← Beranda
Respon Ketidakpastian Global, Gubernur BI Destry Damayanti Andalkan Bauran Kebijakan
Djati WaluyoKamis, 3 September 2026 | 02.58 WIB
Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memastikan bank sentral Indonesia akan terus memperhatikan situasi global dalam membuat kebijakan moneter dalam negeri.

Hal tersebut tak terlepas dari kondisi higher for longer pada suku bunga global menjadi salah satu tantangan bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Destry menyebut, berdasarkan asesmen terbaru BI, kondisi suku bunga global masih berada dalam situasi higher for longer. Hal itu tercermin dari tingginya imbal hasil atau bond yield, inflasi yang masih tinggi di negara-negara maju, serta suku bunga yang bertahan pada level tinggi.

“Nah ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik. Jadi faktor-faktor global itu akan sangat juga mempengaruhi banyak latar belakang kami nanti dalam membuat kebijakan domestic,” ujar Destry dalam konferensi pers di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9).

Baca Juga: Transisi Energi Indonesia Masuk Fase Eksekusi, Kementerian ESDM Ungkap Capaian 17,3 Persen

Destry mengatakan ketidakpastian global saat ini masih sangat tinggi, kondisi tersebut dinilai sedikit banyak akan memengaruhi perekonomian Indonesia.

Meski demikian, Destry mengatakan BI memiliki sejumlah instrumen kebijakan yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, kebijakan BI mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Selain itu, BI juga memiliki kebijakan lain yang berkaitan dengan UMKM, ekonomi dan keuangan inklusif, serta pendalaman pasar keuangan.

“Nah tentunya di kebijakan itu kita akan bermain. Mana yang akan lebih pro stability, mana yang akan lebih pro growth,” ucapnya.

Ia mencontohkan kebijakan makroprudensial yang selama ini diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui pemberian insentif kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas.

Maka dari itu, ia menegaskan, kombinasi atau bauran berbagai kebijakan akan tetap menjadi pijakan BI dalam merumuskan kebijakan ke depan.

“Nah jadi kombinasi atau kami sebutnya bauran kebijakan itu akan tetap menjadi, apa namanya, istilahnya, terus bagi kita dalam merumuskan suatu kebijakan,” pungkasnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan