← Beranda
Serangan Houthi pada Kapal Kargo AS Jadi Ancaman Baru bagi Pelayaran Komersial di Laut Merah
Mellyna Putri Diniar• Rabu, 17 Januari 2024 | 18.52 WIB
Ilustrasi foto Kapal Gibraltar Eagle./Fleetmon

 

JawaPos.com – Laut Merah merupakan jalur pelayaran komersial yang sangat penting untuk menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa melalui Terusan Suez.

Selain itu, Laut Merah juga kaya akan sumber daya alam seperti minyak, gas, dan ikan. 

Namun, Laut Merah kini menjadi medan perang antara kelompok milisi Houthi dan koalisi pimpinan AS dan Inggris.

Kelompok milisi Houthi terus menyerang pelayaran komersial, mengenai kapal kargo milik Amerika dengan rudal balistik sebagai bentuk penolakan terhadap serangan udara yang dilakukan oleh AS dan Inggris di Yaman. 

Serangan ini terjadi setelah AS mengumumkan koalisi angkatan laut untuk mempertahankan pelayaran di Laut Merah dari serangan Houthi. 

Houthi didukung oleh Iran, menguasai sebagian besar wilayah Yaman, dan juga sekutu utama Hamas di Gaza. Mereka bersumpah untuk terus menyerang kapal-kapal yang menuju ke Israel.

Houthi adalah kelompok milisi di Yaman. Mereka didukung oleh Iran dan menguasai sebagian besar wilayah Yaman. Mereka juga bersekutu dengan Hamas, kelompok militan Palestina, di Gaza. 

Hamas adalah kelompok militan Palestina yang berperang melawan Israel. Houthi dan Hamas sama-sama menentang Israel. Houthi menyerang kapal-kapal yang menuju ke Israel dengan rudal balistik.

Baca Juga: Houthi Diserang AS dan Inggris, Kemlu RI Pastikan Tak Ada WNI Terdampak

Melansir dari The Guardian pada Rabu (17/1), kelompok Houthi menyerang kapal kargo Gibraltar Eagle yang berbendera Kepulauan Marshall dengan rudal balistik. Serangan ini menunjukkan bahwa konflik di Yaman telah meluas dari Laut Merah ke Teluk Aden. 

Rudal balistik Houthi mengenai ruang muat kapal kargo milik AS. Kerusakan pada kapal tidak terlalu besar. Namun, serangan ini menimbulkan kekhawatiran baru.

Serangan udara AS dan Inggris di Yaman ternyata tidak efektif. Kelompok milisi Houthi masih bisa mengancam pelayaran komersial. Mereka menargetkan kapal-kapal yang menuju ke Israel atau membawa bantuan kemanusiaan.

Qatar menjadi pengguna kapal kargo terbaru yang mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengirim gas cair melalui Laut Merah untuk sementara waktu. 

Tingkat lalu lintas dikatakan telah menurun secara signifikan sejak serangan udara AS dan Inggris pada Kamis lalu. 

Houthi, kelompok Syiah di Yaman, telah berjuang untuk menguasai Yaman lebih dari 20 tahun. Mereka mengatakan, lebih dari 30 serangan ke kapal dagang dalam enam minggu terakhir adalah bagian dari upaya untuk menekan Israel agar mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. 

Mohammed Abdulsalam adalah negosiator utama Houthi. Pada Senin (15/1), Abdulsalam mengatakan bahwa Houthi tidak akan mengubah sikapnya. Serangan udara dari AS dan Inggris tidak akan membuat mereka takut.

Baca Juga: Serangan terhadap Houthi, Joe Biden Berjanji Bakal Memperkuat Pertahanan AS

Mohammed Abdulsalam juga mengatakan bahwa Houthi akan terus menyerang kapal-kapal yang menuju ke Israel. Mereka ingin menghentikan Israel dari menguasai Palestina. 

Mereka juga ingin membantu rakyat Palestina yang menderita di Gaza. Abdulsalam mengatakan, “Posisi kami tentang peristiwa di Palestina dan agresi terhadap Gaza tidak berubah dan tidak akan berubah, baik setelah serangan maupun setelah ancaman.”

Mohammed Abdulsalam melanjutkan keterangannya, “Serangan untuk mencegah kapal-kapal Israel atau yang menuju ke pelabuhan Palestina yang diduduki akan terus berlanjut.”

Serangan Houthi pada Senin (15/1) menimbulkan pertanyaan. Apakah aliansi angkatan laut AS-Inggris di lepas pantai Yaman harus melakukan serangkaian serangan lebih lanjut? Atau apakah mereka harus berhubungan secara aktif dengan pasukan darat PLC di Yaman?

PLC yang merupakan Dewan Kepemimpinan Presiden yang diakui PBB adalah pemerintah koalisi yang didukung oleh Saudi dan UAE. PLC berbasis di Aden, sebuah kota di Yaman.

Menteri Pertahanan Inggris, Grant Shapps, mengatakan bahwa serangan terhadap Houthi yang dilakukan pada Kamis malam dimaksudkan sebagai tindakan terbatas dan bukan serangkaian serangan berkelanjutan.

Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak, menuturkan kepada anggota parlemen bahwa ia berharap Houthi akan mundur setelah tanggapan yang diperlukan dan proporsional.

Tetapi Ia menegaskan, “Inggris tidak akan ragu-ragu untuk melindungi keamanan dan kepentingan kami.”

Baca Juga: Diserang oleh Amerika dan Inggris, Berikut Sejarah Gerakan Houthi yang Melancarkan Aksi Protes Terhadap Perang Gaza

Serangan Houthi ke kapal dagang AS-Inggris di Laut Merah menunjukkan bahwa konflik di Yaman tidak hanya berdampak pada negara itu sendiri, tetapi juga pada kepentingan global. 

Serangan-serangan ini mengancam keamanan dan stabilitas pelayaran komersial di Laut Merah, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan dunia. 

Gempuran-gempuran ini juga menunjukkan bahwa Houthi tidak gentar dengan serangan udara AS dan Inggris, yang bertujuan untuk menghentikan ancaman Houthi terhadap Israel dan Palestina. 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti