Pada hari ini pula umat Kristen akan mengingat kisah Yesus disambut dengan sangat meriah di Yerusalem, sebelum disiksa dan disalibkan.
Dilansir dari Catholic.org, hari ini juga merupakan minggu berpantang terakhir para umat Katolik pula.
Di hari ini, banyak gereja juga menirukan perarakan penyambutan Yesus di Yerusalem dengan daun-daun palma.
Baca Juga: Bacaan Misa Gereja Katolik 29 Maret 2026: Hari Minggu Palma Mengenang Sengsara Yesus
Dalam Alkitab
Dilansir dari Ensiklopedia Britannica, peristiwa ini tertulis dalam keempat Injil (Matius 21:1-11; Markus 11:1-11; Lukas 19:28-44; dan Yohanes 12:12-19).
Ketika Yesus sudah dekat dengan Yerusalem setelah perjalanan dari Bukit Zaitun, ia mengirim para muridNya untuk membawakan kepadaNya seekor keledai muda atau keledai betina. Keledai tersebut menjadi tungganganNya ke kota.
Aksi Yesus tersebut membuat nyata ayat dalam Kitab Zakharia, yang mengatakan akan datangnya seorang Raja adil, jaya, namun lemah lembut. Dan ia akan datang dengan menunggangi seekor keledai muda.
Ketika Yesus datang, orang-orang berseru "Hosanna" dan menyebarkan jubah-jubah mereka serta dedaunan dari pohon palma untuk menjadi karpet, menyambut sang Raja dan Putra Daud.
Dalam Alkitab, setelah perarakan meriah ini, tidak lama kemudian Yesus ditangkap dan disiksa serta disalibkan.
Peristiwa meriah menyebabkan ketegangan antara para ketua Bait Allah dan otoritas lainnya yang mempertanyakan kekuasaan serta kekuatan Yesus.
Sejarah Perayaan
Perayaan istimewa ini dimulai kira-kira pada akhir abad ke 4 di Yerusalem, menurut dokumen Peregrinatio Etheriae.
Di gereja barat, dokumentasi tertua mengenai perayaan ini ditemukan di Bobbio Sacramentary, yaitu pada abad ke 8.
Pada abad pertengahan, upacara pemberkatan daun palma cukup rumit. Upacara akan dimulai di satu gereja, lalu mereka akan pergi ke gereja yang memiliki pohon palma terberkati, lalu kembali ke gereja mereka untuk melanjutkan liturgi.
Dalam liturgi ini biasanya akan dilantunkan kisah Sengsara Kristus (Matius 26:36 - 27:54) oleh tiga orang diakon. Aransemen musik pada bagian kerumunan atau rakyat kadang-kadang dinyanyikan oleh paduan suara.
Lalu setelah reformasi liturgi Katolik Roma pada tahun 1955-1969, prosesi ibadah ini disederhanakan untuk menekankan pada penderitaan dan kematian Yesus. Sehingga sekarang memiliki sebutan Minggu Sengsara.
Bagaimana Dirayakan
Dilansir dari New Advent, gereja-gereja Yunani merayakan hari ini dengan upacara khidmat, serta disebut kyriake dan Minggu Lazarus. Karena dirayakan setelah Lazarus dibangkitkan dari kubur.
Pada zaman dulu, kaisar akan membagikan daun-daun palma dan hadiah kecil untuk para anggota kerajaan, bangsawan dan pembantu kerajaan.
Inggris dan Jerman merayakannya sebagai Minggu Kembang (Flower Sunday), dimana mereka akan menganyam bunga-bunga yang sudah diberkati dengan daun-daun palma. Ini juga dilaksanakan di Serbia, Kroasia dan Armenia.
Karena Minggu Palma juga adalah hari pertama dari Minggu Suci, banyak gereja melakukan pembaptisan.
Di beberapa tempat di Jerman dan Prancis, ada kebiasaan untuk menaburkan bunga dan ranting hijau di sekitar salib di halaman gereja.
Setelah misa selesai, daun palma yang telah diberkati akan dibawa pulang dan digunakan untuk menghiasi salib di rumah.
Baca Juga: Mengenal Santo Honoratus (500-600): Dari Anak Bangsawan hingga Menjadi Pelindung Para Tukang Roti