← Beranda
Ke Mana Pergi Penggemar Rinto, Pance, dan Obbie?*
Mahfud Ikhwan• Minggu, 11 Juni 2023 | 16.12 WIB
ILUSTRASI

 

Ada dua jenis musik yang diketepikan media arus utama dan khalayak berkebudayaan di Indonesia pada umumnya. Pertama, dangdut (termasuk akarnya, musik Melayu); kedua, pop cengeng.

KEDUA jenis musik ini diremehkan pada masa jayanya, disebut tak bermutu tanpa disimak dengan layak. Dan setelah mulai jadi kenangan, dilabeli ”lawas” di belakangnya, kita bahkan sulit menemukan ratapan atau obituari tentangnya. Kecuali, barangkali, beberapa komentar setengah putus asa di YouTube, oleh para penggemar yang tak biasa mengartikulasikan perasaannya dalam bahasa tertulis.

Musik-musik ini dianggap melayani selera buruk kelas bawah. Ia diejek kritikus kelas menengah snob di majalah-majalah musik, tak punya tempat di majalah-majalah remaja yang menjual gaya anak muda kota, dan tak cukup menarik perhatian koran/majalah arus utama dengan pembaca intelek (kecuali sangat sedikit dan biasanya penuh stigma).

Dan barangkali karena anggapan yang sama, oleh negara, kedua jenis musik itu bisa kita temukan secara bersamaan di acara-acara musik untuk khalayak banyak di TVRI, satu-satunya saluran TV di tiga perempat masa berkuasanya Orde Baru. Kita dapati para penyanyi dangdut dan pop cengeng berbagi panggung dan layar di acara semacam Aneka Ria Safari dan Album Minggu Kita. (Sementara musik pop yang dianggap lebih berkelas ditayangkan di Selecta Pop.)

Pop cengeng dan dangdut mengalami persimpangan nasib pada akhir ’80-an. Beberapa tokoh Orde Baru mengekspresikan ketaksukaannya secara publik terhadap musik pop dengan syair penuh ratapan ini. Pada saat yang sama, mereka memuji dangdut sebagai ”musik asli Indonesia”. Secara politik, fenomena ini berbarengan dengan kecenderungan Orde Baru mendekat ke kalangan Islam. Dan itu bukan kebetulan.

Toh, kedua jenis musik ini, dengan satu dan lain cara, sama-sama terpukul sangat keras pada tahun-tahun terakhir Orde Baru. Dominannya MTV dan merajanya band-band pop/rock di paro terakhir ’90-an hanya menegaskan saja.

Di titik inilah kedua musik ini menunjukkan daya hidup yang berbeda.

***

Pascareformasi, dangdut mengalami kemerosotan di satu sisi, tapi menunjukkan kebangkitan di sisi lain. Jeblok di jalur formal (jumlah rekaman), dan ”rusak” oleh album-album remix, di masa ini dangdut masih menelurkan lagu/album yang kemudian menjadi klasik. Mata Air Cinta (1998) dari Meggy Z, Trauma (1999) dan Terguncang (2002) dari Yunita Ababiel, dan single ”Aku Rindu Padamu (Unplugged)” (2003) dari Evie Tamala untuk menyebut beberapa. Namun, semua itu tertutupi oleh kemunculan dua fenomena: Alam (Mbah Dukun, 2002) dan Inul Daratista (Goyang Inul, 2003). Nama terakhir kemudian menandai hadirnya dangdut koplo dalam khazanah budaya pop kita.

Di pihak lain, kita sepertinya tak mendengar apa-apa lagi dari pop cengeng, menjelang maupun setelah milenium baru. Kurang dari satu dekade sejak para menteri menunjukkan kejijikannya pada musik ini, semuanya tiba-tiba jadi ”lagu nostalgia”. Setelah digusur oleh slow rock melankolis (berpuncak pada lagu-lagu Nike Ardilla) dan dipertegas oleh kehadiran rock Malaysia, pasca-’98 musik ini boleh dikatakan telah habis dikubur oleh berjayanya era band.

Betharia Sonatha, representasi paling menonjol dari musik ini, paling akhir mengeluarkan album yang bisa cukup dicatat pada 1995, Tak Mungkin Lagi, yang dalam beberapa hal sudah sedikit berbeda corak musiknya. Nama lain yang menonjol, Tommy J. Pisa, menelurkan album yang tak begitu diingat, Sarah, juga di tahun yang sama. Namun, kurang lebih di waktu yang sama pula Tommy bersama nama-nama lain seperti Endang S. Taurina dan Dewi Purwati justru mulai menyeberang ke dangdut.

Barangkali karena ”kelokan di ujung lorong” inilah kedua jenis musik ini juga mendapatkan respons yang berbeda. Sejak kemunculan Inul, yang secara bersamaan juga mengekspos sikap misoginis Rhoma Irama, dangdut tiba-tiba menjadi musik yang menarik untuk dibicarakan oleh para ahli. Dan itu membuat kajian atas dangdut, sesuatu yang sepi sepanjang kejayaan musik ini, menjadi ramai sejak dimulainya paro pertama 2000-an. Sebaliknya, kita tetap tak menemukan apa-apa tentang pop cengeng. Para pengkaji gender, peneliti politik dan kebudayaan, atau peminat budaya pop secara umum sepertinya tak tertarik atau kadang terasa dengan ceroboh melewatinya.

Di dua buku yang mengkaji secara representatif musik pop Indonesia dan Asia Tenggara yang belum lama ini saya baca, saya tak temukan singgungan atas pop cengeng kecuali sangat sedikit. Pada laporan lapangan yang sangat kaya dari penelitian Jeremy Wallach antara 1997–2001, kita bisa temukan lema ”pop nostalgia”, tapi sayangnya yang ia sebut lebih banyak adalah Leo Kristi, Gombloh, dan Franky Sahilatua. Nama paling mendekati tentu saja Broery Marantika dan Arie Wibowo, meski itu tetap jauh dari memadai. Pada buku keroyokan yang diedit Bart Barendregt, Sonic Modernity in the Malay World, kita nyaris bisa temukan semua jenis musik dari semua era kecuali pop cengeng. Pada dua tulisan Andrew Wintraub dan Emma Baulch yang sama-sama membahas pop Indonesia dan pop Melayu (pertama di era ’60–’70-an, kedua di era 2000-an) nama (dan hati) Rinto dkk yang berjaya di era ’80-an secara nahas terlewatkan.

***

Musik tak bisa dikotak-kotakkan. Musik melibas semua batas. Demikian kalangan romantik biasa tegaskan. Kenyataannya, manusia di balik musik (musisi, penjual, hingga penikmatnya) membawa atribut masing-masing ke musik. Industri musik bekerja dengan pemetaan pasar di kepala para bakulnya, dan itulah yang kemudian membentuk realitas bahwa musik berbeda dinikmati oleh masyarakat yang berbeda. Pada akhirnya, musik merepresentasikan kelas. Dan sudah digariskan dangdut dan pop cengeng, misalnya, sama-sama diciptakan, dipasarkan, dan kemudian diidentifikasi sebagai musik kelas bawah.

Sebagaimana ia ”berkelas” dan ”bersuku bangsa”, musik juga ”beragama”. Dangdut dan Islam, dengan segala kontradiksi dan anomalinya, punya keterkaitan yang sulit dibantah. Untuk mengatakan itu, saya bahkan merasa tak perlu mengutip Wallach atau Weintraub. Dan dengan yakin saya juga berani katakan, pada agama atau setidaknya corak keberagamaannya, basis penggemar pop cengeng berbeda dengan dangdut. Jauh dari kebetulan, nama-nama yang jadi pilar pop cengeng, semisal A. Riyanto, Rinto Harahap, Pance Pondaag, hingga Obbie Messakh, adalah orang-orang Kristiani, sebagaimana sulit menepis bahwa musik ini mengambil banyak elemen dari musik rohani.

(Mungkin tak persis-persis amat, tapi sejak lama saya membayangkan, dalam sebuah pemilu Orde Baru di pertengahan ’80-an, kebanyakan penggemar dangdut akan memilih PPP, sementara penikmat pop cengeng akan memilih PDI –dan lewat acara macam Aneka Ria Safari, misalnya, penguasa Orde Baru ingin membuat kedua kelompok beralih ke Golkar, sebuah upaya yang kemudian berhasil secara gemilang di awal ’90-an.)

Untuk penggemar dangdut, terutama karena kita tahu perkembangannya terkini, rasanya tak sulit melacak bagaimana dan ke mana mereka. Yang masih kukuh dengan dangdut ala Rhoma-Elvy, kita bisa temukan mereka mengeluhkan dangdut koplo yang ”menyimpang”, sembari menunggui kontes-kontes dangdut di televisi dan terus menghibur diri akan menemukan ”generasi penerus” pada diri Lesti atau Fildan. Sementara, mereka yang abai dengan imbauan-imbauan moral dan musikal ala Rhoma dan tak terlalu membedakan dangdut lama dengan produk-produk percabangannya, biasanya mereka adalah penggemar muda, dengan tangan terbuka dan hati rela jadi bagian dari histeria massa penggemar koplo.

Tapi, di manakah para penggemar pop cengeng?

Bahwa pop cengeng masih terus diputar di bus-bus antarprovinsi, dan ramai dinyanyikan di bilik-bilik karaoke, itu adalah tanda bahwa musik itu masih tetap ada, dan para penggemar lamanya masih menyetiainya. Tapi, ke mana perginya generasi baru dengan spesifikasi yang sama, yang dulu menyukai Nia Daniati dkk?

Dengan sedikit menyederhanakan kompleksitasnya, saya menduga, dan ini dugaan kuat, bahwa merekalah yang hari ini kita kenal sebagai Sobat Ambyar. Mudah untuk saya membayangkan, para penggemar ”Kertonyono Ninggal Janji” atau ”Mendung Tanpa Udan”, jika dilahirkan 30 tahun lebih awal, akan menyukai ”Gelas-Gelas Kaca”. (*)

*Bagian pertama dari dua tulisan

---

MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

EDITOR: Ilham Safutra