran roket milik Hizbullah.

Sebelum serangan dilakukan, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga sipil di sejumlah area.

Tak hanya fasilitas militer, Israel juga menyasar cabang-cabang Al-Qard al-Hasan, lembaga yang dituding menjadi jalur keuangan Hizbullah untuk membayar personel, menyalurkan dana dari Iran, dan membeli persenjataan.

Israel Tegaskan Operasi Belum Berakhir

Kepala Staf IDF, Letjen Eyal Zamir, menegaskan bahwa operasi terhadap Hizbullah akan terus berlanjut hingga ancaman dari Lebanon dinyatakan hilang.

Berbicara di perbatasan utara, Zamir menyatakan Israel menuntut Hizbullah untuk dilucuti dari persenjataan.

Ia juga menyebut kampanye militer Israel telah dipersiapkan sejak lama dan siap dijalankan di berbagai front sekaligus.

“IDF tidak akan mengakhiri kampanye sebelum ancaman dari Lebanon dihapus,” tegasnya.

Juru bicara IDF, Brigjen Effie Defrin, bahkan membuka kemungkinan operasi darat. “Semua opsi ada di meja,” ujarnya dalam konferensi pers, seraya menegaskan Hizbullah akan membayar harga mahal atas serangan yang dilancarkan.

Konflik juga berdampak ke luar wilayah Israel dan Lebanon. Pejabat senior Siprus menyebut sebuah drone Shahed buatan Iran menghantam pangkalan udara RAF Akrotiri milik Inggris di pulau tersebut. Serangan itu menyebabkan kerusakan terbatas tanpa korban jiwa.

Di wilayah Israel utara, sirene peringatan kembali berbunyi setelah sebuah drone yang diluncurkan dari Lebanon berhasil dicegat oleh Angkatan Udara Israel di kawasan Galilea Atas.

Hingga kini, belum ada klaim tanggung jawab resmi dari Hizbullah terkait insiden tersebut.

Sementara Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas akibat serangan Israel sejak Senin dini hari.

Otoritas setempat belum merinci berapa jumlah korban sipil dan berapa yang merupakan anggota kelompok bersenjata.

 

EDITOR: Bayu Putra