← Beranda
Sony Diserang Peritel Inggris Usai Putuskan Hentikan Game Fisik, Dinilai Renggut Hak Pilihan Gamer
Nanda PrayogaRabu, 15 Juli 2026 | 23.00 WIB
Ilustrasi logo PlayStation. (Sony)

 

JawaPos.com - Keputusan Sony menghentikan produksi game PlayStation dalam format cakram fisik mulai Januari 2028 terus memicu gelombang penolakan. Setelah diumumkan pada awal Juli, kebijakan tersebut kini mendapat kritik terbuka dari Entertainment Retailers Association (ERA), organisasi yang mewakili pelaku industri ritel hiburan di Inggris.

Sony beralasan langkah tersebut diambil karena pasar semakin bergeser ke distribusi digital. Namun, ERA menilai keputusan itu lebih menguntungkan kepentingan perusahaan dibandingkan konsumen karena menghapus opsi membeli game dalam bentuk fisik.

Mengacu pada riset ERA, sekitar seperempat gamer Inggris berusia di bawah 25 tahun masih menjadikan disc sebagai media utama untuk bermain. Selain itu, nilai pasar game fisik di Inggris disebut masih melampaui 300 juta pound sterling dalam setahun terakhir.

Menurut ERA, kepemilikan game dalam bentuk cakram menawarkan sejumlah keuntungan yang tidak dimiliki lisensi digital. Mulai dari dapat dipinjamkan kepada orang lain, dijual kembali, dikoleksi, hingga disimpan sebagai bagian dari pelestarian sejarah industri game. Sebaliknya, akses game digital sepenuhnya bergantung pada kebijakan platform dan sewaktu-waktu dapat dicabut.

Baca Juga: BPDP Siap Layani Subsidi Solar bagi Nelayan, Siapkan Anggaran Rp 1,5 Triliun

"Pengumuman PlayStation bahwa game-game besar tidak lagi tersedia dalam bentuk disc merupakan kemenangan kenyamanan korporasi di atas kebebasan memilih konsumen. Setiap tahun, jutaan gamer masih memilih membeli salinan fisik karena mereka menghargai kepemilikan yang sesungguhnya," ujar CEO Entertainment Retailers Association (ERA), Kim Bayley dalam keterangannya.

Ia menambahkan bahwa sebuah disc dapat dipinjamkan kepada keluarga, dijual kembali, dikoleksi, maupun tetap dimainkan bertahun-tahun kemudian. Sementara itu, lisensi unduhan dinilai tidak memberikan keleluasaan yang sama.

ERA juga menyoroti dampak kebijakan tersebut terhadap bisnis ritel. Selama ini, penjualan game edisi fisik menjadi salah satu daya tarik utama yang mendatangkan pengunjung ke toko. Jika format tersebut dihapus, pendapatan peritel diperkirakan ikut tergerus dan pasar game bekas yang selama ini berkembang juga terancam menyusut.

Sejumlah pengamat industri bahkan menilai dominasi distribusi digital akan membuat penerbit memiliki kendali harga yang lebih besar. Akibatnya, konsumen kehilangan kesempatan memperoleh harga yang lebih kompetitif melalui persaingan antartoko.

"Peritel melihat permintaan itu setiap hari. Game fisik masih membawa orang datang ke toko dan memberikan nilai nyata bagi konsumen melalui hadiah, koleksi, serta penjualan kembali. Industri seharusnya mendukung setiap cara yang sah bagi konsumen untuk membeli game, bukan justru mempersempit pilihan mereka," kata Bayley.

Meski petisi penolakan di kawasan Eropa telah mengumpulkan ratusan ribu tanda tangan, peluang Sony membatalkan kebijakan tersebut dinilai sangat kecil. Apalagi, fasilitas produksi cakram terbesar Sony di Austria dilaporkan mulai dialihkan untuk memproduksi perangkat berbasis teknologi lensa mikro optik.

Di sisi lain, Komisioner Uni Eropa menyatakan perusahaan game memiliki hak menentukan model distribusi produknya. Artinya, regulator tidak memiliki landasan hukum yang cukup kuat untuk mewajibkan Sony tetap menghadirkan game dalam format fisik.

Baca Juga: YLBHI Nilai Penyerahan Kasus Korupsi Febrie Adriansyah dari Polri ke Kejaksaan Merusak Sistem Hukum

Menutup pernyataannya, Bayley menegaskan bahwa distribusi digital seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti media fisik.

"Distribusi digital telah mengubah industri game dan memang sangat populer, tetapi seharusnya melengkapi format fisik, bukan menggantikannya. Konsumen berhak memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana mereka membeli hiburan. Menghapus disc bukanlah sebuah kemajuan, melainkan hanya menghilangkan pilihan," tegasnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan