JawaPos.com — Malam Idul Fitri 1447 Hijriah di Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan terasa berbeda dari biasanya. Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti lingkungan RT 12 RW 3 saat ratusan warga turun ke jalan mengikuti tradisi wat-watan atau “muter” Lebaran.
Bukan sekadar tradisi turun-temurun, wat-watan menjadi momen yang selalu dinanti setiap tahun. Warga dari berbagai usia larut dalam suasana silaturahmi yang terasa begitu dekat dan nyata.
Sejak selepas salat Idul Fitri, aktivitas warga belum benar-benar usai. Justru malam harinya, kebersamaan itu mencapai puncak ketika mereka berkumpul dan mulai berkeliling kampung.
Dengan langkah kompak, rombongan warga berjalan menyusuri gang demi gang. Mereka menyambangi satu per satu rumah tanpa terkecuali, memastikan tidak ada tetangga yang terlewat.
Baca Juga: Inflasi Pasca Lebaran 2026 Diproyeksi Naik, Menko Airlangga Ungkap Alasannya
Tradisi ini bukan sekadar formalitas saling bersalaman. Wat-watan menjadi ruang untuk benar-benar menyambung kembali hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan sehari-hari.
Ketua RT 12 RW 3, Agus Salim (55), menyebut tradisi ini sudah berlangsung lama dan terus dijaga hingga kini. Pelaksanaannya pun dibuat bergiliran agar semua warga bisa ikut merasakan kebersamaan.
“Jadi, semua warga bareng-bareng turun, berkeliling dan bersilaturahmi dari rumah ke rumah secara bergiliran. Tanpa terlewatkan,” jelas Agus.
Ia menambahkan, wat-watan digelar selama dua hari penuh. Malam pertama dikhususkan bagi para pria, sementara malam berikutnya giliran para wanita.
Pembagian ini membuat suasana lebih tertib dan tetap nyaman. Selain itu, semua warga punya kesempatan yang sama untuk terlibat aktif dalam tradisi tersebut.
Di setiap rumah yang disinggahi, suasana haru dan hangat langsung terasa. Warga saling berjabat tangan, menyampaikan permohonan maaf dengan tulus.
Tak berhenti di situ, rombongan juga menyempatkan diri untuk memanjatkan doa bersama. Tangan-tangan yang menengadah menjadi simbol harapan akan keberkahan dan keselamatan.
Doa yang dipanjatkan pun sederhana namun penuh makna. Mereka berharap bisa kembali dipertemukan dengan Ramadhan dan Idul Fitri di tahun-tahun berikutnya.
Momen ini menjadi pengingat Lebaran bukan hanya soal kemenangan pribadi. Ada nilai kebersamaan dan spiritualitas yang turut menguatkan ikatan sosial antarwarga.
Baca Juga: Unggah Video Vidi Aldiano Kumandangkan Takbir, Harry Kiss Ingin Vidi 'Tetap Hidup'
Menariknya, setiap tuan rumah menyambut rombongan dengan penuh antusias. Hidangan khas Lebaran tersaji rapi, seolah menjadi bahasa universal untuk mempererat keakraban.
Aneka jajanan tradisional yang kini mulai jarang ditemui ikut hadir. Dipadukan dengan kue kering modern, suguhan ini menjadi pelengkap obrolan hangat di setiap kunjungan.
Suasana cair langsung tercipta begitu rombongan duduk bersama. Tawa ringan dan cerita keseharian mengalir tanpa sekat.
Wat-watan seolah menghapus batas usia dan latar belakang. Semua warga menyatu dalam satu tujuan yang sama, yakni mempererat persaudaraan.
Perjalanan keliling kampung ini berlangsung hingga larut malam. Namun tak ada rasa lelah yang terlihat dari wajah-wajah warga.
Sebaliknya, semangat kebersamaan justru semakin terasa di setiap langkah. Energi positif itu menular dari satu orang ke orang lainnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, rombongan menuju kediaman tokoh agama setempat. Momen ini menjadi bagian penting yang tak pernah dilewatkan.
Di sana, warga meminta nasihat serta doa penutup. Harapannya sederhana, agar kerukunan dan kedamaian di lingkungan mereka tetap terjaga.
Tradisi ini menjadi bukti nyata nilai gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Wat-watan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi cerminan identitas sosial warga Kauman.
Di tengah era digital yang serba cepat, tradisi ini terasa semakin relevan. Bertemu langsung dan berjabat tangan memberikan makna yang tak tergantikan oleh pesan singkat di layar ponsel.
Baca Juga: Hari Kedua Lebaran, Ancol Diserbu Wisatawan: Pengunjung Tembus 43 Ribu, Malam Ini Ada Kembang Api
Interaksi tatap muka menghadirkan kehangatan yang lebih dalam. Ada emosi, kejujuran, dan kedekatan yang sulit digantikan oleh teknologi.
Wat-watan juga menjadi sarana pendidikan sosial bagi generasi muda. Mereka belajar langsung arti kebersamaan, toleransi, dan pentingnya menjaga hubungan antar tetangga.
Tanpa disadari, tradisi ini membentuk karakter masyarakat yang lebih peduli. Nilai-nilai luhur diwariskan secara alami melalui kebiasaan yang terus dijaga.
Di Kauman Bangil, Lebaran bukan hanya tentang pakaian baru atau hidangan lezat. Lebaran adalah tentang berjalan bersama, saling menyapa, dan menguatkan ikatan sebagai satu keluarga besar.
Tradisi “muter kampung” ini menjadi simbol kemenangan yang sesungguhnya. Kemenangan atas ego, kesibukan, dan jarak yang sempat memisahkan.
Wat-watan Lebaran 2026 pun kembali membuktikan satu hal sederhana. Kebahagiaan sejati sering kali hadir dari hal-hal yang paling dekat dengan kita.