← Beranda
Dua Lipa Klarifikasi Isu Pemecatan Manajernya yang Disebut Bermotif Politik Karena Pro-Israel
Risma Azzah FatinKamis, 25 September 2025 | 04.33 WIB
Dua Lipa. (Instagram @dualipa)

JawaPos.com – Dua Lipa dan perusahaan manajemennya membantah laporan yang menuduh pemecatan manajer karena sikap pro-Israel.

Dilansir dari laman Stereogum pada Rabu (24/9), Rumor tersebut berasal dari Daily Mail dan menuding Lipa memecat manajernya, David Levy, karena penolakannya terhadap aktivisme pro-Palestina di industri musik.

Isu ini sempat mendapat perhatian luas setelah kelompok musik Kneecap memperkuat kabar tersebut.

Baca Juga: Dua Lipa Pecat Agennya yang Melarang Musisi Pro-Palestina Tampil di Festival Glastonbury

Menurut laporan, Levy disebut terlibat dalam upaya penghapusan Kneecap dari daftar penampil di Glastonbury.

Tindakan itu dikaitkan dengan kritik mereka terhadap kampanye genosida Israel di Gaza. Namun, Lipa menegaskan bahwa tuduhan itu sepenuhnya tidak benar.

Pihak manajemen Lipa, WME, menyatakan bahwa Levy tidak lagi terlibat dalam urusan bisnis harian sang penyanyi sejak 2019.

Baca Juga: Jennie Blackpink Rilis Teaser Album Solo Pertamanya, Ada Duet Bareng Dua Lipa!

WME juga menjelaskan bahwa Levy telah menghapus akun Lipa dan beberapa proyek lain pada awal tahun ini. Dengan demikian, tidak ada dasar bahwa Lipa memecatnya karena alasan politik.

David Levy sendiri pernah berperan penting pada awal karier Lipa antara 2016 hingga 2019. Saat pindah dari London pada 2019, ia hanya menjadi penasihat dan berhenti menangani aktivitas harian penyanyi tersebut. Ia kemudian sepenuhnya mundur dari proyek Lipa pada awal tahun 2025.

Dalam sebuah unggahan Insta Story, Lipa mengkritik pemberitaan yang dinilainya memecah belah publik.

Lipa menegaskan bahwa kabar pemecatan karena pandangan politik Levy adalah tidak benar sama sekali. Menurutnya, media sengaja menulis berita provokatif demi menarik perhatian pembaca.

Lipa juga menegaskan dukungannya pada kebebasan Palestina. Ia menyatakan bahwa mengeksploitasi tragedi global demi kepentingan sensasi adalah hal yang meresahkan.

Bahasa yang digunakan oleh Daily Mail disebutnya hanya demi clickbait dan memicu perpecahan daring.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho