← Beranda
Scroll Berita Negatif Terus-Menerus? Hati-Hati Doomscrolling Serang Kesehatan Mental
Zalfa Hanifatul WafaKamis, 21 Agustus 2025 | 15.28 WIB
Ilustrasi seseorang dengan kebiasaan doomscrolling sebelum tidur. (Freepik)

JawaPos.com - Banyak orang, khususnya Gen Z dan Milenial mengawali dan mengakhiri hari dengan menatap layar ponsel. Dari sekedar scroll media sosial hingga membaca berita terbaru.

Tidak bisa dipungkiri, pada era di mana semua serba cepat dan hampir semua informasi tersedia hanya dalam genggaman tangan, menjadikan kebiasaan ini suatu hal yang wajar. Berita yang terus datang tanpa henti, mulai dari isu politik, bencana alam, hingga gosip selebriti kerap membuat kebanyakan orang terjebak dalam berita negatif terus-menerus.

Hal ini juga biasa dikenal sebagai fenomena doomscrolling, yaitu kebiasaan di mana seseorang tanpa sadar terus membaca berita negatif dari ponselnya. Kebiasaan ini bahkan dapat menimbulkan rasa cemas, lelah, dan dampak buruk lainnya.

Seperti yang dilansir dari Antara, berikut beberapa dampak buruk dari kebiasaan doomscrolling.

Baca Juga: Kenapa Doomscrolling Bisa Bikin Otak Overthinking? Ini Dampaknya Bagi Psikologis Kamu!

1. Stres yang meningkat

Membaca berita negatif dapat memicu reaksi alami tubuh, seperti yang biasa dikenal fight to flight, yaitu respons tubuh ketika menghadapi ancaman atau situasi stres.

Saat seseorang terus-menerus terpapar informasi yang mengganggu, tubuh otomatis bersiap menghadapi bahaya, meskipun sebenarnya ancaman itu tidak terjadi secara langsung.

Dampaknya bisa terlihat dari detak jantung menjadi lebih cepat, napas pendek, hingga tubuh bergetar.

2. Rasa cemas berlebih dan depresi

Studi jurnal psikolog Inggris menemukan bahwa hanya dalam waktu 14 menit setelah terpapar berita negatif, seseorang bisa menunjukkan tanda-tanda kecemasan berlebih hingga depresi.

Kondisi ini akan semakin memburuk jika individu tidak bisa mengendalikan perasaan mereka ketika membaca berita negatif tersebut. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko depresi.

3. Dorongan untuk terus memantau media sosial

Dunia digital yang dipenuhi dengan berbagai artikel atau berita dengan judul clickbait dapat mendorong seseorang untuk terus menelusuri berita terbaru setiap menit.

Jika dibiarkan kebiasaan ini akan membuat seseorang kecanduan, meskipun hal tersebut justru menambah rasa gelisah dan ketidakpuasan.

4. Gangguan tidur

Kebiasaan membaca berita negatif sebelum tidur juga dapat membuat seseorang kesulitan beristirahat dengan baik. Ini akan merusak kualitas tidur yang baik serta mengakibatkan tubuh dan pikiran menjadi lebih cepat lelah.

5. Mengubah cara pandang

Jika kebiasaan doomscrolling ini dibiarkan dalam jangka waktu panjang, ini akan mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia. Ia akan membentuk pandangan yang lebih buruk terhadap dunia, seperti menganggap lingkungannya tidak aman dan sulit mempercayai orang lain.

Melihat begitu banyak dampak buruk yang disebabkan dari doomscrolling, ini jelas menunjukkan bahwa kebiasaan ini bukanlah hal sepele. Kita perlu lebih waspada dan memahami cara yang tepat untuk mengendalikan kebiasaan tersebut.

Harvard Medical School menyoroti beberapa cara untuk membantu mengurangi kebiasaan ini. Seperti yang disaran oleh Dr. Aditi Nerurkar, seorang dosen Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial, dan Dr. Richard Mollica, seorang profesor psikiatri.

Dilansir dari health.harvard.edu, berikut beberapa cara untuk membuat batasan digital yang memberi otak dan tubuh kesempatan untuk kembali normal.

1. Jauhkan ponsel dari tempat tidur

Hindari kebiasaan langsung membuka ponsel ketika bangun tidur. Letakkan ponsel di luar jangkauan agar ketika bangun, kita lebih dulu melakukan rutinitas pagi seperti sikat gigi dan cuci muka. Ini dapat mengurangi kemungkinan stres akibat doomscrolling.

2. Letakkan ponsel saat bekerja

Ketika bekerja, kita dapat menyimpan ponsel di laci atau beberapa meter dari jangkauan kita. Ini dapat membantu mengurangi gangguan dan memastikan kita tetap fokus pada pekerjaan tanpa tergoda untuk membuka ponsel.

3. Jangan membawa ponsel ke meja makan

Letakkan ponsel di luar jangkauan dan nyalakan mode senyap. Fokus dan nikmatilah makanan yang telah disajikan. Kebiasaan doomscrolling bisa diganti dengan berbincang atau berinteraksi dengan orang di sekitar.

4. Ubah tampilan layar ke mode hitam-putih

Mengurangi tingkat saturasi warna pada layar ponsel membuat kebiasaan scrolling terasa membosankan. Sehingga kita akan cenderung tidak menghabiskan waktu melihat ponsel.

5. Hapus atau matikan notifikasi yang tidak penting

Hindari gangguan dari bunyi notifikasi atau pop-up berita dan pesan yang tidak mendesak. Dengan begitu kita tetap memiliki kendali atas perangkat yang kita gunakan bukan sebaliknya.

6. Fokus pada berita lokal

Berita lokal biasanya cenderung tidak terlalu negatif, tidak seperti berita global yang sering kali penuh dengan hal-hal negatif. Memilih berita yang sesuai dengan lingkungan kita dapat menjaga mood tetap stabil.

7. Tolak berita negatif

Usahakan untuk menolak berita yang mengganggu. Jika ada seseorang yang ingin membagikan cerita tentang kekerasan atau berbau depresif, jangan ragu untuk mengatakan kita tidak tertarik. Cara ini dapat mengontrol apa yang akan masuk ke pikiran kita.

8. Cari pengalaman positif

Cobalah untuk mengikuti kegiatan sosial seperti menjadi relawan di lembaga amal, kelas seni, atau kegiatan yang membawa kebahagiaan emosional.

9. Konsultasi ke dokter

Jika merasa benar-benar tidak berhenti dari kebiasaan doomscrolling, mungkin sudah saatnya untuk datang konsultasi ke dokter.

Dr. Mollica menegaskan, "sebagian orang benar-benar membutuhkan bantuan profesional, dan tempat terbaik untuk memulainya adalah dengan datang ke dokter, karena beberapa masalah memang sulit diatasi sendiri."

Dari sini kita paham bahwa fenomena doomscrolling menunjukan bagaimana teknologi dapat memberi manfaat sekaligus jebakan bagi penggunanya, terutama bagi para Gen Z dan Milenial yang begitu dekat dekat dunia digital.

Setelah memahami dampak buruk serta cara pencegahannya diharapkan kita semua dapat lebih bijak dalam penggunaan ponsel dan perangkat di kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, kesehatan mental lebih penting daripada mengikuti arus berita yang terus silih berganti setiap detiknya. Menyadari kapan harus berhenti adalah langkah kecil untuk dampak besar bagi diri sendiri. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah