← Beranda
Buka Rakernas Evaluasi Haji, Menhaj Minta Tak Ada yang Ditutup-tutupi, Pelayanan di Mina Jadi Sorotan
Tazkia Royyan HikmatiarSabtu, 4 Juli 2026 | 18.13 WIB
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Irfan Yusuf. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Irfan Yusuf meminta seluruh jajaran penyelenggara haji terbuka mengungkap berbagai kekurangan selama pelaksanaan ibadah haji 2026. Dengan catatan, bukan dengan niat untuk saling menyalahkan tetapi untuk memperbaiki di penyelenggaraan haji berikutnya.

"Banyak hal yang akan tentu kita evaluasi nanti. Saya minta dievaluasi nanti kita tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua harus kita buka berbagai kesalahan, berbagai kekurangan kita buka selebar-lebarnya tanpa berpretensi untuk menyalahkan satu sama lain," ujar Irfan saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Haji 2026, Sabtu (4/7).

"Kita buka kesalahan-kesalahan, kita buka kekurangan-kekurangan dengan tujuan untuk perbaikan, bukan untuk saling menyalahkan," imbuhnya.

Irfan mengatakan, rakernas evaluasi harus menjadi momentum untuk membenahi berbagai aspek pelayanan haji. Menurutnya, setiap catatan yang muncul selama operasional haji 2026 perlu dirumuskan menjadi langkah perbaikan yang konkret.

Baca Juga: Hasil Visum Jenazah Pilot AMA Air Tunjukkan Tembakan Jarak Dekat Sebabkan Kerusakan Berat di Dasar Tengkorak

Ia mencontohkan, pelayanan di Mina yang masih menjadi salah satu titik lemah dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Karena itu, pembahasan mengenai perbaikan layanan di kawasan tersebut harus menjadi salah satu fokus utama dalam rakernas.

"Berbagai hal yang sudah disinggung oleh Ketua Komisi VIII tadi tentu menjadi catatan juga bagi kami, termasuk bagaimana kita bisa memperbaiki pelayanan kita di Mina. Kita tahu Mina menjadi salah satu titik kelemahan kita dalam pelayanan kemarin. Apa pun yang bisa kita lakukan untuk perbaikan Mina tentu harus kita rumuskan pada rakernas evaluasi ini," bebernya.

Selain pelayanan di Mina, Irfan juga menyoroti aspek kesehatan jemaah yang menurutnya masih memerlukan perhatian serius. Meskipun angka kematian jemaah haji pada 2026 berhasil ditekan sekitar 25 persen dibandingkan sebelumnya, jumlah tersebut dinilai masih terlalu tinggi.

"Angka kematian sekitar 350 jemaah masih besar. Karena itu, salah satu pekerjaan rumah nanti adalah terkait dengan istitaah kesehatan," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Irfan juga mengungkapkan sejumlah inovasi yang diterapkan pada penyelenggaraan haji 2026, di antaranya alokasi kuota provinsi yang lebih berkeadilan, penurunan biaya haji sebesar Rp 2 juta, hingga pembagian kartu Nusuk kepada jemaah sejak masih berada di Tanah Air. Menurutnya, berbagai pembaruan tersebut telah memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh para jemaah.

Ia berharap, hasil evaluasi dalam rakernas dapat menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan haji pada tahun-tahun mendatang. Sehingga, berbagai kekurangan yang masih ditemukan tidak kembali terulang.

EDITOR: Sabik Aji Taufan