← Beranda
Perhutani Paling Teratur di Dunia, Gerendel 5.300 Desa di Pulau Jawa
Khairul JasmiMinggu, 15 Maret 2026 | 21.46 WIB
Jati di lahan Perhutani Kendal, Jateng, ditanam pada 1891. (Istimewa)

Hutan jati Jawa adalah salah satu hutan tropis yang paling teratur pengelolaannya di dunia.

***

"Het zal èn het uitdrogen der bronnen, beken en rivieren tijdens den drogen tijd, èn het ontstaan van bandjirs bij hevigen en langdurigen regen belangrijk tegengaan. Een meer gelijkmatige toevoer van irrigatiewater zal daarvan het gevolg zijn, en de schade door bandjirs zal er door verminderen.”

“Hutan tersebut akan membantu mencegah mengeringnya mata air, anak sungai, dan sungai pada musim kemarau, serta mengurangi terjadinya banjir ketika hujan lebat dan berkepanjangan. Akibatnya aliran air irigasi akan menjadi lebih merata dan kerugian akibat banjir akan berkurang.” (Economische studiën en critieken met betrekking tot Java oleh Homan van der Heide, J., Koninklijke Bibliotheek 1901)

Catatan awal abad lalu tentang djaticultuur dan hutan jati sesungguhnya, pelajaran berharga bagi bangsa ini. Kecuali, kita ingin Jawa bernasib buruk. Disadari atau tidak, ekosistem Jawa terabaikan. Jauh hari Belanda susah mengingatkan kepedulian pada hutan. Seperti ini:

“Keberadaan hutan-hutan tersebut juga akan memberikan pengaruh yang sangat baik terhadap iklim, dengan sesekali menimbulkan hujan pada musim kemarau, melindungi dari angin yang mengeringkan, serta mengurangi panas udara, ” lanjutan catatan Homan van der Heide.

Setahu saya tingkat keseriusan kita sebagai bangsa pada hutan memang di bawah garis tengah. Bahkan khusus untuk Jawa, Perhutani nyaris dibiarkan sendirian.

Catatan orang yang sama:

“Bovendien zal bij eene irrigatie met water, dat van eene met bosch begroeide helling afvloeit, grootere vruchtbaarheid worden verkregen dan bij het gebruik daarvoor van water dat van eene met gras begroeide helling naar beneden komt.”

(“Selain itu, jika irigasi menggunakan air yang mengalir dari lereng yang berhutan, kesuburan tanah akan lebih besar dibandingkan bila air tersebut berasal dari lereng yang hanya ditumbuhi rumput.”)

Gerendel Desa

Bagaimana rimba Jawa dalam sejarah pulau itu? Miriplah dengan permukiman di sekitarnya. Bahkan desa-desa tepi hutan jati, pinus, dan mahoni di Jawa, merupakan gerendel tua bagi jalan-jalan sempit yang masuk ke dalam rimba. Kayu-kayu setua sejarah itu sejak lama hingga kini telah menghidupi desa.

Kini tak ada lagi rel besi menuju jantung hutan. Yang ada, jalan tanah dan aspal. Mobil bisa masuk. Waktu mengubah banyak hal. Tapi tidak pada satu hal: ketergantungan pada hutan. Setidaknya, ada lima ribu desa tepi rimba tergantung pada hutan Perhutan. Hampir 30 juta orang masih menambatkan hidupnya pada hutan, ada 5.000 mata air. Oksigen, kesuburan. Halang rintang pada longsor dan banjir.

Kemudian, waktu mengubah banyak hal. Tapi, tidak pada ketergantungan pada hutan. Yang terjadi, hutan kian sedikit, penduduk makin bertambah. Jawa yang tabah, tak kuasa melarang waktu mengambil hutanya. Kian ke depan, makin sedikit.

Baca Juga: Perhutani, Kisah Panjang Rimba Jawa Sejak Dua Abad Silam

Keterlibatan Rakyat

Kekejaman Belanda kepada inlander takkan bisa ditandingi suku bangsa lain, mungkin. Kecuali, mungkin oleh nasib buruk rakyat Ambon dalam tragedi amat buruk, Pelayaran Hongi zaman VOC.

Perlu dikemukakan, rakyat Jawa terlibat begitu intensif dalam djaticultuur. Dalam tenaga kerja, petani sela (tumpangsari), pengangkut kayu, dan mandor lokal.  Mereka mendapat upah mesti kecil,  bertani, dan aktivitas ekonomi desa.

Dalam pulau seluas kl  132.000 km², kawasan hutan sekitar 23–24% dari luas pulau. Setara ±3,0 juta hektare kawasan hutan. Tetapi, tidak semua hutan itu dikelola oleh satu lembaga. Perhutani mengelola sekitar ±2,4 juta hektare hutan di Jawa tapi kemudian digunting Kementerian Kehutanan 1,1 juta hektare untuk rakyat. Dan, praktiknya melenceng.

Sebenarnya, hutan Perhutani sudah tak bisa dipisah dari rakyat. Perhutani selalu bersama mereka. Bukannya menggunting tapi memberdayakan, sesuai gaya pemerintah. Lihat Sumatera, hutannya dilepas, yang terjadi justru bencana.

Dalam catatan kolonial, juga sekarang, hutan Perhutani paling luas ada di Blora, Bojonegoro, Tuban, Grobogan, Ngawi, Madiun, Banyuwangi, dan Bondowoso. Daerah ini sabuk hutan jati Jawa yang sejak zaman kolonial disebut djaticultuur.

Hutan jati itu meski tak seperti rimba raya, bukan hanya sumber kayu, tapi soal kehidupan. Menjaga sumber air, iklim lokal, kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati. Itulah sebabnya, hutan  harus dijaga Tapi apapun cerita tentang teori, tapi hutan rusak, tak ada gunanya.

Baca Juga: Penyusutan Lahan Hutan di Jatim dan Jateng Melebihi Luas Singapura, Ada Potensi Banjir Bandang

Agar hutan bertahan utuh, diperlukan empat hal utama. Pertama, perlindungan hukum yang kuat. Kedua, pengelolaan hutan berkelanjutan. Ketiga, keterlibatan masyarakat desa. Dan keempat, perlindungan fungsi ekologis hutan. 

Jika salah satu dari empat hal ini hilang, biasanya hutan akan cepat rusak.

Desa Tepi Hutan

Bagaimana ceritanya, jika 1,1 juta hutan Perhutani dilepas? Sama dengan truk di penurunan putus rem. Ada 5.300 desa tepi hutan di Jawa. Ini belum pernah terjadi. Yang ada, dokumen-dokumen Belanda menunjukkan sejak pertengahan abad ke-19 pemerintah kolonial menerapkan sistem kehutanan ilmiah di Jawa meliputi tebang pilih, rotasi, pembibitan dan pengawasan hutan.

Padahal, hutan jati di Jawa justru menjadi salah satu hutan yang paling terjaga di Asia selama 200 tahun, sementara banyak hutan lain di Nusantara hilang. Dan, sebentar lagi kita akan jadi saksi, hutan di Jawa setengahnya akan rusak dan hilang.

Sejak abad ke-19 Belanda membangun dinas kehutanan modern di Jawa. Belanda membuat batas hutan negara, penjagaan hutan, aturan penebangan, rencana rotasi pohon (bisa 60–80 tahun). Ini yang kemudian menjadi dasar lembaga kehutanan Perhutani sekarang.

Mesti dicatat: sekitar lima ribu desa di Pulau Jawa, hutan yang dikelola Perum Perhutani bukan sekadar tegakkan pohon. Dari rimba itulah nafkah dicari, air kehidupan dijaga dan rasa aman desa dipertaruhkan. Perhutani sepanjang usianya menjalin kerjasama dengan penduduk desa.

Baca Juga: Hutan Jati di Taman Nasional Baluran Situbondo Terbakar

Kira-kira 1 dari setiap 5 desa di Jawa adalah desa tepi hutan. Rata-rata desa di Jawa berisi 5–6 ribu orang, maka, sekitar 27–30 juta penduduk hidup di desa-desa tepi hutan tersebut. Itulah sebabnya hutan Perhutani bukan hanya soal kayu, tetapi juga ruang hidup bagi puluhan juta orang desa di Jawa. Sebarannya di Jawa Tengah: ±2.200 desa; Jawa Timur: ±2.000 desa; dan Jawa Barat–Banten: ±1.100 desa.

Artinya apa? Perhutani adalah perusahaan besar yang mesti diberlakukan dengan rasa hormat. Tugas Perhutani di Jawa tak bukan menjual jati. Yang dijaganya adalah hutan yang menopang hidup sebuah pulau. Yanh dijaganya sesungguhnya rimba yang menahan air, tanah dan hidup ratusan juta orang. Tidak ada perusahaan yang seperti ini. Hanya Perhutani dan itu sudah 200 tahun.(*)

*) Khairul Jasmi, wartawan di Padang, novelis, dan praktisi media. Novel terbarunya berjudul "Perempuan yang Mendahului Zaman". Sebuah novel biografi tentang Syekhah Rahmah El Yunusiyyah.

EDITOR: Ilham Safutra