← Beranda
Membaca Peristiwa Kemerdekaan dan Era Revolusi Lewat Karya Sastra Sezaman
Diar Candra TristiawanMinggu, 30 Agustus 2026 | 19.06 WIB
Sastrawan Andy SW (kanan) membacakan Surabaya karya Idrus di JBS. (Diar Candra/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Momen Agustusan, toko buku alternatif di Jogja, Jual Buku Sastra (JBS), menggelar acara khusus pada Sabtu (29/8), bertajuk Parade Sastra JBS 2026: Merekam Sastra Era 1945-1950.

Toko buku yang terletak di kawasan Jogja selatan itu menggelar pembacaan atas delapan karya sastra yang tercipta atau punya zeitgeist (jiwa zaman) periode revolusi.

Karya sastra dari era 1945-1950 yang dipentaskan itu bisa berupa puisi, naskah drama, ataupun prosa. Parade Sastra JBS 2026: Merekam Sastra Era 1945-1950 merupakan bagian dari program Penguatan Komunitas Sastra 2026 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Baca Juga: Kedubes Palestina di Indonesia Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa di NTT

Nah, delapan karya sastrawan yang dibaca atau diinteprestasikan adalah Dari Dua Dunia Belum Sudah karya Rivai Apin yang dibacakan ulang Kedung Darma Romansha. Lalu Persetujuan dengan Bung Karno karya Chairil Anwar dibaca Bayu Aji Setiawan.

Ada Surabaya karya Idrus yang dibacakan Andy SW. Lantas Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani yang dipentas monologkkan oleh Ficky Tris Sanjaya. Ada Kejatuhan dan Hati karya S. Rukiah yang dibacakan Tiaswening Maharsi.

Juga ada Larasati karya Pramoedya Ananta Toer yang dibawakan Eka Nusa Pertiwi. Kemudian Jangan karya Sabarjati dibawakan Jessica Ayudya Lesmana. Lalu Manusia Bebas karya Suwarsih yang dipentaskan Aik Vela.

Baca Juga: Mengenal Santa Agatha, Martir Perawan yang Mengalami Penyiksaan Berat Akibat Menolak Lamaran

Ketua penyelenggara Parade Sastra JBS 2026: Merekam Sastra Era 1945-1950 Mutia Sukma mengatakan, delapan karya terpilih buat dibacakan adalah hasil kurasi ketat.

Delapan karya yang dubacakan ini lahir sebagai ikhtiar meluaskan cakrawala pembacaan pada sastra Indonesia era revolusi.

“Harapannya, pengetahuan masyarakat soal sastra angkatan 1945 itu tidak hanya berkutat di Chairil Anwar atau Asrul Sani. Ada banyak nama lain yang karya-karyanya terlupakan atau terpinggirkan,” kata Sukma.

Misalnya dalam Surabaya karya Idrus yang dibacakan Andy SW.

Karya Idrus itu merekam bagaimana suasana batin serta memotret pergolakan yang terjadi di Surabaya pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Ibu dua anak itu lantas mencontohkan karya Sabarjati yang berjudul Jangan. Puisi karya sastrawan perempuan itu tidak banyak dibicarakan orang karena tidak sempat dibukukan.

Baca Juga: Salai Jin dan Jejak Pasukan Elite Hiri dalam Perlawanan terhadap Portugis

“Jadi, ada banyak faktor ya salah satunya karena tidak dibukukan sehingga penulis atau sastawan itu terlupakan atau terpinggirkan dari panggung sastra Indonesia,” ungkap Sukma lagi.

Dalam rilis resmi Kementerian Kebudayaan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan komunitas sastra adalah penggerak utama ekosistem sastra di berbagai wilayah Indonesia. Komunitas sastra ini menjadi penghubung karya, pembaca, dan ruang tempat lahirnya penulis-penulis muda.

“Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem sastra Indonesia, salah satunya dengan mendorong komunitas-komunitas sastra di Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang seiring zaman. Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal sebagai sarana mencerdaskan bangsa,” kata Fadli Zon. 

Baca Juga: 35 Lansia di Surabaya Asyik Bermain hingga Membuat Gelang Manik-Manik

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah