← Beranda
Terus Melemah, Rupiah Berpotensi Terperosok ke Rp 18.000 Hari ini
Djati Waluyo• Jumat, 25 September 2026 | 13.33 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Jumat (25/9), setelah sebelummya ditutup turun 98 poin menjadi Rp 17.916 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dalam negeri.

"Untuk perdagangan (25/9) mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah direntang Rp 17.910 - Rp 18.000,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Jumat (25/9).

Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Pengambil kebijakan The Fed memberikan nada hawkish dengan Gubernur Michael Barr pada hari Rabu mengatakan bahwa “penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan” untuk mengendalikan inflasi.

Presiden Fed Richmond Tom Barkin dan Presiden Fed Boston Susan Collins keduanya mendukung kenaikan suku bunga baru-baru ini, dengan alasan tekanan inflasi yang terus berlanjut.

“Kemungkinan bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya di bulan Oktober adalah sekitar 69,7 persen, menurut alat CME FedWatch, naik dari 48,7 persen minggu lalu,” ujarnya.

Sementara itu, di dalam negeri sejumlah ekonom memperingatkan bahwa langkah Bank Indonesia pada bulan September untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil selama tiga bulan berturut-turut mungkin hanya merupakan jeda sementara.

Ibrahim mengatakan, hal tersebut terjadi mengingat masih tingginya risiko eksternal akibat imbal hasil global yang meningkat, harga minyak yang fluktuatif, serta tekanan geopolitik.

“Para pembuat kebijakan juga menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan, belanja rumah tangga yang lesu, dan sentimen pasar yang rentan, terutama karena nilai tukar rupiah masih rawan terhadap kembali menguatnya dolar AS dan arus keluar modal asing,” ucapnya.

Ia mengatakan, jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten.

Kenaikan harga minyak di atas USD 100 per barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi. Terlebih, adanya fenomena El Nino yang juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan.

EDITOR: Estu Suryowati