← Beranda
Mengenal Santo Agustinus Zhao Rong dan Santo Fransiskus de Capillas: Dua Martir Tiongkok dari 120 Martir yang Tercatat
Alberta Dionny NatanuelSabtu, 12 Juli 2025 | 22.59 WIB
Lukisan 120 martir Katolik dari China (Dok. aci.archchicago.org)

JawaPos.com - Para penyebar agama manapun tentunya akan menerima penolakan di berbagai tempat yang mereka tempuh. Terutama daerah-daerah yang tidak familiar dengan agama baru tersebut. 

Banyak hal buruk dapat terjadi pada para penyebar agama tersebut. Dari pengusiran paksa, penyiksaan, hingga pembunuhan. 

Gereja Katolik mengenal para misionaris sebagai penyebar agama atau guru yang mengajarkan ajaran Yesus Kristus. 

Sayangnya, kebanyakan misionaris tersebut menjadi martir - menderita atau mati demi keyakinan mereka. 

Tiongkok menjadi salah satu tempat dimana banyak misionaris mengalami penderitaan dan meninggal karena atau demi tujuan mereka. 

Santo Francisco Fernandez de Capillas 

Dilansir dari Vatican News, santo pertama dari Tiongkok adalah seorang biarawan asal Spanyol bernama Fr. Francisco Fernandez de Capillas. 

Ia ditangkap pada tahun 1647 di Fu'an oleh sekelompok orang yang mempersekusi orang-orang Kristen. 

Dalam penjara, ia menulis bahwa ia menjalin hubungan persahabatan dengan para tahanan lainnya. Mereka menanyakan ajaran gereja dan mensyukuri waktunya di penjara, karena walaupun di tempat terkotor pun ia tetap dapat menyebarkan ajaran Kristus. 

Satu tahun kemudian, Fr. Francisco dipancung. Peristiwa tersebut membuatnya menjadi santo pertama dari Tiongkok, sekaligus 120 pengikutnya yang meninggal dari tahun 1648 hingga 1930: 87 dari antaranya adalah orang Tiongkok asli dan 33 adalah misionaris asing. 

Santo Agustinus Zhao Rong 

Dilansir dari Catholic Church England and Wales, Santo Agustinus Zhao Rong terlahir dengan marga Zhu pada 1746 di Wu Chuan, Provinsi Guizhou. 

Sebelum menjadi Katolik, ia bekerja sebagai prajurit dan mendapatkan posisi sersan di Wu Chuan. Saat ia berumur 20an, ia berjumpa dengan agama tersebut saat diperkenalkan di Sichuan. 

Pada tahun 1748, persekusi terhadap umat kristiani di Tiongkok makin parah, terutama di bawah perintah langsung dari Kaisar Qianlong. 

Rong adalah salah satu prajurit yang menangkap para umat tersebut. Ia juga bertugas untuk menjaga Misionaris Perancis Uskup John Gabriel Taurin Dufresse, menuju eksekusinya di Beijing. 

Selama perjalanan, yang seharusnya mencekam bagi sang uskup, Uskup Dufresse tabah dan sabar menghadapi ajalnya. Sikap ini menyentuh hati Rong. 

Dufresse juga mengajarkan banyak hal mengenai agama Katolik kepada Rong. Bahkan ia meminta kepada sang uskup untuk membaptisnya. 

Terdapat data yang berbeda dimana dikatakan Dufresse mati setelahnya, dan ada yang mengatakan bahwa ia dibebaskan. 

Rong mendapatkan nama Agustinus karena ia dibaptis pada hari Hari Raya Santo Agustinus. Dufresse kemudian juga mengajarkan Rong bahasa Latin dan menyuruhnya mempelajari para orang suci. 

Rong kemudian menjadi pastor diosesan Tionghoa pertama pada usia 35 dan mengadopsi marga Zhao. Ia juga ditugaskan untuk bekerja di Yunnan. 

Pada Kekaisaran Jiaqing, gelombang persekusi terhadap umat nasrani dimulai kembali di Tiongkok. 

Dalam proses persekusi ini, seluruh umat Kristen di Tiongkok ditangkap. Tidak peduli kelamin dan usia. Dikabarkan usia termuda adalah 9 tahun, dan tertua adalah 79. 

Mereka semua dipaksa untuk melepaskan ajaran Kristen dan diancam akan disiksa dan dibunuh. Namun, mereka semua, termasuk Zhao Rong, menolak. 

Pada tahun 1815 di usia 69, Zhao Rong meninggal di penjara karena tubuhnya tidak mampu menanggung siksaan dari persekusi tersebut. 

Ia dikuburkan di Guan Shan, namun pada tahun 1822, mayatnya dipindahkan ke Gunung Feng Huang. 

EDITOR: Candra Mega Sari