JawaPos.com - Industri game global tengah dihebohkan oleh dugaan kebocoran data besar yang melibatkan Indonesia Game Rating System (IGRS). Lembaga klasifikasi game di Indonesia itu disorot setelah muncul laporan bahwa sistemnya secara tidak sengaja membuka akses ke materi sensitif, termasuk cuplikan gameplay dari game AAA yang belum dirilis seperti 007 First Light.
Kisruh ini menjadi semakin ramai setelah Nic McConnell, Manajer Rating dari Riot Games, angkat bicara. Ia membagikan pengalamannya berinteraksi langsung dengan sistem IGRS sekaligus melontarkan kritik tajam terhadap proses dan keamanannya.
Selain 007 First Light, komunitas game di Reddit juga menginformasikan kalah bocoran juga disebut mencakup judul lain seperti Echoes of Aincrad. Kebocoran ini dinilai berpotensi merugikan developer dan publisher karena memicu spoiler sebelum waktu rilis resmi.
Menanggapi isu tersebut, Nic McConnell mengungkap bahwa sistem penilaian IGRS saat ini masih bersifat manual dan belum sepenuhnya matang.
Baca Juga: Trump Sentil Paus Leo XIV, Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir: Dunia dalam Bahaya Besar
Menurutnya, developer diminta mengisi survei terkait konten game, lalu mengunggah bukti berupa rekaman atau gambar melalui tautan eksternal seperti Google Drive.
"Cara kerja sistem mereka adalah Anda mengisi survei singkat... dan memberikan tautan ke rekaman dan gambar yang relevan... Sejauh yang saya tahu, IGRS memproses setiap pengajuan secara manual," tulis McConnell di akun Bluesky pribadinya, @mcconnell.bsky.social.
Ia juga menyoroti potensi celah keamanan dari metode tersebut. "Saya tidak akan heran jika beberapa tautan dibuka lebih luas selama proses yang... ad hoc tersebut."
McConnell menyarankan agar developer hanya mengirimkan materi yang benar-benar relevan untuk meminimalkan risiko kebocoran.
Kritik SDM dan Beban Kerja IGRS
Lebih jauh, McConnell menilai masalah IGRS bukan hanya pada sistem, tetapi juga pada keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
"Menurut saya tim di IGRS berukuran kecil dan diberi tugas yang sangat besar tanpa sumber daya yang memadai."
Meski demikian, ia tetap memberikan catatan positif bahwa tim IGRS berusaha menjalankan tugasnya dengan baik di tengah keterbatasan.
"Ini adalah kelompok kecil orang-orang baik yang melakukan yang terbaik... kritik itu wajar, tetapi ini hanyalah upaya orang-orang untuk membuat semuanya berjalan lancar," lanjut Nic.
Baca Juga: Trump Sentil Paus Leo XIV, Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir: Dunia dalam Bahaya Besar
Kasus ini memperpanjang daftar kontroversi IGRS. Sebelumnya, lembaga tersebut sempat dikritik oleh gamer lokal karena dinilai tidak konsisten dalam memberikan rating. Beberapa game dengan konten kekerasan justru mendapat label usia rendah, sementara judul populer lain masuk kategori RC (Restricted).
Kini, dengan munculnya dugaan kebocoran data dan gameplay, tekanan terhadap IGRS semakin besar, terutama dari komunitas global yang menuntut peningkatan keamanan dan profesionalisme dalam sistem klasifikasi game.