JawaPos.com – Tiongkok melalui lembaga yang mengatur soal industri hiburan yakni National Press and Publication Administration (NPPA) umumkan rancangan regulasi baru mengenai video game.
Dilansir dari AP, regulasi tersebut membahas mengenai pemerintah Tiongkok akan membatasi pengembang game untuk menciptakan transaksi yang berlebihan di dalam video game.
Dalam rancangan regulasi itu, kedepannya video game yang beredar di Tiongkok tidak diizinkan memberikan reward pada pemain yang lakukan ‘daily login’.
Selain itu mereka tidak dapat memberi bonus tambahan bagi pemain yang melakukan transaksi di dalam game mereka untuk pertama kali.
Rancangan regulasi tersebut juga menjelaskan bahwa nantinya akan ada pembatasan mengenai berapa kali gamers dapat melakukan transaksi di dalam game.
Saham NetEase dan Tencent Langsung Tumbang
Rancangan regulasi yang dikeluarkan oleh lembaga asal Tiongkok tersebut membuat para investor ketakutan.
Baca Juga: Tantangan Diri dalam Refind Self: Game Tes Kepribadian yang Menggugah Perasaan
Dikutip dari Reuters, 2 perusahaan pengembang game raksasa asal Tiongkok yakni Tencent dan NetEase langsung alami penurunan di pasar saham.
Hanya dalam waktu singkat, kedua industri yang memiliki pengaruh besar di negara tirai bambu tersebut kehilangan USD 80 Miliar atau sekitar Rp 1,2 Biliun bila dikenakan kurs senilai Rp 15.466.
Salam milik Tencent Holdings sempat mengalami penurunan sebanyak 16%, namun saat penutupan perdagangan mereka hanya kehilangan 12% saja.
Baca Juga: Luncurkan Update Baru, Keseruan Game Undawn Bertambah dengan Tema Salju
Sementara itu, pengembang game Rules of Survival dan Blood Strike yakni NetEase mengalami penurunan hingga nyaris menyentuh 25%.
Steven Leung, salah satu Direktur Eksekutif penjualan institusional di Broker UOB mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi bukan karena investor takut akan regulasinya.
“Investor menganggap rancangan aturan tersebut terlalu beresiko dan mereka tidak ingin kehilangan rasa percaya diri terhadap perkembangan perusahaan setelah aturan tersebut diberlakukan,” ujarnya.
Dikutip dari Fortune, kebijakan baru ini dapat melahirkan bentuk lain dari sistem free to play yang ada di video game, khususnya yang berada di smartphone.
Baca Juga: Google Umumkan Aplikasi dan Game Terbaik di Google Play Tahun 2023, Ini Daftarnya
“kebijakan yang dilakukan Tiongkok itu dapat memicu negara-negara lain untuk menerapkan hal yang serupa,” ujar Mio Kata, salah satu Founder LightStream Research.
Tambah Daftar Aturan Ketat Soal Video Game
Apabila peraturan tersebut resmi diberlakukan maka Tiongkok berhasil menambah daftar aturan baru bagi industri game di negaranya.
Sebelumnya, pada 2021 lalu mereka telah lakukan pembatasan jam bermain pada remaja yang berusia dibawah 18 tahun.
Mengutip Reuters, mereka hanya boleh bermain game pada pukul 8 hingga 9 malam dalam waktu 3 hari saja yakni hari Jumat, Sabtu dan Minggu.
Selain itu pada saat libur nasional mereka hanya boleh memainkan video game dengan ketentuan serupa.
Selain itu pengguna yang masih masuk dalam kriteria tersebut harus mendaftarkan verifikasi identitas asli mereka kepada para pengembang game di Tiongkok.