JawaPos.com - Negara-negara Arab-Islam dikabarkan segera mengadakan pertemuan darurat di Doha, Qatar. Pertemuan digelar sebagai respons atas serangan Israel di Doha yang menargetkan para petinggi Hamas pada Selasa (9/9).
Dikutip dari Arab News, pertemuan tersebut dijadwalkan pada Minggu (14/9) hingga Senin (15/9) mendatang. Belum dapat dipastikan siapa saja kepala negara yang bakal hadir.
Dewan Keamanan PBB pun telah menggelar pertemuan darurat membahas masalah ini pada Kamis (11/9). Rapat darurat ini digelar atas permintaan Aljazair, Somalia, dan Pakistan.
Di depan para anggota DK PBB, Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani menyebut serangan 9 September itu sebagai serangan kriminal dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Qatar.
“Pernahkah Anda melihat sebuah negara menyerang para negosiator seperti itu?” tanyanya dihadapan para anggota DK PBB.
Ia pun memperingatkan bahwa insiden tersebut berpotensi menggagalkan perundingan gencatan senjata yang sedang berlangsung. Termasuk upaya perdamaian di Gaza.
Seperti diketahui, serangan udara Israel pada Selasa lalu telah menghantam sebuah kompleks perumahan di Doha yang ditempati anggota biro politik Hamas dan keluarga mereka.
Saat itu, kata dia, delegasi Hamas saat itu tengah membahas proposal gencatan senjata terbaru dari Amerika Serikat (AS) ketika rudal tiba-tiba menghantam sekitar pukul 15.45 waktu setempat.
Lokasi tersebut pun sebetulnya sudah lama diketahui para diplomat, jurnalis, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses mediasi. “Ini bukanlah kecelakaan,” tegas Sheikh Mohammed kepada anggota dewan.
Ia pun dengan tegas menyatakan bahwa serangan itu telah membuka kedok niat sebenarnya dari kepemimpinan ekstremis Israel, yang ditudingnya berusaha menggagalkan setiap peluang perdamaian.
“Ini adalah upaya yang disengaja untuk merusak diplomasi, melanggengkan penderitaan, dan membungkam mereka yang mencari jalan keluar dari pertumpahan darah,” sambungnya.
Apalagi, kata dia, jika dibandingkan dengan perundingan AS–Taliban yang juga pernah digelar di Doha, penargetan terhadap negosiator Hamas secara langsung bertentangan dengan norma mediasi konflik.
“AS tidak pernah sekalipun menyerang negosiator Taliban di Doha. Sebaliknya, melalui jalur itulah perang terpanjang dalam sejarah AS diakhiri. Tapi mengapa Israel justru berusaha menghancurkan kemungkinan perdamaian yang dinegosiasikan?” ujarnya.
Sheikh Mohammed menegaskan bahwa Qatar tetap berkomitmen pada upaya mediasi dan kemanusiaan. Termasuk membantu pembebasan 148 sandera serta memfasilitasi koridor bantuan ke Gaza.
“Serangan ini bukan hanya terhadap Qatar, melainkan terhadap setiap negara yang berjuang demi perdamaian. Komunitas internasional sedang diuji. Jika PBB tetap diam, itu berarti melegitimasi hukum rimba,” paparnya.
PBB Sebut Aksi Israel Pelanggaran Teritorial Qatar
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian, Rosemary DiCarlo, menyampaikan pesan dari Sekjen PBB Antonio Guterres yang menyebut aksi Israel itu sebagai eskalasi yang mengkhawatirkan dan pelanggaran langsung atas integritas teritorial Qatar.
DiCarlo juga mengamini, bahwa serangan tersebut berpotensi membuka babak baru yang berbahaya dalam konflik yang sudah menghancurkan ini.
“Setiap tindakan yang merusak mediasi melemahkan kepercayaan pada mekanisme penyelesaian konflik yang ada,” ujarnya.
DK PBB juga telah mengeluarkan sikap resminya atas serangan Israel ini pada Kamis (11/9). Tapi sayangnya, lagi-lagi, DK PBB seolah kehilangan taringnya.
Sebab, dalam pernyataan resminya, DK PBB tidak menyebut Israel dalam pernyataan yang disetujui oleh seluruh 15 anggota, termasuk sekutu Israel, Amerika Serikat.
Tel Aviv sendiri telah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, aksi ini sebagai operasi murni Israel.
Ia menyebut, serangan tersebut sebagai balasan atas serangan mematikan di Yerusalem sehari sebelumnya yang diklaim Hamas.
Hamas membenarkan bahwa putra kepala negosiatornya, Khalil Al-Hayya, termasuk di antara korban tewas, meski pimpinan senior dilaporkan selamat.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, dikutip dari Reuters, pejabat Hamas, Fawzi Barhoum mengatakan, serangan itu bukan hanya upaya untuk membunuh delegasi negosiasi, tetapi juga merupakan pukulan telak bagi keseluruhan proses negosiasi. Pesannya jelas menolak kesepakatan gencatan senjata.
“Serangan ini merupakan konfirmasi terang-terangan dari Netanyahu dan kelompok kriminalnya atas penolakan mereka untuk mencapai kesepakatan apa pun, dan desakan mereka untuk menggagalkan semua upaya regional dan internasional yang bertujuan menghentikan genosida,” tuturnya.
Kendati begitu, hingga kini, Hamas tersebut belum secara resmi mengumumkan akan menutup pintu bagi perundingan di masa mendatang.