JawaPos.com - Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo menilai, serangan cyber saat ini sangat banyak dari mana pun. Saat ini Inonesia memiliki unit Cyber Deffence di Kementerian Pertahanan, Cyber Intelligence di Badan Intelejen Negara (BIN), dan Cyber Security di tubuh Polri.
Oleh karena itu, pemerintah diminta tak hanya fokus pada rencana pembentukan Badan Cyber Nasional (BCN). Namun harus dibarengi dengan penguatan unit cyber di lembaga pertahanan lainnya yang selama ini sudah terbentuk.
”Perlu penguatan juga di BIN, kepolisian dan Kementerian Pertahanan. Semua unit cyber itu menjadi sangat penting untuk menangkal potensi serangan siber yang marak belakangan ini," kata Bambang dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (15/1).
"Termasuk serangan yang mengganggu aspek pertahanan dan keamanan nasional, serta serangan yang berpotensi merusak ketertiban umum,” sambungnya.
Politisi asal Partai Partai Golkar ini menilai tantangan semakin hari semakin banyak dan tereskalasi. Dia menjelaskan, eskalasi tantangan itu bisa dilihat dari keberhasilan agen rahasia Rusia menjebol pertahanan cyber Amerika Serikat (AS).
Ketua Pemenangan Badan Pemilu Partai Golkar wilayah Jawa Tengah ini berharap pemerintah setelah melihat pengalaman buruk AS pemerintah Indonesia dapat menjadikan pelajaran terkait serangan intelijen asing.
”Presiden RI, Ibu negara, sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara pernah menjadi target penyadapan oleh para agen rahasia Defence Signals Directorate Australia. Selama 15 hari sepanjang bulan Agustus 2009, intelijen Australia menyadap kegiatan Presiden RI melalui telepon genggam,” tuturnya. (dil/yuz/JPG)