← Beranda
Rupiah Diprediksi Melemah, Sentimen Global dan Fitch jadi Sorotan 
Djati Waluyo• Jumat, 23 Oktober 2026 | 14.26 WIB
Ilustrasi uang Rupiah tunai. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Jumat (23/10), setelah sebelummya ditutup melemah sebesar 38 poin menjadi Rp 18.060 per dolar AS pada perdagangan Kamis (22/10).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (23/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.060 - Rp 18.110,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Jumat (23/10).

Ibrahim mengatakan, dari eksternal, pelaku pasar mencermati penguatan bursa saham Amerika Serikat yang didorong oleh lonjakan saham sektor teknologi seiring tingginya antusiasme terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Meski agenda ekonomi AS relatif sepi, perhatian investor mulai tertuju pada pertemuan bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) pekan depan. 

“Pasar juga menanti rilis data inflasi yang menjadi acuan utama bank sentral AS, yakni Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti atau Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE),” ujarnya.

Sementara dari dalam negeri, sentimen datang dari penilaian lembaga pemeringkat Fitch Ratings terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Fitch menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah masih berpotensi kuat, meski diperkirakan tetap berada di bawah target pemerintah sebesar 8 persen.

Pada 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, lebih tinggi dibandingkan target tahun ini sebesar 5,4 persen. Namun, Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia belum akan mencapai target tersebut.

Fitch juga menyoroti risiko meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta berkurangnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan pemerintah. Risiko tersebut muncul di tengah proses pengambilan kebijakan yang semakin tersentralisasi.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi jangka menengah Indonesia turut ditopang perkembangan makroekonomi terkini di tengah kenaikan harga energi global. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tercatat mencapai 5,45 persen secara tahunan atau year on year (yoy), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,1 persen.

Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengkritik usulan tersebut dan menegaskan Indonesia tidak akan gentar menghadapi rencana perubahan klasifikasi pasar saham. Prabowo juga membuka opsi penghematan anggaran yang lebih besar apabila diperlukan.

EDITOR: Kuswandi