← Beranda
Pidato Donald Trump di sidang Majelis Umum PBB: Perang Gaza Harus Segera Dihentikan
Bhagas Dani PurwokoRabu, 24 September 2025 | 23.19 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Istimewa)

 

JawaPos.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) bahwa perang di Gaza harus segera dihentikan. Ia juga menyinggung pengakuan sejumlah negara Barat terhadap Palestina, yang disebutnya sebagai “hadiah” bagi Hamas.

"Kita harus segera menghentikan perang di Gaza," ujar Trump di hadapan para pemimpin dunia di New York, Selasa (23/9/2025). Ia menambahkan, dirinya sangat terlibat dalam upaya mencapai gencatan senjata.

Dilansir dari Al Jazeera, Trump kembali mendesak agar para sandera asal Israel yang masih ditahan di Gaza segera dipulangkan.

"Kita harus menyelesaikan ini. Kita perlu merundingkan perdamaian. Kita harus memulangkan para sandera. Kami ingin semua 20 orang itu kembali," katanya, merujuk pada 20 dari 48 tawanan yang diyakini masih hidup.

Menurut Trump, pihak-pihak yang mendukung perdamaian semestinya bersatu untuk menuntut pembebasan para tawanan, bukan justru mendukung pengakuan sepihak atas Palestina.

"Sebagian anggota badan ini berusaha mengakui negara Palestina secara sepihak. Itu hanya akan menjadi hadiah besar bagi teroris Hamas atas kekejaman mereka," tegas Trump.

Pernyataan tersebut berseberangan dengan Sekjen PBB Antonio Guterres, yang dalam pertemuan mengenai solusi dua negara (21/9/2025) menegaskan bahwa kenegaraan Palestina adalah hak, bukan hadiah.

Sultan Barakat, profesor di Universitas Hamad Bin Khalifa, Qatar, menilai Trump memang menyerukan diakhirinya perang, tetapi tidak memberikan jalan keluar.

“Dia tahu penyebab perang terus berlanjut adalah karena dia sendiri mendukungnya,” ujar Barakat kepada Al Jazeera, merujuk pada dukungan Trump terhadap Israel.

Tawaran Gencatan Senjata Gaza

Trump hanya sedikit mengkritik Israel, yang memulai serangan besar-besaran di Gaza pada Oktober 2023 usai serangan Hamas di Israel selatan. Ia menuding Hamas sebagai pihak yang menggagalkan perundingan damai karena menolak berulang kali tawaran gencatan senjata yang dinilainya masuk akal.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kerap dituding justru menghambat proses negosiasi sejak awal perang. Israel bahkan menargetkan para pemimpin Hamas di Doha, Qatar, ketika mereka tengah membahas proposal gencatan senjata terbaru yang dimediasi AS.

Netanyahu juga melanggar kesepakatan gencatan senjata terakhir pada Maret lalu, kemudian memberlakukan blokade penuh terhadap Jalur Gaza, yang mengakibatkan kelaparan dan kematian warga sipil.

Sementara itu, Hamas pada Selasa menolak tuduhan sebagai penghalang perdamaian.

"Kami tidak pernah menjadi hambatan untuk kesepakatan," ujar pihak Hamas dalam pernyataan resmi.

Menurut Hamas, seluruh mediator internasional tahu bahwa Netanyahu adalah satu-satunya pihak yang menghalangi tercapainya kesepakatan. Hamas mengaku siap menerima gencatan senjata yang mencakup pembebasan sandera dan tahanan Palestina, serta penarikan penuh tentara Israel dari Gaza. Namun Netanyahu enggan menyetujui penarikan total.

Alih-alih mengurangi agresi, Netanyahu justru memutuskan merebut Kota Gaza bulan ini lewat invasi darat, yang menewaskan ratusan warga Palestina dan membuat ribuan lainnya mengungsi.

Lebih dari 65.000 warga Palestina telah meninggal sejak perang dimulai. Komisi PBB menyebut agresi Israel di Gaza sebagai bentuk genosida. Meski begitu, AS tetap dikritik keras karena terus memasok senjata ke Israel di tengah meningkatnya serangan.

Di sela agenda UNGA, Trump juga bertemu dengan para pemimpin Mesir, Indonesia, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab untuk membahas konflik Gaza. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut pertemuan itu sangat bermanfaat, dan akan menghasilkan deklarasi bersama.

Trump Tuduh Iran Sponsor Teror Dunia

Dalam pidatonya, Trump juga menyinggung Iran yang disebutnya sebagai sponsor teror nomor satu di dunia. Ia berjanji Teheran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

"Tiga bulan lalu, dalam Operasi Midnight Hammer, tujuh pesawat pembom B-2 AS menjatuhkan bom seberat 13.600 kg di fasilitas nuklir utama Iran dan menghancurkan segalanya. Tidak ada negara lain di dunia yang bisa melakukan itu," ujar Trump.

Namun, meski Trump mengklaim operasi tersebut melumpuhkan kemampuan nuklir Iran, penilaian pertahanan AS justru menunjukkan serangan itu hanya menunda program nuklir Teheran beberapa bulan. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah