← Beranda
Memahami Ancaman Topan: Fenomena, Proses Terbentuk, dan Dampaknya di Asia-Pasifik
Jelita Indriana PutriRabu, 12 November 2025 | 15.24 WIB
Topan, pusaran awan raksasa berbentuk spiral dengan mata badai di pusatnya. (NASA)

JawaPos.com - Topan merupakan salah satu bencana alam paling dahsyat yang kerap terjadi di kawasan Asia-Pasifik. Fenomena cuaca ekstrem ini terbentuk di Samudra Pasifik dan memengaruhi jutaan penduduk setiap tahunnya. Seiring meningkatnya dampak perubahan iklim, intensitas topan tercatat semakin kuat dan merusak.

Berdasarkan Indeks Risiko Iklim Global, negara-negara seperti Filipina dan Jepang memiliki tingkat kerentanan tinggi, dengan potensi kerugian mencapai miliaran dolar dan korban jiwa yang tidak sedikit setiap tahunnya. Salah satu kejadian terbaru adalah topan Fung-Wong yang melanda Filipina dengan dampak yang sangat signifikan.

Mengutip laporan The Guardian pada Senin (10/11), topan dahsyat Fung-wong telah melanda Filipina, menewaskan setidaknya delapan orang, 1,4 juta orang pengungsi, dan kerusakan yang luas.

Perbedaan Istilah di Berbagai Wilayah

Istilah “topan” sering kali berbeda antarwilayah, tetapi semuanya merujuk pada fenomena yang sama, yakni siklon tropis atau badai tropis. Melansir BMKG, di wilayah Samudra Pasifik Selatan, Pasifik Timur Laut, dan Atlantik Utara, fenomena ini disebut “hurricane” apabila kecepatan anginnya melebihi 64 knot atau setara 119 km/jam. Sementara itu, istilah “typhoon” atau “topan” digunakan untuk menyebut badai yang terbentuk di Samudra Pasifik Barat Laut.

Negara-Negara yang Paling Rentan

Menurut Climate Impacts Tracker Asia, topan umumnya terbentuk di wilayah tropis Samudra Pasifik barat laut, di mana perairan hangat yang luas menyediakan kondisi ideal bagi pertumbuhan badai.

Negara-negara seperti Jepang, Filipina, dan Tiongkok merupakan yang paling rentan karena wilayahnya dekat dengan arus laut hangat tersebut. Kawasan Laut Tiongkok Selatan bahkan disebut sebagai salah satu area tempat topan sering berkembang, sebelum akhirnya bergerak menuju daratan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.

Proses Terbentuknya Topan

Menurut Met Office, topan bermula dari kumpulan awan yang terbentuk di atas perairan tropis yang hangat. Kumpulan awan ini kemudian menyatu dan mulai berputar, menghasilkan depresi tropis.

Ketika kecepatan angin berkembang dan mencapai 39 mph, sistem tersebut meningkat menjadi badai tropis dan mulai diberi nama. Jika intensitas angin terus bertambah hingga menembus 74 mph, sistem ini berubah menjadi topan, hurricane, atau siklon, tergantung wilayah tempat terbentuknya badai tersebut.

Proses pembentukan topan sangat bergantung pada suhu permukaan laut. Perairan yang hangat menyediakan bahan besar bagi badai untuk berkembang, sehingga topan paling sering muncul di wilayah 5° hingga 30° garis lintang. Selain itu, efek Coriolis turut memengaruhi arah putaran badai seperti, berlawanan arah jarum jam di belahan bumi utara dan searah jarum jam di belahan bumi selatan.

Dilansir dari FDFA, angin topan berputar membentuk spiral besar yang mengelilingi pusat badai atau eye, yakni area yang relatif tenang dengan diameter sekitar 30 hingga 50 km. Sementara itu, keseluruhan struktur badai dapat meluas hingga 650 km. Sebuah topan dapat bertahan lebih dari dua minggu di lautan terbuka dan menempuh perjalanan panjang di sepanjang pesisir timur Asia.

Musim topan sendiri berlangsung sepanjang tahun, meski intensitas terbanyak biasanya terjadi antara Mei dan November. Saat topan mulai mendekati daratan, langit perlahan menggelap dan kecepatan angin meningkat. Ketika mencapai kawasan pesisir, topan membawa hujan lebat, angin kencang, serta gelombang badai yang berpotensi memicu banjir.

Dampak Topan

Menurut Australian Climate Service, topan dapat menimbulkan berbagai dampak, mulai dari hilangnya nyawa dan ancaman terhadap kesehatan, terganggunya produksi pertanian, hingga kerusakan pada infrastruktur penting seperti jaringan listrik, komunikasi, pelabuhan, dan sistem transportasi. Kerusakan lingkungan pun tidak terhindarkan seperti, pencemaran tanah dan air, erosi pantai, serta ancaman terhadap ekosistem.

Dampak gabungan dari angin ekstrem dan hujan lebat kerap memperburuk situasi, terutama apabila terjadi di wilayah pesisir yang rentan terhadap gelombang tinggi dan banjir rob. Air yang meluap dapat menjangkau jauh ke wilayah pedalaman. Sementara itu, gelombang panas dan kelembapan tinggi setelah topan pun dapat meningkatkan jumlah korban. Dengan dampak yang luas, topan menjadi salah satu ancaman bencana paling berbahaya baik bagi masyarakat maupun lingkungan. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah