JawaPos.Com— Pada Minggu (5/11), Menurut seorang pejabat Palestina, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken menolak permintaan Mahmoud Abbas yang merupakan Presiden Palestina terkait gencatan senjata di Jalur Gaza.
Dilansir melalui ANTARA, pada Senin (6/11), Kepada Xinhua, pejabat tersebut mengatakan bahwa Blinken menegaskan kembali bahwa hal itu merupakan "hak Israel untuk mempertahankan diri dan melanjutkan kampanye militernya" di Gaza.
Hal tersebut dikatakan dalam pertemuan Blinken dengan Abbas di Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina.
Baca Juga: Tolak Gencatan Senjata di Gaza, Turki Tarik Dubes dari Israel
Diketahui, Blinken berkunjung ke Ramallah berlangsung sekitar satu jam.
Dirinya bertemu dengan Abbas beserta para ajudan seniornya untuk mendiskusikan soal konflik Israel-Hamas yang sedang berlangsung.
Pejabat itu juga mengatakan bahwa Blinken telah berjanji untuk menekan Israel agar tidak membahayakan warga sipil dan menyediakan tempat yang aman bagi bantuan kemanusiaan, tetapi Blinken menolak untuk membahas soal gencatan senjata pada tahap ini.
Baca Juga: Menlu AS Temui Presiden Palestina di Tepi Barat, Blinken Tolak Lakukan Gencatan Senjata
Dilansir melalui Al-Jazeera, Senin (6/11), Blinken mengatakan AS berkomitmen untuk memberikan bantuan ke Gaza dan memulihkan layanan penting usai Israel memutus akses terhadap makanan, air, dan listrik di daerah yang terkepung itu.
Namun, AS menentang gencatan senjata serta hanya menyetujui adanya jeda untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan dan mengizinkan sebagian warga keluar dari Gaza melalui perbatasan Rafah yang dikuasai Mesir.
Selain itu, pejabat tersebut juga mengatakan bahwa Abbas dan Blinken sepakat dengan solusi dua negara dan mengusahakannya usai konflik di Gaza berakhir.
Baca Juga: Unjuk Rasa Pro Palestina Penuhi Washington DC, Serukan Gencatan Senjata
Konflik Israel-Hamas, telah berlangsung selama hampir satu bulan telah menewaskan 9.770 warga Palestina di Gaza.
Sementara di Israel, 1.400 orang telah menjadi korban jiwa, sebagian besar akibat serangan militer Hamas ke Israel pada 7 Oktober lalu, yang memicu konflik yang sedang berlangsung hingga saat ini.