Kecemburuan yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai ghairah dan dalam bahasa Inggris disebut jealousy merupakan gejala fitrah, wajar dan alamiah dari seseorang sebagai rasa cinta, sayang dan saling memiliki, melindungi (proteksi) dan peduli. Namun pada kenyataan keseharian rasa, cemburu tidak jarang mendapatkan stigma dan konotasi yang selalu negatif sebagai bentuk ekspresi dan refleksi yang tidak pada tempatnya, norak, egois, curiga dan sebagainya. Memang pada umumnya, akan terasa menyesakkan dan hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan bila seorang perempuan selalu dibayangi perasaan cemburu.
غَارَتْ أُمُّكُمْ
“Ibu kalian sedang cemburu.”([3])
Oleh karena itu, istri yang berbuat salah karena kecemburuan adalah hal yang wajar, karena demikianlah sifat wanita yang cinta kepada suaminya. Karena istri yang tidak cemburu dapat dipastikan dia tidak cinta.
Akan tetapi perlu untuk diperhatikan bahwa meskipun hukum asal seorang laki-laki harus berlapang dada atas kesalahan istrinya yang cemburu, akan tetapi jika kecemburuan tersebut berlebihan sampai menzalimi yang lain maka hal ini tidak termasuk dalam kewajaran dan tidak diperbolehkan. Sebagaimana Hafshah yang karena saking cemburunya membongkar rahasia Nabi ﷺ kepada ‘Aisyah. Dan sebagaimana juga kisah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menceritakan tentang kecemburuannya terhadap Shofiah dengan mengatakan,
حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ غَيْرُ مُسَدَّدٍ: تَعْنِي قَصِيرَةً، فَقَالَ: لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ
“Cukuplah Sofiah bagimu seperti ini dan seperti ini -yakni pendek-.” Beliau lalu bersabda, ‘Sungguh engkau telah mengatakan suatu kalimat (yang busuk), sekiranya itu dicampur dengan air laut maka ia akan dapat menjadikannya berubah’.”([4]).
Hadits ini menunjukkan bahwa ‘Aisyah terlalu berlebihan dalam kecemburuannya sehingga terjerumus dalam menzalimi orang lain, yaitu menggibahi Shofiah. Maka jika seorang suami mendapati situasi seperti ini, maka dia harus tegas sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika menegur ‘Aisyah.
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ
“Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menyeru Jibril ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia’, Maka Jibril pun mencintai orang tersebut. Lalu Jibril menyeru kepada penghuni langit (seraya berkata) ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah fulan’, maka penduduk langit pun mencintai orang tersebut hingga akhirnya ditetapkan bagi fulan untuk diterima di bumi.”(5).
Maka tidak heran ketika Allah telah mencintai orang yang saleh, maka para malaikat akan membantu dan mendoakan orang tersebut, dan orang yang paling saleh adalah Nabi Muhammad.