JawaPos.com - Ketika suatu agama mulai menjangkau tanah asing, para misionaris atau penyebar agama akan berhadapan langsung dengan penduduk asli setempat. Pertemuan ini menjadi titik penentu, apakah ajaran agama akan diterima dengan tangan terbuka atau justru ditolak mentah-mentah.
Apabila diterima, komunitas umat baru akan tumbuh dan berakar di wilayah tersebut. Tak jarang, mereka yang baru memeluk keyakinan ini bertransformasi menjadi penggerak utama dalam menyebarkan ajaran lebih luas lagi.
Namun, sejarah mencatat sisi kelam ketika sebuah keyakinan ditolak. Penolakan sering kali berujung pada persekusi dan kekejaman luar biasa terhadap para penyebarnya. Salah satu jejak pilu ini terekam dalam sejarah penyebaran Kristen di Asia, khususnya di Korea.
Meski harus menghadapi penindasan hebat, figur seperti Santo Andreas Kim Taegon dan para martir lainnya tetap teguh. Alih-alih meninggalkan keyakinan mereka di bawah ancaman, mereka justru menjadikan pengorbanan itu sebagai fondasi iman yang tak tergoyahkan bagi generasi setelahnya.
Santo Andreas Kim Taegon
Dilansir dari WYD Seoul, Kim Taegon terlahir di Korea pada tahun 1821. Ia terpilih dibaptis, mendapat nama Andreas dan terpilih menjadi seminaris pada usia 15 tahun dan dikirim ke Macau, Tiongkok untuk melanjutkan studinya.
Dilansir dari Archdiocese of Chicago, Korea bertemu dengan para misionaris pertama kali pada tahun 1836. Misionaris ini adalah Foreign Missions Society. Tapi ketika mereka sampai di Korea, mereka mendapati bahwa beberapa penduduk setempat telah beragama Katolik.
Ternyata agama Katolik telah menyebarkan akarnya melalui orang ke orang lain, sehingga agama Katolik telah memiliki umat di Korea sejak akhir abad ke-18.
Dilansir dari Franciscan Media, ia juga adalah putra dari orang tua warga asli Korea yang pindah agama ke Katolik ini. Tidak hanya itu, keluarganya juga adalah salah satu keluarga yang berpengaruh.
Taegon menghabiskan 4 tahun mempelajari agamanya di Koloni Portugis di Macau, lalu di Lolomboy, Filipina, sebelum bisa kembali ke Korea melalui Manchuria. Pada tahun 1844, saat ia menyeberangi Laut Kuning ke Shanghai, ia ditahbiskan menjadi pastor oleh Uskup Prancis Jean-Joseph-Jean-Baptiste Ferreol.
Setelah kembali ke Tanah Airnya, ia ditugaskan untuk mengatur agar lebih banyak misionaris bisa masuk ke Korea melalui jalur air, sehingga dapat menghindari patroli di perbatasan.
Perlu diketahui bahwa pada saat itu Korea mempraktekkan agama Konghucu dan praktek keyakinan selain itu dilarang keras. Hukuman dari pelanggaran ini adalah eksekusi mati.
Sebelumnya, ayah Taegon sendiri juga dieksekusi mati dan menjadi martir pada persekusi tahun 1839.
Taegon ditangkap, disiksa, dan dipancung pada tahun 1846 di Sungai Han dekat Seoul. Ia baru berusia 25 tahun.
Martir Lain yang Diketahui
Selain Santo Andreas Kim Taegon dan ayahnya, ada banyak sekali martir lain dari persekusi umat Katolik di Korea Selatan pada masa tersebut.
Pada 1984, Paus Yohane Paulus II mengkanonisasikan Santo Andreas Kim Taegon bersama 103 martir Korea lainnya. Ia menjadi santo pelindung negara Korea.
Pada tahun 1839, persekusi terhadap umat Katolik tidak hanya memakan nyawa ayah Santo Andreas Kim Taegon.
Bersama para martir pada tahun 1839, seorang perempuan bersama Kim Columba juga menjadi martir. Ia dipenjarakan, ditusuk-tusuk dengan besi dan arang panas bersama saudarinya, Agnes. Mereka berdua ditelanjangi, namun mereka tidak dilecehkan. Mereka berdua akhirnya dipancung.
Ryou Petrus masih berusia 13 tahun saat ia mengalami siksaan dari persekusi. Tubuhnya dicabik-cabik, dan akhirnya ia dihukum cekik.
Teori Penyebaran Agama Katolik di Korea
Diperkirakan agama Kristiani memasuki Korea melalui invasi Jepang pada tahun 1592. Beberapa orang Korea dibaptis oleh tentara Jepang beragama Kristen.
Proses evangelisasi ke Korea termasuk yang paling sulit karena negara tersebut memutuskan hubungan dengan negara-negara lain, kecuali dengan Tiongkok ketika mereka menerima pajak tahunan dari mereka.
Sekitar tahun 1777, literatur Kristen dari misionaris Yesuit memasuki Tiongkok dan menjadi bahan pembelajaran umat Kristen di Korea. Dari situ mereka mendirikan gereja rumahan.
Karenanya, ketika seorang pastor Tiongkok berhasil memasuki Korea bertahun-tahun kemudian, ia terkejut karena ia menemukan 4000 umat Katolik disana. Akan tetapi mereka tidak pernah bertemu dengan seorang pastor.
Kebebasan beragama di Korea baru dilegalkan pada tahun 1883.
Baca Juga: Mengenal Santo Thomas Aquino (1224-1274): Hanya Ingin Hidup Mengabdi kepada Dunia Pendidikan Katolik