JawaPos.com - Jasmine Haditono dan Jady Sutrisno menghadirkan cara kreatif untuk membantu pendidikan anak-anak dari keluarga prasejahtera melalui inisiatif nirlaba bernama Cita Kita. Berbekal kecintaan terhadap literasi, pendidikan, dan kegiatan sosial, keduanya mengajak anak-anak menuangkan imajinasi menjadi cerita dan ilustrasi yang diterbitkan dalam sebuah buku.
Program tersebut bukan sekadar kegiatan menulis untuk anak-anak. Melalui penjualan buku, karya yang mereka hasilkan juga menjadi sarana penggalangan dana untuk mendukung kebutuhan pendidikan di lingkungan tempat mereka tinggal dan belajar.
Inisiatif yang digagas oleh dua sahabat sejak kecil ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk belajar, mengembangkan kreativitas, dan memperjuangkan cita-citanya, tanpa dibatasi kondisi sosial maupun ekonomi keluarga.
Nama Cita Kita, yang berarti Our Dreams atau Mimpi Kita, merepresentasikan semangat tersebut. Anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai individu yang memiliki gagasan, kemampuan, dan karya yang layak mendapat apresiasi.
Baca Juga: Mental Ruben Onsu Terganggu dengan Unggahan Sarwendah Soal Rekaman Video Call
Berawal dari Kepedulian terhadap Akses Pendidikan Anak
Jasmine Haditono dan Jady Sutrisno melihat bahwa ketimpangan akses pendidikan masih menjadi tantangan bagi anak-anak dari komunitas kurang mampu di Indonesia. Bantuan berupa donasi memang dapat meringankan kebutuhan, tetapi keduanya ingin menghadirkan pendekatan yang juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang melalui kemampuan mereka sendiri.
Dari pemikiran itu, lahirlah gagasan untuk menggabungkan pendidikan, literasi, kreativitas, dan kewirausahaan sosial dalam satu program.
Mereka merancang kegiatan yang memungkinkan anak-anak menulis cerita berdasarkan imajinasi masing-masing, membuat ilustrasi, kemudian menerbitkan karya tersebut menjadi buku fisik yang dapat dibeli masyarakat.
Model ini memberikan dua manfaat sekaligus. Anak-anak memperoleh pengalaman belajar dan kesempatan menunjukkan kemampuan kreatif, sementara hasil penjualan buku digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan.
Pendekatan tersebut menjadi pembeda Cita Kita dari kegiatan penggalangan dana yang hanya mengandalkan sumbangan. Dalam program ini, anak-anak turut mengambil peran aktif melalui karya yang mereka ciptakan sendiri.
Libatkan 13 Anak sebagai Penulis dan Ilustrator
Proyek perdana Cita Kita melibatkan 13 anak dari komunitas kurang mampu dan panti asuhan di Jakarta. Mereka berasal dari lingkungan Panti Asuhan Yatim & Dhuafa Mizan Amanah, Asrama Asuh Dompet Yatim dan Dhuafa di Cilandak.
Jasmine dan Jady mengadakan lokakarya edukatif untuk memperkenalkan dasar-dasar menulis kreatif dan ilustrasi. Anak-anak mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan ide, membangun alur cerita, menciptakan karakter, menyusun narasi, hingga menerjemahkan imajinasi mereka ke dalam gambar.
Proses tersebut dirancang agar anak-anak dapat mengeksplorasi gagasan secara mandiri. Pendiri Cita Kita memberikan arahan dan bimbingan, sedangkan cerita serta ilustrasi yang dimuat dalam buku merupakan karya orisinal para peserta.
Karya-karya itu kemudian dikumpulkan dan dipersiapkan untuk diterbitkan secara profesional menjadi buku fisik.
Bagi 13 anak yang terlibat, pengalaman tersebut membuka kesempatan untuk merasakan proses kreatif yang lebih utuh. Mulai dari menemukan ide hingga melihat hasil karyanya hadir dalam sebuah buku yang dapat dibaca masyarakat luas.
Lebih dari sekadar meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk membangun rasa percaya diri. Mereka dapat melihat bahwa ide, pengalaman, dan imajinasi yang dimiliki mempunyai nilai dan pantas diapresiasi.
Terjual 530 Eksemplar, Hasilkan Laba Sekitar Rp30 Juta
Buku perdana Cita Kita dipasarkan dengan harga Rp60.000 per eksemplar. Dari proyek tersebut, sebanyak 530 buku berhasil terjual kepada pendukung yang berasal dari lingkungan sekolah para pendiri hingga masyarakat yang lebih luas.
Capaian tersebut dilaporkan menghasilkan laba sekitar Rp30 juta. Seluruh laba dari penjualan buku disalurkan kepada panti asuhan yang berpartisipasi untuk mendukung kebutuhan pendidikan anak-anak.
Dana tersebut diperuntukkan bagi berbagai kebutuhan, termasuk beasiswa, perlengkapan sekolah, sumber belajar, serta kebutuhan penting lainnya yang menunjang kegiatan pendidikan.
Penjualan buku menjadi bagian penting dari upaya Cita Kita mempertemukan kreativitas anak-anak dengan partisipasi masyarakat. Dukungan tidak hanya diberikan melalui donasi langsung, tetapi juga dengan membeli dan mengapresiasi karya yang mereka hasilkan.
Keberhasilan menjual buku ini memperlihatkan potensi karya kreatif sebagai sarana untuk membangun kepedulian sosial. Buku yang dihasilkan anak-anak bukan hanya menjadi produk literasi, melainkan juga media untuk menghubungkan pembaca dalam upaya mendukung pendidikan.
Namun, nilai utama program ini tidak semata-mata terletak pada jumlah buku yang terjual atau dana yang terkumpul. Hal yang membedakannya adalah keterlibatan anak-anak dalam proses yang menghasilkan manfaat dan kreativitas mereka sendiri.
Menggabungkan Literasi dengan Kewirausahaan Sosial
Cita Kita memperlihatkan bagaimana kegiatan literasi dapat dikembangkan menjadi program pemberdayaan yang memiliki manfaat sosial lebih luas.
Dalam proses pembuatan buku, anak-anak belajar mengembangkan ide, menyampaikan gagasan, menyusun cerita, serta menuangkan pemikiran dalam bentuk visual. Mereka juga mendapatkan pengalaman mengenal proses penerbitan dan memahami bahwa sebuah karya kreatif dapat menjangkau pembaca di luar lingkungan mereka.
Di sisi lain, penjualan buku memperkenalkan model kewirausahaan sosial, yakni pemanfaatan kegiatan yang memiliki nilai ekonomi untuk mendukung tujuan sosial.
Melalui pendekatan tersebut, kreativitas tidak berhenti sebagai aktivitas belajar di ruang lokakarya. Karya anak-anak memperoleh kesempatan untuk diapresiasi oleh masyarakat sekaligus berkontribusi pada pembiayaan pendidikan.
Model seperti ini juga menekankan pentingnya partisipasi komunitas. Dukungan dari pembeli, keluarga, teman, lingkungan sekolah, dan masyarakat menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat program.
Bagi anak-anak peserta, keterlibatan tersebut dapat menjadi pengalaman berharga untuk memahami bahwa karya mereka mampu menjangkau orang lain dan memiliki dampak nyata.
Siapkan Buku Volume Kedua
Setelah buku pertamanya berhasil terjual sebanyak 530 eksemplar, Cita Kita tengah mempersiapkan penerbitan Volume 2 dalam waktu dekat.
Rencana tersebut menjadi langkah lanjutan bagi Jasmine dan Jady untuk menjaga keberlangsungan inisiatif yang mereka bangun. Penerbitan buku berikutnya diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan menulis, ilustrasi, dan kreativitas.
Selain melalui penerbitan buku, Cita Kita juga menaruh harapan pada keberlanjutan lokakarya pendidikan serta kolaborasi dengan komunitas yang membutuhkan dukungan.
Dengan memperluas keterlibatan peserta dan dukungan masyarakat, program ini berpeluang menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan ruang untuk belajar, berkarya, dan mengenali potensinya.
Meski demikian, perluasan program tentu membutuhkan dukungan yang berkelanjutan, baik dalam pendampingan pendidikan, pengembangan karya, maupun pemasaran buku. Konsistensi dalam menjalankan program akan menjadi bagian penting untuk menjaga agar manfaat yang dihasilkan tidak berhenti pada satu proyek.
Setiap Anak Berhak Memiliki Mimpi
Kisah Cita Kita menunjukkan bahwa kontribusi terhadap pendidikan dapat dimulai melalui gagasan sederhana yang dijalankan dengan tujuan jelas.
Baca Juga: Profil Alda Callista, Putri Papua Pertama yang Jadi Juara Miss Indonesia
Jasmine Haditono dan Jady Sutrisno memilih jadikan cerita dan ilustrasi anak-anak sebagai titik awal untuk membangun program yang menggabungkan literasi, kreativitas, dan kepedulian sosial.