← Beranda
Makna Hari Raya Maria Diangkat ke Surga bagi Umat Katolik: Sejarah, Penemuan dan Renungan
Alberta Dionny NatanuelSenin, 17 Agustus 2026 | 21.45 WIB
Lukisan The Assumption of the Virgin oleh Michael Sittow (1500) (www.nga.gov)

 

JawaPos.com - Ada banyak sekali peristiwa besar dalam sejarah agama Kristen yang tercatat dan tidak tercatat dalam Alkitab. Salah satunya adalah peristiwa diangkatnya Maria, bunda Yesus, ke surga. 

Bagi banyak umat Kristen, terutama dalam Gereja Katolik, Bunda Maria adalah sosok penting dalam sejarah berdirinya gereja. Beliau juga adalah sosok penting yang menjadi panutan banyak umat Katolik. 

Karena itu, peristiwa penting seperti naiknya sang bunda ke surga adalah sebuah peristiwa besar dalam gereja. 

Baca Juga: Bacaan Misa Gereja Katolik Minggu, 16 Agustus 2026: Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Sejarah Hari Raya

Dilansir dari Franciscan Media, pada tanggal 1 November 1950, Paus Pius XII menetapkan dogma iman mengenai kenaikan Maria ke surga. Beliau mengatakan bahwa gereja Katolik menyatakan dan menetapkan sebagai dogma bahwa Bunda Maria setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, tubuh dan jiwanya diangkat ke dalam kemuliaan surgawi. 

Paus menyatakan dogma ini hanya setelah melakukan konsultasi luas dengan para uskup, teolog, dan kaum awam. Hanya sedikit dari mereka yang memiliki pendapat berbeda. 

Homili, atau pidato renungan dari pastor, tentang kenaikan Maria ke surga sudah ada dan ditemukan sejak abad ke enam. 

Pada abad-abad berikutnya, gereja-gereja Timur tetap teguh memegang doktrin tersebut, dimana gereja Barat mulai meragukannya. Hingga pada abad ke-13 dicapai kesepakatan umum. 

Penemuan Arkeolog

Dilansir dari Catholic.com, para arkeolog telah menemukan dua makam yang diyakini adalah milik Maria - satu di Yerusalem, dan satu di Efesus. Kedua tempat tersebut pernah menjadi kota tempat tinggal Maria. 

Akan tetapi, para arkeolog tidak bisa berargumen lebih karena tidak ditemukan jenazah apa pun di dalam kedua makam tersebut. Bahkan tidak ada relik ataupun peninggalan apa pun. 

Para umat gereja awal memiliki kepercayaan pada persekutuan orang-orang kudus dan kesucian tubuh, akibatnya mereka menjadi sangat tertarik terhadap relik-relik tubuh orang-orang kudus. 

Sehingga sering terjadi perebutan tulang belulang orang-orang suci, dan bagaimana banyak gereja, institusi atau organisasi dapat memiliki serta menyimpan berbagai relik-relik dari para rasul, martir dan orang-orang suci. Namun tidak ada satupun relik dari Bunda Maria. 

Pastor A.A. Wenger mempublikasikan buku "L'Assomption" (1955) dimana ia menjelaskan bahwa ia menemukan sebuah naskah Yunani yang membenarkan apa yang sebelumnya diyakini benar oleh para ahli. 

Perlu diketahui ada berbagai naskah dari berbagai belahan dunia yang juga berasal dari abad keenam dan memuat kisah serupa mengenai peristiwa Pengangkatan Maria. 

Dari berbagai naskah tersebut, Pastor Wenger menemukan satu yang diyakini adalah sumber Yohanes dari Tesalonika dalam ajarannya mengenai peristiwa tersebut. 

Lalu belum lama ini ditemukan pula fragmen-fragmen berbahasa Suryani yang memuat kisah-kisah tentang Pengangkatan Maria. Penemuan tersebut diperkirakan berasal dari periode awal abad ketiga. 

Misteri Ini Menurut Paus Leo Melalui Seni

Dilansir dari Vatican News, Paus Leo XIV memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga sebagai dengan mengajak para umat untuk merenungkan tujuan akhir mereka, yaitu kepenuhan hidup kekal di dalam Allah. 

Paus Leo merenungkan dua cara utama para seniman menggambarkan misteri Pengangkatan Bunda Maria ke Surga selama ini. 

Tradisi pertama dan tertua menggambarkan peristiwa "tertidurnya" Bunda Maria. Dalam gambar-gambar ini, Maria berbaring di tempat persemayaman, dikelilingi oleh para Rasul yang sedang berdoa. Lalu ada Yesus yang telah bangkit, mendekat jiwa Maria dalam pelukan-Nya seperti bayi baru lahir. 

Paus Leo menjelaskan bahwa gambar tersebut memperlihatkan Kristus datang untuk membawa Maria dalam kemuliaan surga. Pada momen itu Yesus menggenapi janji-Nya kepada para murid: "Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat dimana Aku berada, kamu pun berada."

Tradisi kedua berkembang kemudian di Barat, disini kita dapat melihat Maria berdiri di Surga, dikelilingi oleh cahaya, para malaikat dan orang kudus. 

Lukisan-lukisan ini mengingatkan pada penglihatan dalam Kitab Wahyu tentang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 

Beberapa seniman memadukan kedua tradisi tersebut dengan melukiskan Maria dalam kemuliaan surgawi isi atas makam kosong yang dipenuhi bunga warna-warni, sementara para rasul menengadah ke atas. 

Melalui model kedua ini Paus menjelaskan bahwa Maria diangkat ke surga "dalam keutuhan pribadi-Nya."

Perempuan yang memberikan daging dan darah bagi Sabda yang Menjadi Manusia serta mengikuti Yesus hingga mencapai persatuan seutuhnya dalam pengorbanan kasih tersebut, ditarik oleh Yesus untuk selamanya dalam kemuliaan. 

Baca Juga: Bacaan Misa Gereja Katolik Minggu, 9 Agustus 2026: Hari Minggu Biasa XIX

EDITOR: Candra Mega Sari