JawaPos.com - Kelompok Hamas yang menyandera tentara Israel dan warga sipil telah mengancam akan mengeksekusi seorang tawanan untuk setiap rumah di Gaza yang diserang.
Namun ketika malam tiba, pada hari Selasa lalu sampai hai ini, diketahui tidak ada indikasi bahwa mereka telah melakukan eksekusi tersebut.
Menyusul serangan Hamas, Reuters melaporkan, Israel telah merobohkan sebagian wilayah Gaza sebagai aksi balas dendam.
Israel mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan serangan terburuk Hamas dalam sejarah 75 tahun konflik mereka dengan Palestina. Serangan darat pun kini tidak dapat dihindari.
Masih dilansir dari Reuters, JawaPos.com menghimpun fakta-fakta terkait serangan Hamas dan Israel yang harus diketahui dari berbagai sudut pandang:
Baca Juga: Playboy Pecat Mia Khalifa, Imbas Postingan Dukung Palestina dalam Serangan Hamas Terhadap Israel
Jumlah korban tewas tercatat mencapai lebih dari 1.200 orang di Israel, dan setidaknya 900 orang Palestina.
Israel memanggil 300.000 tentara cadangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mengatakan mereka siap berperang.
Seorang kepala hak asasi manusia PBB mengutuk pembunuhan massal mengerikan yang dilakukan oleh anggota kelompok bersenjata Palestina, serta pengepungan yang membahayakan nyawa warga sipil yang dilakukan Israel.
Kemudian seorang pengacara dari Austria mengatakan pengepungan dan penculikan sandera melanggar hukum internasional.
Polisi mengatakan Israel telah membekukan akun mata uang kripto yang digunakan untuk meminta sumbangan untuk kelompok militan Hamas di media sosial.
Beberapa reaksi internasional pun terekam selama konflik dan penyerangan antara Hamas dan Israel berlangsung.
Antara lain, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyebut serangan Hamas sebagai tindakan yang sangat jahat, dan setidaknya 14 warga AS terbunuh.
Baca Juga: Respons Konflik Hamas dan Israel, Gal Gadot Minta Warganet Dukung Israel hingga Membuka Donasi
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, akan tiba di Israel pada hari Kamis, untuk menunjukkan solidaritas.
Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa bertemu untuk mencoba menyelesaikan perpecahan mengenai apakah akan melanjutkan pembayaran bantuan kepada Palestina.
Mesir berupaya mencegah eksodus massal ke selatan Jalur Gaza, ketika pengeboman Israel menghalangi dan menghentikan penyeberangan.
Pemimpin oposisi Partai Buruh Inggris, Keir Starmer, mengatakan bahwa Hamas tidak melakukan apa pun untuk rakyat Palestina, dan Israel harus selalu mempunyai hak untuk membela rakyatnya.
Alumni Universitas Harvard mengecam pernyataan mahasiswa pro-Palestina yang menyalahkan rezim apartheid Israel dan kependudukan selama beberapa dekade atas ledakan kekerasan yang terjadi.
Baca Juga: Tanggapi Perang Hamas dan Israel, Gigi Hadid Prihatin: Banyak Nyawa Tak Berdosa Jadi Korban
Secara pasar dan bisnis, investor mewaspadai lonjakan harga minyak di tengah gejolak Timur Tengah.
Saham global terlihat naik, namun kekerasan di Israel membuat perdagangan menjadi tegang.
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, mengatakan konflik Gaza adalah guncangan ekonomi yang tidak diperlukan oleh dunia.
Pesatnya penyebaran klaim menyesatkan dan gambar palsu telah menempatkan fokus pada media sosial X milik Elon Musk.
Uni Eropa mendesak Elon Musk untuk mengatasi penyebaran disinformasi pada media sosial X setelah serangan Hamas.***