← Beranda
Kisah Cinta Abadi Kartolo-Kastini: dari Panggung Ludruk RRI Berujung Janji Sehidup Semati
Novia HerawatiKamis, 3 September 2026 | 16.20 WIB
Kartolo dan Kartini atau Ning Tini bertemu kali pertama di panggung Ludruk RRI. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)

Jauh sebelum nama Kartolo CS tenar, seniman ludruk legendaris Kartolo dan sang istri, Kastini sudah lebih dulu berbagi panggung, dan berujung kisah cinta abadi.

JawaPos.com - Bila para penggemar kesenian ludruk diminta menyebut satu nama seniman, hampir pasti Kartolo akan jadi yang teratas.

Bersama sang istri, Kastini, kini ia tengah berjuang untuk mempertahankan kesenian ini agar tak kehilangan panggung.

Namun, di balik perjuangan itu teriring pula satu kisah cinta abadi antara Kartolo dan Ning Tini, sapaan akrab Kastini.

Baca Juga: Pesan Kemerdekaan dari Seniman Ludruk Kartolo: Berikan Panggung untuk Generasi Penerus

Dari awalnya sekadar berbagi panggung seni, keduanya memutuskan untuk mengikat janji sehidup semati.

Pertemuan mereka terjadi saat Cak Kartolo, sapaan karibnya, tengah meniti karir sebagai seniman ludruk pada tahun 1968-1980. Selama 12 tahun, panggung menjadi ruang belajar bagi Kartolo muda.

"Saya keliling Jawa Timur. Saya sudah panggung ke seluruh Jawa Timur selain Pacitan," kata peludruk legendaris tersebut dengan bangganya, saat ditemui di kediamannya di kawasan Kupang Jaya I, Surabaya, baru-baru ini.

Selama periode tersebut, Kartolo kerap berpindah dari satu kelompok ke kelompok ludruk lain.

Mulai dari Ludruk Dwikora, KKO Gajah Mada, Bintang Surabaya, Kancat Resno, RRI Surabaya hingga Persada Malang.

Baca Juga: Arsip Kiprah Cak Kartolo Resmi Jadi Memori Kolektif Bangsa, Surabaya Raih Tiga Penghargaan Nasional Kearsipan 2026

Bagi seniman asal Prigen, Pasuruan ini, setiap pementasan menyimpan cerita yang berbeda-beda.

Namun, bergabung dengan Ludruk RRI Surabaya pada 1971 menjadi salah satu momen paling berkesan, karena di situlah ia bertemu sang pujaan hati, Ning Tini, sapaan karib Kastini.

Kartolo Jadi Menantu Budayawan

Ning Tini merupakan penari sekaligus putri budayawan Cak Basman. Sebelumnya, ia kerap tampil sebagai penari dalam sejumlah pementasan ludruk yang disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI).

Pertemuan keduanya di panggung kemudian berkembang menjadi pasangan dalam berbagai lakon.

Cak Kartolo dan Ning Tini kerap dipasangkan sebagai pemeran dalam cerita ludruk, salah satunya Sam Pek Eng Tay.

Baca Juga: Peringati 100 Tahun Ali Sadikin, 35 Seniman Gelar Pameran Arsip di TIM

"Awalnya saya penari, terus ditawari RRI main ludruk, saya coba, ternyata bisa. Lalu ketemu sama Kartolo. Terus sama abah (panggilan romantis Tini untuk Kartolo) itu sering meranin pasangan cerita," ucap Ning Tini malu-malu.

Pernikahan mereka pada 1974 pun tak lepas dari kelucuan khas pasangan pelundruk ini. Ketika ditanya soal romantisme, Tini hanya tertawa dan melihat ke arah Kartolo yang duduk di sampingnya.

Sementara Cak Kartolo, menjawab dengan guyonan bahwa bunga yang diberikan kepada Tini bukan bunga romantis, melainkan “Bunga tembelekan (Lantana camara)," katanya, disambut gelak tawa Ning Tini.

Dari panggung ludruk RRI, kebersamaan Cak Kartolo dan Ning Tini berlanjut dalam kehidupan rumah tangga.

Mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni Agus Slamet, Gristia Ningsih, dan Dewi Trianti.

Baca Juga: Ketika Seniman Bicara Seni dan AI, Akankah Teknologi Menggantikan Kreativitas Manusia?

"Makanya sekarang kalau ada ludruk RRI disiarkan menangis saya. Riwayat saya di situ, saya senang. Itu kurungan emas di dalamnya. Ketemunya (jodoh, yaitu Ning Tini) juga di RRI," timpal Kartolo, dengan mata tampak berkaca-kaca.

Kartolo CS, Cara Kartolo Menjaga Guyonan Jawa Timuran

Memasuki dekade 1980-an, perkembangan radio dan televisi mengubah kebiasaan masyarakat menikmati hiburan. Ludruk tobong yang sebelumnya dipadati penonton mulai kehilangan peminatnya.

Kartolo pun menerima tawaran Nirwana Records Surabaya untuk merekam lawakan bersama kelompoknya.

Sejak saat itu, ia meninggalkan panggung ludruk lama dan lebih banyak tampil sebagai grup lawak Kartolo CS.

“Ludruk sama lawak itu beda. Kalau ludruk paling tidak 40 orang (untuk satu kali pentas), kalau lawak lima orang saja cukup. Yang penting ada yang 'makan' celetukan atau guyonan, sudah semua (penonton) ketawa," tutur Kartolo.

Baca Juga: Christopher Lehmpfuhl Mengungkapkan Kesamaan Seniman dari Indonesia dan Jerman 

Kartolo CS awalnya beranggotakan Kartolo, Ning Tini, Sumilah, Yakin, Munawar, dan Sapari.

Dalam perjalanannya, komposisi tersebut berubah seiring waktu hingga tersisa Kartolo, Tini, Sapari, dan Slamet.

Pada September 2022, Cak Sapari, sahabat seperjuangan Kartolo, menghembuskan napas terakhirnya.

Meski format pertunjukan berubah, karakter banyolan Jawa Timuran dan jula-juli tetap melekat pada Kartolo Cs.

"Sampai sekarang, saya dan Pak Kartolo sesekali masih tampil, kalau diundang. Tetapi ya tidak sesering dulu. Kalau dulu sebulan bisa lebih dari 20 kali pentas. Seharinya bisa pindah dua sampai tiga panggung," ucap Ning Tini.

Baca Juga: Kain Sisa Jadi Karya Seni Bernilai, PURANA Gandeng Seniman dalam ‘Renjana Perca’

Bagi Cak Kartolo dan Ning Tini, perubahan zaman bukan alasan untuk menganggap ludruk selesai.

Ludruk masih tetap hidup, hanya saja, ruang tampilnya tidak sebanyak dulu ketika seni lakon ini menjadi primadona masyarakat. (*)

 

 

EDITOR: Bayu Putra