JawaPos.com - Krisis kepercayaan publik terhadap industri teknologi di Amerika Serikat memasuki babak baru. Pew Research Center pada 2025 menegaskan bahwa sebagian besar warga AS menaruh curiga pada big tech dan menilai AI berisiko membawa dampak sosial yang merugikan.
Namun, di saat kritik publik justru meningkat, Silicon Valley memilih strategi berbeda merancang ekosistem media mereka sendiri. Perusahaan teknologi raksasa kini membangun jaringan podcast, talk show daring, dan publikasi internal untuk mengendalikan arah percakapan publik.
Wawancara dengan CEO dan investor besar dikemas bercorak hangat, panjang, dan minim pertanyaan sensitif. Dengan begitu, panggung yang dulu milik media arus utama perlahan beralih menjadi ruang "self-narrated legitimacy"—legitimasi yang diceritakan langsung oleh narasumbernya sendiri.
Pergeseran ini bukan terjadi secara kebetulan, tetapi melalui desain strategi komunikasi yang presisi. Melalui program dan kanal baru, pemimpin big tech menjalankan perang narasi digital, bukan lagi lewat algoritma semata, tetapi lewat pendekatan psikologi massa.
Strategi seperti membentuk kedekatan emosional, menciptakan tokoh idola, dan menghilangkan ruang pertanyaan kritis yang dilakukan para miliarder teknologi berpotensi memicu sorotan negatif. Model komunikasi ini dirancang untuk "menang dari sisi persepsi" sekalipun isu faktualnya tetap kontroversial.
Dilansir dari The Guardian, Senin (1/12/2025), laporan ini menyoroti kebangkitan ekosistem alternatif yang sangat ramah terhadap kelas elite teknologi. CEO big tech seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg tampil sebagai "the new pop culture protagonist"—protagonis baru budaya pop digital.
Contohnya, program wawancara Sourcery yang diproduksi oleh platform finansial Brex menampilkan CEO Palantir Technologies, Alex Karp, dengan pertanyaan ringan: "Kalau Anda adalah cupcake, cupcake seperti apa Anda?"
Karp menjawab, "Saya tidak mau jadi cupcake, karena saya tidak mau dimakan. Cupcake adalah simbol konsumsi; saya memilih resistensi." Host lalu merespons, "Itu manis sekali," tanpa bergeser ke isu publik yang sensitif. Percakapan ini memperkuat framing ramah, tetapi jelas menghindari konteks pertanyaan publik yang sesungguhnya lebih penting.
Di sepanjang 2025, strategi komunikasi big tech berubah: mereka tidak lagi mengandalkan influencer, melainkan membangun kanal media sendiri, seperti ketika Andreessen Horowitz meluncurkan blog a16z di Substack, dengan framing persuasif,
"Bagaimana jika masa depan media bukan dikendalikan algoritma atau institusi lama, tetapi oleh suara independen yang dekat langsung dengan audiens?"—sebuah narasi yang tampak ideal, tetapi tetap membawa kepentingan modal dan politik.
Selain itu, pada tahun yang sama, Palantir meluncurkan The Republic, publikasi digital dan cetak yang mirip jurnal akademik. Namun, tidak seperti jurnal independen, publikasi ini dibiayai oleh yayasan nirlaba di bawah kendali perusahaan, dipimpin oleh Alex Karp sebagai ketua. Editorial team-nya berisi eksekutif senior perusahaan itu sendiri.
Salah satu esai yang dimuat di The Republic bahkan berjudul mengenai bagaimana kolaborasi teknologi dan militer membawa dampak positif bagi masyarakat. Banyak artikel lain menyoroti regulasi yang dianggap menghambat dominasi AI nasional, serta hak cipta yang dinilai bisa melemahkan persaingan teknologi. Semua argumen itu muncul dari lensa internal, bukan uji kritis publik, sehingga memunculkan pertanyaan legitimasi keakuratan dan transparansi.
Di sisi lain, ekosistem ini juga melahirkan turunan AI yang berpotensi menyesatkan. Elon Musk meluncurkan Grokipedia, ensiklopedia berbasis AI yang menghasilkan jawaban selaras dengan cara pandang personal pendirinya.
Bahkan chatbot Grok sempat membuat klaim menyanjung, seperti "Elon Musk lebih bugar dari LeBron James dan dapat mengalahkan Mike Tyson di ring tinju." Pernyataan semacam itu menjadi viral bukan karena benar, tetapi karena selaras dengan framing citra pribadi.
Konsekuensinya, dampak bagi jurnalisme makin nyata. Trafik wawancara CEO-CEO di kanal internal kian besar, sementara media kritis perlahan kehilangan panggung.
Emily Bell dari Columbia University menegaskan, "Tantangan terbesar jurnalisme sekarang bukan akses ke tokoh besar, melainkan akses ke pertanyaan besar." Dia melanjutkan, "Ketika panggung dibangun oleh narasumber, yang hilang bukan hanya kritik, melainkan verifikasi."
Dengan demikian, isu ini bukan sekadar soal media yang ramah pada elite teknologi, tetapi siapa yang memegang otoritas narasi. Ketika big tech menjadi pemilik panggung sekaligus pengendali arah informasi, ruang publik berisiko kehilangan salah satu fondasi terkuatnya: transparansi dan akuntabilitas.
Ekosistem baru ini akhirnya menciptakan paradoks. Silicon Valley menang dari sisi kontrol narasi, tetapi kalah dalam hal keterbukaan terhadap pertanyaan kritis publik.
Di tengah ketidakpercayaan publik yang tinggi, friendly media bubble atau media ekosistem ramah-narasi bukan lagi sekadar strategi komunikasi—melainkan arena baru yang mereka bangun sendiri untuk mengontrol percakapan publik dan memenangkan legitimasi di panggung digital global.
Baca Juga: Industri Keju Dunia Menghadapi Tekanan Iklim, Namun Inovasi dan Pasar Global Tetap Melaju