JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Selasa (29/9), setelah sebelummya ditutup melemah 75 poin menjadi Rp 17.978 per dollar AS pada perdagangan Senin (28/9).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dan dalam negeri.
"Untuk perdagangan (29/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.900 - Rp 17.950,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Selasa (28/9).
Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi perhatian pasar, terutama perkembangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan harga energi global.
Baca Juga: Sejumlah Fakta Menarik tentang Film CONJURIG, Tayang 1 Oktober 2026
Situasi Selat Hormuz memanas, setelah delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz.
Serangan ini terungkap dari laporan NBC News pada hari Minggu, yang mengutip tiga pejabat Amerika. Para anggota Korps Marinir tersebut tidak mengalami luka serius. Namun, mereka dilaporkan mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis setelah mengalami gejala seperti gegar otak, termasuk sakit kepala.
“Menambah kekhawatiran terkait pasokan, pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman juga telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal komersial di Laut Merah,” ujarnya.
Pada hari Sabtu, Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh kelompok Houthi; peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah mereka mencegat enam rudal yang ditujukan ke arah Taif dan wilayah Yanbu.
Ibrahim mengatakan, harga minyak dunia yang bertahan di atas USD 90 per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia. dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal.
Pasalnya, asumsi Indonesia Crude Price dalam APBN 2026 berada di USD 70 per barel, sedangkan ICP Juli telah mencapai USD 81,68 per barel.
Menurutnya, ICP pada kisaran USD 80 hingga USD 90 per barel masih dapat dikelola apabila kenaikan berlangsung sementara. Namun, tekanan fiskal akan semakin besar jika ICP bertahan di kisaran USD 90 hingga USD 100 per barel atau lebih selama beberapa bulan.
“Dalam kondisi tersebut, pemerintah memiliki sejumlah opsi, mulai dari menambah subsidi dan kompensasi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan harga energi domestic,” ucapnya.
Baca Juga: Distribusi Biodiesel Indonesia Hadapi Tantangan, Konektivitas Maritim Jadi Kunci
Ia mengatakan, berdasarkan estimasi dalam dokumen fiskal pemerintah, setiap kenaikan ICP USD 1 per barel dapat meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp 3,5 triliun hingga Rp 4 triliun.
Namun, belanja negara berpotensi naik sekitar Rp 10,3 triliun, sehingga defisit dapat melebar sekitar Rp 6,8 triliun. Sebagai negara net oil importer, Indonesia menghadapi tekanan fiskal lebih besar ketika kenaikan harga minyak berlangsung lama.
Kondisi perekonomian akhir September tak lepas dari tantangan. Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan diambil di tengah berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Meski melemah, posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap solid di kisaran USD 146,5 miliar diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan yang memadai untuk melakukan stabilisasi nilai tukar,” ungkapnya.