JawaPos.com - Gereja Katolik mengakui banyak sekali orang suci yang memiliki peran besar dalam sejarahnya. Orang-orang suci ini bisa mendapatkan gelar santo atau santa pula.
Tokoh-tokoh ini berjasa besar terhadap gereja sehingga mereka dikenang dalam sejarah gereja. Mereka juga kemudian diangkat menjadi pelindung dalam hal-hal yang dimana mereka berperan.
Karena itu, para umat Gereja Katolik berdoa untuk mereka agar mendapatkan perlindungan atau bantuan dari mereka. Salah satunya adalah Santo Thomas Aquino (1224/25-1274), pelindung para pelajar.
Baca Juga: Mengenal Santo Honoratus (500-600): Dari Anak Bangsawan hingga Menjadi Pelindung Para Tukang Roti
Kehidupan Awal
Dilansir dari Ensiklopedia Britannica, Thomas berasal dari keluarga pemilik tanah feodal sederhana di perbatasan yang selalu diperebutkan oleh kaisar dan paus.
Ayahnya berasal dari Lombardia, dan ibunya berasal dari keturunan Normandia. Keluarga besar Thomas ini terkenal karena pengabdian mereka kepada Kaisar Frederick II selama perselisihan sipil di Italia selatan antara paus dan kaisar.
Thomas dikirim ke Biara Benediktus di Monte Cassino, dekat rumahnya, sebagai oblat (calon biarawan) ketika ia masih sangat muda. Orang tuanya ingin ia menjadi kepala biara yang dapat membantu mereka nantinya.
Pada tahun 1239, setelah sembilan tahun tinggal di biara, Thomas dipaksa pulang ke rumah keluarganya karena sang kaisar percaya bahwa para biarawan terlalu patuh kepada paus. Setelah itu Thomas disekolahkan di Universitas Napoli, sekolah yang didirikan oleh kaisar, dimana ia belajar sains dan filsafat yang baru saja diterjemahkan dari bahasa Yunani dan Arab.
Murid Terbaik
Dilansir dari New Advent, Thomas menjadi murid dari Pietro Martini dan Petrus Hibernus. Namun, kepintaran Thomas dapat dengan mudah melampaui Martini, dan kemudian ia diserahkan kepada Petrus dari Irlandia, dimana ia belajar logika dan ilmu pengetahuan alam.
Pada masa itu, ilmu pengetahuan liberal dibagi menjadi dua: Trivium, yang meliputi tata bahasa, logika dan retorika; dan Quadrivium, yang terdiri dari musik, matematika, geometri, dan astronomi.
Thomas bahkan dapat mengulang pelajaran dengan lebih baik dan jelas daripada guru-gurunya. Dan dalam tengah-tengah perebutan kekuasaan yang terjadi, hati Thomas tetap murni serta ia memutuskan untuk menjalani kehidupan religius.
Menghadapi Godaan dari Keluarga Sendiri
Sekitar tahun 1240-1243, Thomas akhirnya menerima jubah Ordo Santo Dominikus, setelah dibimbing oleh Yohanes dari St. Julian, seorang pengkhotbah terkenal dari biara Napoli.
Ibunya, dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan sedih, segera ke Napoli untuk menemui putranya. Namun para biarawan Dominikan lainnya segera mengirim Thomas ke Roma, karena takut ibunya akan membawanya pergi.
Benar saja, ibunya mendesak saudara-saudara Thomas, yang merupakan tentara di bawah Kaisar Frederick untuk menangkapnya di dekat Aquapendente dan mengurungnya di benteng San Giovanni di Rocca Secca.
Disana Thomas dikurung selama hampir dua tahun. Kedua orang tuanya, saudara-saudara dan saudari-saudarinya mencoba untuk menghancurkan tekad Thomas hidup membiara.
Mereka bahkan mencoba memperangkapnya dengan merusak kesuciannya. Mereka mengirim perempuan ke kamarnya, tapi Thomas segera mengusir mereka dengan kayu dari perapian.
Dikisahkan Thomas berdoa agar Tuhan memberinya kekuatan dan integritas terhadap pikiran dan tubuhnya. Dan saat ia tertidur, ia bermimpi bahwa dua malaikat muncul dan meyakinkannya bahwa doanya terdengar. Mereka mengikatkan ikat pinggang putih padanya, dan sejak hari itu ia tidak pernah mengalami sedikit pun dorongan nafsu birahi.
Dikembalikan ke Biara dan Sekolah
Setelah beberapa lama, ia diperbolehkan menerima buku-buku dari rekan-rekan Dominikannya. Seperti Alkitab, tulisan Aristotle, dan lain-lain.
Ia baru dibebaskan setelah 18 bulan hingga dua tahun. Ada yang mengatakan bahwa ibunya takut ramalan tentang seorang pertapa akan terpenuhi maka ia membiarkannya kabur dari jendela, dan ada yang mengatakan saudara-saudaranya diancam oleh Paus Innocentius IV dan Kaisar Frederick II. Thomas kemudian dikembalikan kepada Biara Dominikus.
Dilansir dari Catholic.org, Thomas kemudian dikirim ke Paris dan Cologne oleh Johannes von Wildeshausen, pemimpin keempat ordo tersebut. Di kota-kota tersebut ia ditempatkan di bawah bimbingan Albertus Magnus, pemimpin fakultas teologi College of St. James.
Di sekolah, sifat pendiam dan kerendahan hati Thomas sering disalahartikan sebagai kebodohan. Tapi Albertus membelanya: "Kita menyebut pemuda ini lembu yang bisu, tetapi teriakannya dalam doktrin suatu hari nanti akan bergema di seluruh dunia."
Pada tahun 1248, Thomas memutuskan untuk mengikuti Albertus ke Cologne daripada menerima tawaran paus untuk menjadi kepala biara Monte Cassino.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Thomas mengajar di Cologne sebagai asisten dosen dalam pembelajaran Perjanjian Lama. Thomas juga menulis Expositio super Isaiam ad Litteram, Postilla super Ieremiam, dan Postilla super Threnos.
Pada tahun 1252, Thomas kembali ke Paris untuk mendapatkan gelar master dalam teologi. Ia juga masih mengajar sebagai asisten dosen, dimana ia mengajarkan Alkitab. Musim semi 1256, Thomas diangkat menjadi guru besar teologi di Paris. Ia juga menuliskan beberapa tulisan lainnya pula pada periode ini.
Tahun 1259, ia kembali ke Napoli setelah menyelesaikan masa mengajar pertamanya. September 1261, ia diminta untuk mengajar di Orvieto. Tahun 1265, Thomas dipanggil ke Roma untuk menjadi ahli teologi.
Akhir Hidup
Pada masa Paskah tahun 1272, Thomas kembali ke Italia untuk mendirikan rumah studi Dominikan di Universitas Napoli. Langkah ini didukung oleh Raja Charles dari Anjou, yang sangat ingin menghidupkan kembali universitas tersebut.
Januari 1274, Thomas dipanggil secara pribadi oleh paus Gregorius X ke Konsili Lyons kedua, untuk menjadi upaya memperbaiki perpecahan antara gereja Latin dan Yunani.
Namun, dalam perjalanannya ia jatuh sakit dan harus berhenti di Biara Cistercian Fossanova, dimana ia kemudian meninggal pada 7 Maret.
Tahun 1277, para ahli teologi Paris, yurisdiksi teologis tertinggi gereja, mengutuk serangkaian 219 proposisi, yang 12 diantaranya adalah tesis Thomas sendiri. Hal ini menghasilkan spiritualisme yang tidak sehat dan menentang realisme kosmik dan antropologis Thomas.
Warisan
Kehidupan Thomas sangat sederhana, ia mendevosikan seluruh hidupnya dalam dunia pendidikan. Namun, walaupun terlihat tenang, dunia pendidikan teologi pada saat itu sering berseteru antara kepercayaan bahkan sekolah lainnya. Sehingga Thomas harus dapat menghasilkan lingkungan sekolah yang tenang.
Thomas dikanonisasikan sebagai santo pada tahun 1323, lalu mendapat gelar "dokter gereja" pada tahun 1567.
Santo Thomas Aquino, selama kehidupan singkatnya, telah menuliskan lebih dari 60 tesis. Sebagian dibantu oleh beberapa asisten dan sekretaris.
Ia juga menjadi pelindung para akademik, sekolah Katolik, pembuat pensil, penerbit, dan para pelajar.
Baca Juga: Mengenal Santo Carlo Acutis: Santo dari Generasi Milenial Pertama dan Pelindung Internet