JawaPos.com - Gaza disulap oleh serangan Israel menjadi abu dengan hancurnya gedung-gedung dan rumah-rumah warga.
Orkestra kekejaman Israel tengah berlangsung menampilkan pembantaian massal di Gaza.
Hingga hari ke-27, kampanye genosida Israel telah menelan 9.061 korban jiwa.
Dengan paling besar adalah anak-anak dan perempuan. Korban jiwa anak-anak mencapai 3.760 anak-anak.
Sementara korban perempuan menyentuh angka 2.326.
Selain korban jiwa, terdapat 32.000 orang mengalami luka-luka dan 2.060 orang dinyatakan hilang di bawah reruntuhan bangunan.
Dari korban yang dinyatakan hilang, 1.150 di antaranya adalah anak-anak atau lebih dari separuh total korban yang dinyatakan hilang.
Juru bicara Unicef, James Elder mengemukakan, "Gaza telah berubah menjadi kuburan ribuan anak-anak."
Selain itu James Elder mengatakan, “Lebih dari satu juta anak di Gaza juga mengalami krisis air. Kapasitas produksi air di Gaza hanya 5 persen dari produksi harian biasanya. Kematian anak, khususnya bayi, akibat dehidrasi merupakan ancaman yang semakin besar”.
Sementara di sisi lain, pertempuran sengit terjadi antara militer Israel dan Hamas. Eskalasi di Gaza itu telah menewaskan 16 tentara Israel.
Dalam serangan Israel ke kamp Jabalia yang merupakan kamp terbesar dari 8 kamp di Gaza mengklaim telah menewaskan seorang komandan Hamas.
Serangan Israel terhadap kamp Jabalia sedikitnya memakan korban 1.000 orang tewas, terluka, dan hilang.
Dengan laporan dari Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, 195 korban jiwa, 777 luka-luka, dan 120 orang hilang.
Nasib memprihatinkan menimpa rumah sakit di Gaza yang terancam berhenti beroperasi karena kehabisan bahan bakar.
Rumah sakit Indonesia mengalami pemadaman listrik akibat kehabisan generator.
Di sisi lain, perkembangan global menunjukkan Bahrain menjadi negara yang menyusul memutus hubungan diplomatik dengan Israel setelah Kolombia, Chile, dan Bolivia melakukannya lebih dulu.
Sementara Iran mendesak sanksi terhadap Israel dan melalui Menteri Luar Negerinya Iran dan Turki memperingatkan terhadap perluasan perang dari eskalasi yang semakin meningkat di Gaza.
Sementara AS menolak gencatan senjata di Gaza dan memilih "Jeda Kemanusiaan di Gaza."
Presiden Joe Biden mengatakan bahwa dia mendukung jeda kemanusiaan untuk mengizinkan bantuan masuk dan memberikan waktu untuk mengeluarkan sandera.