JawaPos.com - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Irfan Yusuf menyebut bahwa biaya Haji tahun 2027 kemungkinan akan naik mengingat penurunan nilai rupiah hingga naiknya harga avtur. Namun, kenaikan itu sebisa mungkin ditekan agar tidak membebani jemaah Indonesia.
"Kemungkinan besar ada kenaikan (biaya haji 2027), tapi kita upayakan bagaimana kalau toh ada kenaikan nanti tidak sampai memberatkan kepada jemaah kita," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (4/7).
Irfan menegaskan bahwa kenaikan biaya haji tahun depan tidak bisa dipungkiri dengan berbagai kondisi ekonomi global saat ini.
"Kita tidak bisa mengelak depresiasi mata uang kita, nilai harga dari avtur, dan Pemerintah Saudi juga merubah beberapa layanan, meningkatkan beberapa layanan yang otomatis juga akan berpengaruh pada harga dari layanan itu sendiri," tuturnya.
Baca Juga: Pesawat AMA Air Dibakar dan Pilot Ditembak, Polisi: Pelaku Grup Baru KKB di Yahukimo
Oleh karena itu, ia menyebut bahwa Kemenhaj bersama Komisi VIII DPR RI masih menghitung angka biaya yang layak dan tidak memberatkan jemaah haji Indonesia.
"Nanti akan kita bicarakan, kita bahas dengan teman-teman dari Panja DPR. Saya kira itu secara umum," tandas Irfan.
Sebelumnya, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Irfan Yusuf meminta seluruh jajaran penyelenggara haji terbuka mengungkap berbagai kekurangan selama pelaksanaan ibadah haji 2026. Dengan catatan, bukan dengan niat untuk saling menyalahkan tetapi untuk memperbaiki di penyelenggaraan haji berikutnya.
"Banyak hal yang akan tentu kita evaluasi nanti. Saya minta dievaluasi nanti kita tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua harus kita buka berbagai kesalahan, berbagai kekurangan kita buka selebar-lebarnya tanpa berpretensi untuk menyalahkan satu sama lain," ujar Irfan saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Haji 2026, Sabtu (4/7).
"Kita buka kesalahan-kesalahan, kita buka kekurangan-kekurangan dengan tujuan untuk perbaikan, bukan untuk saling menyalahkan," imbuhnya.