← Beranda
Sejarah Panjang Aborigin: Dari Peradaban Kuno hingga Perjuangan Pengakuan di Australia Modern
Jelita Indriana PutriJumat, 3 Oktober 2025 | 21.32 WIB
Suku Aborigin, penduduk asli Australia yang dipercaya telah mendiami benua ini setidaknya 60.000 tahun silam. (Anthropology.net)

JawaPos.com - Penduduk asli Australia, yang dikenal dengan sebutan Aborigin, memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung selama puluhan ribu tahun. Kehidupan mereka yang penuh harmoni dengan alam perlahan hancur sejak kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-18.

Hingga kini, masyarakat Aborigin masih terus memperjuangkan hak, pengakuan, serta kedaulatan mereka di tengah warisan kolonialisme yang mendalam.

Awal Kehidupan Aborigin

Dikutip dari Australian Department of Foreign Affairs and Trade, orang Aborigin dipercaya telah mendiami Australia setidaknya selama 60.000 tahun. Bahkan, beberapa bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa mereka mungkin telah hidup di benua tersebut lebih dari itu. Kata “Aborigin” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “dari awal mula”.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat Aborigin hidup secara mandiri di tanah mereka. Menurut Aboriginal Heritage, berbagai klan yang mendiami wilayah Sydney utara menggantungkan hidup dari hasil laut, berburu di pedalaman, serta memanen tanaman liar di sekitar mereka.

Dengan hanya membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam per hari untuk mencari makanan, mereka memiliki banyak kesempatan mengembangkan bahasa, hukum adat, spiritualitas, serta ritual budaya yang erat hubungannya dengan tanah leluhur. Kehidupan ini berlangsung damai dan berkelanjutan selama ribuan tahun.

Kedatangan Bangsa Eropa dan Dampak Kolonialisme

Segalanya berubah ketika Letnan James Cook tiba di pantai timur Australia pada 1770. Sesuai instruksi, ia diminta mengklaim Benua Selatan untuk Kerajaan Inggris jika tidak berpenghuni, atau dengan persetujuan penduduk asli jika telah didiami.

Namun, Cook justru menyatakan wilayah itu sebagai milik Raja George III tanpa meminta persetujuan masyarakat Aborigin. Inilah awal dari doktrin terra nullius atau “tanah tak bertuan”, yang meyangkal keberadaan ribuan tahun peradaban Aborigin.

Pada Januari 1788, Armada Pertama yang dipimpin Kapten Arthur Phillip mendarat di Teluk Sydney untuk mendirikan koloni hukuman. Tindakan kepemilikan tanah oleh Eropa terjadi hanya empat hari setelah mereka tiba, dengan menebangi lahan demi akses air bersih.

Pandangan awal para kolonis terhadap penduduk asli sangat merendahkan, sebagaimana dicatat oleh Watkin Tench, seorang perwira Armada Pertama, yang menggambarkan masyarakat Aborigin sebagai “makhluk malang” tanpa tempat tinggal tetap.

“Tampaknya makhluk-makhluk malang ini tidak memiliki tempat tinggal tetap; terkadang tidur di Gua Batu, yang mereka buat sehangat tungku dengan menyalakan api di tengahnya, mereka akan bermalam di sini, mungkin semalam, lalu di malam berikutnya di tempat lain,” tulis catatan perwira Armada Pertama tersebut, dikutip dari Aboriginal Heritage.

Tidak hanya itu, kedatangan bangsa Eropa membawa dampak bencana. Penyakit menular seperti cacar, influenza, dan sifilis menyapu bersih populasi yang tidak memiliki kekebalan terhadap hal ini. Dalam waktu kurang dari setahun, lebih dari separuh penduduk asli di sekitar Cekungan Sydney meninggal akibat cacar.

Perlawanan dan Kehancuran Sosial

Meski dilanda wabah, orang Aborigin tidak menyerah begitu saja. Mereka melakukan perlawanan gerilya terhadap kolonis Inggris. Namun, dengan jumlah yang semakin berkurang, persenjataan minim, serta tanah yang dirampas, perlawanan ini perlahan padam.

Selain penyakit dan kehilangan tanah, kerusakan sosial semakin parah akibat masuknya alkohol yang diperjualbelikan Inggris. Hal ini memperlemah struktur sosial dan keluarga tradisional.

Dalam sekejap mata, sebuah peradaban kuno yang tak tertandingi runtuh akibat kolonialisme. Banyak kisah dan tradisi hilang bersama kematian klan-klan Aborigin. Kini, sisa kehidupan mereka hanya bisa ditelusuri lewat peninggalan arkeologis berupa ukiran batu, tempat berlindung, dan artefak lainnya.

Perjuangan Aborigin di Era Modern

Meski terpuruk, perjuangan Aborigin terus berlanjut hingga hari ini. Masyarakat adat Australia masih berupaya keras menjaga budaya dan keyakinan kuno mereka.

Pada 2023, Australia menggelar referendum nasional untuk mengakui keberadaan masyarakat Aborigin dalam konstitusi serta membentuk lembaga penasihat khusus bagi parlemen.

Namun, hasilnya mengecewakan, lebih dari 60 persen warga Australia menolak, meskipun mayoritas pemilih Aborigin menyetujui usulan tersebut.

Kegagalan referendum ini menjadi pukulan berat, hingga komunitas Aborigin mengadakan pekan hening untuk merenungi hasil tersebut. Meski begitu, upaya menuju pengakuan tetap berjalan di tingkat negara bagian. Victoria, misalnya, sudah menyiapkan kerangka perjanjian yang diharapkan menjadi yang pertama di Australia.

Prjanjian ini mencakup pengakuan kedaulatan, kompensasi atas ketidakadilan masa lalu, serta memasukkan hasil penyelidikan Yoorrook Justice Commission. Jika disahkan, Victoria akan menjadi negara bagian kedua setelah Australia Selatan yang memiliki representasi permanen masyarakat adat di parlemen. Upaya serupa juga tengah berlangsung di Queensland. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah