JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan awal pekan Senin (5/10) namun ditutup melemah, di rentang 17.880-17.930 per dolar AS.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (2/10), mata uang Rupiah ditutup menguat 84 poin -setelah sebelumnya sempat menguat 85 poin- di level 17.882 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level 17.965 per dolar AS.
"Sedangkan perdagangan dalam pekan depan di rentang 17.750-18.050 per dolar AS," ujar pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuabi dalam analisisnya, dikutip Senin (5/10).
Pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan Senin (2/10) dipengaruhi sentimen dalam dan luar negeri.
Dari domestik, kebijakan Bank Indonesia, memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter, membuka ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan.
Perluasan tersebut dilakukan dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai underlying operasi moneter.
Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market) dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).
"Operasi moneter pro-market memungkinkan kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan," ungkap Ibrahim.
Transmisi kebijakan moneter perlu mengalir melalui pasar uang dan pasar valuta asing agar dapat memengaruhi transaksi serta pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga.
Melalui perluasan underlying ini, perbankan mendapatkan instrumen yang lebih beragam dalam mengelola likuiditasnya. Di sisi lain, korporasi penerbit surat berharga juga memperoleh dukungan terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan instrumennya di pasar sekunder.
Sementara itu, dari faktor eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah versus Amerika Serikat (AS) serta ekspektasi penyesuaian suku bunga bank sentral AS menjadi perhatian pelaku pasar.
Di tengah meningkatnya spekulasi bahwa konflik AS-Iran dapat memanas setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada bulan November, The Wall Street Journal melaporkan bahwa AS akan mengirimkan tambahan 10.000 tentara ke Timur Tengah dan Trump berencana untuk kembali melancarkan serangan bom terhadap Iran pada bulan November.
"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," jelas Ibrahim.
Para pejabat The Fed, yang dipimpin oleh Wakil Ketua Philip Jefferson, menyatakan bahwa perekonomian berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal, sembari menekankan perlunya sikap sabar terkait penyesuaian suku bunga.
Di sisi lain, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, tetap bersikap hawkish dengan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Pasar sedang menantikan laporan nonfarm payrolls bulan September yang akan dirilis pada hari Jumat (9/10) ini. Para ekonom memperkirakan pemberi kerja di AS telah menambah hampir 90.000 lapangan kerja turun dari 162.000 pada bulan Agustus. Sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di angka 4,1 persen.
Namun, data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini. "Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya," pungkas Ibrahim.