JawaPos.com - Rapid Support Forces (RSF) menjadi sorotan dunia setelah rangkaian tindakan brutal mereka terhadap warga sipil di Sudan. Dituduh melakukan pembantaian di El Fasher, ibu kota Darfur Utara, kelompok paramiliter ini bertanggung jawab atas ribuan kematian warga sipil, pengungsian massal, hingga penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.
Menurut Amnesty International, RSF memiliki sejarah panjang pelanggaran HAM berat di Darfur dan wilayah lain di Sudan. Pelanggaran tersebut termasuk serangan terhadap etnis non-Arab, pembunuhan warga sipil secara sistematis, dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Sejumlah organisasi internasional dan negara, termasuk Amerika Serikat telah menyatakan bahwa tindakan RSF dapat dikategorikan sebagai genosida.
“Milisi yang sama (RSF dan sekutunya) telah menyasar warga sipil yang melarikan diri, membunuh orang-orang tak berdosa yang melarikan diri dari konflik, dan mencegah warga sipil yang tersisa mengakses bantuan kemanusiaan. Berdasarkan informasi ini, saya kini menyimpulkan bahwa anggota RSF dan milisi sekutu telah melakukan genosida di Sudan” ujar Antony Blinken, Menteri Luar Negeri AS dikutip dari The Guardian.
Berakar dari Janjaweed
Menurut The New Arab, RSF berawal dari kelompok militer Arab bernama Janjaweed, yang dibentuk oleh rezim Omar al-Bashir pada 2003 untuk mengatasi kelompok pemberontak di Darfur. Janjaweed dikenal dunia karena aksi brutal mereka, termasuk pembunuhan massal, pembakaran desa, dan pemerkosaan.
Pada 2013, di bawah komando Badan Intelijen dan Keamanan Nasional Sudan, Janjaweed diubah menjadi Rapid Support Forces (RSF). Empat tahun setelahnya, parlemen Sudan mengesahkan undang-undang yang mengakui RSF sebagai pasukan dalam struktur militer negara. RSF kemudian dipimpin oleh Mohamed Hamdan Dagalo, atau Hemedti, bersama saudaranya, Abdel Rahim Dagalo.
Peran RSF dalam Kudeta 2019
Dilansir dari Britannica, RSF awalnya berfungsi sebagai pengawal bagi Bashir untuk mencegah adanya kudeta. Bahkan, Bashir memberi Hemedti julukan khusus “Himayti” yang berarti pelindungku. Namun kedekatan itu berakhir pada April 2019, ketika protes massal yang menentang kenaikan harga dan otoritarianisme Bashir memuncak. Pada 11 April 2019, Bashir ditangkap oleh militer, termasuk RSF.
Setelah kudeta, Hemedti menjabat sebagai wakil ketua Dewan Militer Transisi sebelum kemudian menjadi wakil ketua Dewan Kedaulatan. Posisi ini menjadikannya salah satu pejabat paling berkuasa di Sudan.
Dalam beberapa tahun berikutnya, Hemedti semakin memperluas pengaruhnya, ia bertemu duta besar asing, melakukan negosiasi dengan kelompok pemberontak, hingga memediasi konflik di Sudan Selatan. Kritikus menilai langkah-langkah tersebut sebagai upaya memperbaiki citra RSF di mata internasional.
Kekejaman yang Terus Berlanjut hingga El Fasher
Sejak pecahnya perang saudara antara RSF dan militer Sudan pada April 2023, situasi semakin memburuk. Dikutip dari International Crisis Group, pada 26 Oktober 2025 RSF akhirnya berhasil merebut El Fasher, ibu kota Darfur Utara sekaligus benteng terakhir tentara Sudan di seluruh wilayah Darfur. Sebelumnya, kelompok militer ini telah melakukan pengepungan selama 18 bulan yang menjebak sekitar 260.000 warga sipil tanpa akses terhadap makanan, listrik, ataupun bantuan kemanusiaan.
Menurut laporan DW, selama berbulan-bulan, El Fasher terputus sepenuhnya dari dunia luar. Banyak warga terpaksa bertahan hidup dengan pakan ternak. Di tengah situasi tersebut, RSF dilaporkan menembaki warga yang mencoba melarikan diri, melakukan pemerkosaan, hingga menggunakan tentara anak.
“Kami khawatir akan terjadi penembakan massal, pemerkosaan, dan kelaparan yang semakin parah. Kontak kami di kota melaporkan bahwa rata-rata tiga anak meninggal setiap jam,” ujar Marina Peter, Ketua Forum Sudan Jerman dan Sudan Selatan, dikutip dari DW.
RSF bahkan menggali parit yang mengelilingi kota untuk mencegah siapa pun keluar masuk. Cara ini, menurut sejumlah organisasi kemanusiaan, merupakan strategi sistematis untuk membuat kota tersebut kelaparan secara perlahan. Dalam konflik yang semakin brutal ini, nyawa manusia nyaris tidak diperhitungkan.