← Beranda
Situasi Semakin Memanas, Pimpinan Politik Hamas dan Kelompok Mempelajari Usulan untuk Menghentikan Pertempuran di Gaza
Diki Febrianto• Kamis, 1 Februari 2024 | 00.07 WIB
Gambar keluarga Israel yang ditahan di Gaza, memblokir jalan dekat Kementerian Pertahanan Israel (nytimes.com)  

JawaPos.com - Pimpinan politik Hamas pada hari Selasa (30/1) menyatakan bahwa kelompoknya melakukan pertimbangan proposal untuk menghentikan pertempuran di Gaza. 

Tidak hanya itu, upaya selanjutnya yaitu dengan menukar sandera dengan tahanan Palestina.

Ismail haniyeh, salah satu pemimpin Hamas menyatakan keterbukaannya terhadap kesepakatan di dalam sebuah pernyataan.

Namun, tetap berpegang pada tuntunan lama dalam menarik total pasukan Israel dari Gaza, tetapi upaya tersebut mendapat penolakan dari pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu.

Dilansir dari nytimes.com, terdapat perwakilan dari empat negara, yaitu Amerika Serikat, Qatar, Mesir, dan Israel, yang berlangsung di Paris, membicarakan kerangka kerja awal yang dimulai dengan gencatan senjata.

Upaya tersebut akan dilakukan selama enam minggu yang bertujuan untuk dan memungkinkan pembebasan sandera lebih banyak. 

Ismail haniyeh menyatakan bahwa Hamas sedang mempelajari proposal dan berterima kasih kepada Mesir dan Qatar yang telah mengupayakan dan menyatakan dalam pernyataan, bahwa Hamas bersedia bekerja dengan kerangka kerja tersebut, jika membantu mencapai tuntutan. 

Baca Juga: Saraya Al-Quds Palestina Apresiasi Hizbullah Lebanon dan Yaman, Ancaman Israel Tidak Dihiraukan

Selain gencatan senjata, akan dilakukan penarikan pasukan Israel, sehingga Hamas dapat mengupayakan rekonstruksi Gaza, mencabut blokade Israel di wilayah tersebut, dan melakukan pembebasan tahanan Palestina oleh Israel. 

Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu segera menolak pernyataan tersebut, bahwa Israel tidak akan menarik militer dari Gaza atau membebaskan ribuan tahanan Palestina.  

Persetujuan pemimpin Hamas untuk mempertimbangkan proposal yang sebagian besar diajukan Israel, menimbulkan harapan bahwa mungkin ada kesepakatan, meskipun dari kedua belah pihak terkendala perbedaan yang besar.

Setelah pembicaraan oleh empat negara di Paris pada hari Minggu (28/1) terjadi kesepakatan agar Qatar menyampaikan kerangka kerja kepada Hamas.

Selain itu, Qatar akan mengusulkan penghentian perang dan Hamas dapat menukar beberapa sandera yang ditahan di Gaza dengan tahanan Palestina yang menjadi tahanan Israel.

Dalam kerangka kerja juga dijelaskan usulan, Hamas akan membebaskan sandera, mulai dari lanjut usia, perempuan, dan anak-anak, jika masih ada yang ditahan dengan keadaan hidup.

Baca Juga: Organisasi Ham Ungkap Genosida Israel di Palestina Berlanjut Melalui Penghentian Pendanaan UNRWA

Hal tersebut akan menjadi tahap pertama dari tiga tahap pertukaran yang mungkin dapat terlaksana. 

Selain itu, melalui pernyataan tambahan dari Ismail haniyeh, bahwa Hamas telah menerima undangan ke Kairo untuk membahas kerangka kesepakatan dari pertemuan di Paris.

Pertemuan keempat negara di Paris setidaknya dihadiri oleh William J. Burns selaku Direktur Central Intelligence Agency (CIA), Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani selaku PM Qatar, dan pejabat keamanan Israel.

PM Qatar menyatakan pada hari Senin (29/1) bawa ada kemajuan baik yang telah dicapai melalui negosiasi, yang disampaikan pada sebuah acara yang diselenggarakan Dewan Atlantik di Washington.

 ***

EDITOR: Novia Tri Astuti