← Beranda
Dibayangi Sikap Hawkish The Fed dan Data Ekonomi AS, Rupiah Berpotensi Tertekan
Djati Waluyo• Senin, 28 September 2026 | 14.11 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Senin (28/9), setelah sebelummya ditutup menguat 13 poin menjadi Rp 17.903 per dollar AS pada perdagangan Jumat (25/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dan dalam negeri.

"Untuk perdagangan (28/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.800 - Rp 18.100,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Senin (28/9).

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi perhatian pasar, terutama perkembangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan harga energi global.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah Tembus Rp 18.000 Pekan Ini, Dolar AS Masih Menguat

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa Washington dan Beijing sepakat memperpanjang gencatan senjata perdagangan hingga 10 Januari 2027. Presiden AS Donald Trump juga menjamu pemimpin Tiongkok Xi Jinping dalam jamuan makan malam kenegaraan. Keduanya turut membahas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Namun, sentimen positif dari hubungan AS-Tiongkok masih dibayangi oleh arah kebijakan The Fed. Sejumlah pejabat The Fed membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan inflasi belum kembali ke target.

Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menyatakan bahwa bank sentral perlu mengembalikan inflasi ke tingkat target. Sementara Presiden The Fed wilayah Cleveland, Beth Hammack, memperingatkan bahwa semakin lama inflasi bertahan tinggi, semakin sulit untuk mengembalikannya ke target.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari data ekonomi AS yang relatif kuat. Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global AS menunjukkan PMI Komposit September berada di level 58,4, atau menjadi level tertinggi dalam lima tahun.

Di sisi lain, klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 19 September, di bawah ekspektasi pasar sebesar 201.000. Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed.

Untuk meredam tekanan terhadap perekonomian dan menjaga stabilitas rupiah, Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia (BI) memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Pertama, optimalisasi pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara terpadu untuk menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Kedua, penguatan sektor eksternal untuk menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal, khususnya yang berasal dari sektor perdagangan dan aliran modal asing (capital inflows).

Baca Juga: KPK Geledah BPN Jatim, Sita Uang Ratusan Juta Rupiah dan Perhiasan Diduga Emas

Ketiga, pengelolaan likuiditas perekonomian dengan memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan, dan sektor riil. Langkah ini juga mencakup respons terhadap dinamika perebutan dana yang dapat memicu kenaikan biaya dana atau cost of fund.

Keempat, pengendalian inflasi melalui penguatan koordinasi penanganan inflasi antara pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).

Kelima, pendalaman pasar keuangan dengan mempercepat pengembangan pasar uang untuk memperlancar transmisi kebijakan sekaligus memperluas basis pembiayaan pertumbuhan ekonomi.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan