JawaPos.com — Larry Ellison, pendiri sekaligus Ketua Oracle Corporation, tengah menapaki babak baru dalam karier bisnisnya. Di usia 81 tahun, miliarder teknologi yang dikenal sebagai pelopor basis data dan komputasi awan itu kini memperluas pengaruhnya ke dunia media.
Manuver ini menandai transformasi strategis seorang inovator yang tak berhenti berevolusi di tengah perubahan industri global.
Dilansir dari Fortune, Kamis (9/10/2025), Ellison bersama putranya, David Ellison, memperluas kekuatan keluarga melalui akuisisi besar di sektor hiburan.
David, pendiri sekaligus CEO Skydance Media, baru saja mengamankan kesepakatan senilai sekitar Rp132,5 triliun (setara 8 miliar dolar AS, kurs Rp16.560 per dolar AS) untuk mengambil alih Paramount Global beserta anak perusahaannya seperti CBS, MTV, dan Comedy Central.
Langkah itu menempatkan keluarga Ellison di pusat konsolidasi besar industri media Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan Reuters (11 September 2025), analis media Douglas Arthur dari Huber Research menyebut rencana ekspansi tersebut “sangat mungkin terjadi, dan dalam beberapa hal bahkan bisa masuk akal,” merujuk pada potensi akuisisi Warner Bros. Discovery yang juga dikaitkan dengan Ellison.
Sementara itu, analis Rich Greenfield dari LightShed Partners mengingatkan dalam wawancara dengan Business Insider (5 Oktober 2025) bahwa penguatan posisi Skydance–Paramount membawa risiko tersendiri.
“Memiliki Paramount yang sehat secara finansial memang baik untuk industri hiburan. Namun risikonya muncul jika ini menjadi langkah awal menuju konsolidasi multistudio,” ujarnya.
Pandangan para analis tersebut menyoroti dua sisi ambisi Ellison, yakni memperkuat stabilitas ekonomi sektor hiburan di tengah tekanan layanan streaming, namun sekaligus menimbulkan kekhawatiran terhadap dominasi konglomerat tunggal yang dapat mengancam keragaman suara dan independensi editorial.
Meski demikian, hingga kini belum ada indikasi bahwa konsolidasi itu akan mengarah ke praktik monopoli, sementara regulator di AS dan Eropa diyakini akan mengawasinya secara ketat.
Transformasi ini juga memperlihatkan daya finansial Ellison yang luar biasa. Dengan kekayaan yang pernah menembus Rp5.713 triliun (sekitar 345 miliar dolar AS), dia sempat melampaui Elon Musk sebagai orang terkaya di dunia, meski posisinya terus berfluktuasi mengikuti dinamika pasar saham.
Fokus Ellison kini tampaknya bergeser dari sekadar peringkat kekayaan menuju pembentukan ekosistem bisnis global yang menyatukan teknologi, konten, dan data.
Namun, di tengah ekspansi tersebut, Oracle menghadapi tekanan baru dari bisnis cloud berbasis chip kecerdasan buatan (AI).
Menurut The Information, penjualan chip grafis (GPU) Oracle mencapai sekitar Rp14,9 triliun (900 juta dolar AS) pada kuartal yang berakhir Agustus, dengan margin kotor hanya 14 persen—jauh di bawah margin keseluruhan perusahaan yang biasanya mencapai 70 persen. Kondisi ini sempat menekan saham Oracle hingga turun 5 persen.
Meski begitu, CEO Nvidia Jensen Huang menilai prospek jangka panjang Oracle tetap positif. Dalam wawancara dengan CNBC (7 Oktober 2025), dia mengatakan, “Ketika Anda pertama kali mengembangkan teknologi baru, laba mungkin belum terlihat. Namun dalam jangka panjang, sistem itu akan menjadi sangat menguntungkan.”
Huang juga menegaskan, pembangunan pusat data berskala besar untuk komputasi AI memerlukan infrastruktur yang kompleks, mulai dari daya listrik hingga pendinginan.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Oracle tetap menunjukkan komitmen terhadap ekspansi jangka panjang. Perusahaan itu mencatat kenaikan kewajiban kinerja kontrak cloud hingga 359 persen pada kuartal fiskal 2026, serta memproyeksikan pendapatan infrastruktur awan mencapai Rp2.384 triliun (144 miliar dolar AS) pada 2030, naik dari Rp166 triliun (10 miliar dolar AS) pada 2025.
Bagi Ellison, keterkaitan antara teknologi dan media kini menjadi inti strategi barunya. Penguasaan terhadap distribusi konten dan data membuka peluang besar untuk mengintegrasikan AI dalam industri hiburan—mulai dari analisis perilaku penonton hingga personalisasi layanan streaming.
Tantangan margin tipis Oracle mungkin menjadi ujian jangka pendek, namun visi jangka panjangnya jelas, menjadikan Oracle bukan sekadar raksasa perangkat lunak, melainkan poros kekuatan media dan data global di era kecerdasan buatan. (*)