← Beranda
Sinyal Rupiah Hari Ini: Posisi Kurs Dolar di Tengah Wacana Pemangkasan BBM Bersubsidi
Djati WaluyoJumat, 21 Agustus 2026 | 14.31 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali menguat pada perdagangan Jumat (21/8), setelah sebelummya ditutup menguat 92 poin menjadi Rp 17.748 per dollar AS pada perdagangan Kamis (20/8).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.

"Untuk perdagangan (21/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.700-Rp 17.750," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (21/8).

Ibrahim mengatakan, salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari keputusan keputusan pemerintah yang berencana memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi pada tahun 2027.

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite. Pengurangan subsidi BBM tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk melakukan pengendalian subsidi.

“Pasar merespon positif terhadap pemerintah yang berencana memangkas kuota BBM bersubsidi secara signifikan pada 2027,” ujarnya.

Ibrahim menyebut, dengan pemangkasan kuota hingga 58,5 persen masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap BBM subsidi.

Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar USD 75 per barel pada 2027. Angka tersebut masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran USD 83 per barel, Rupiah di angka Rp 17.500.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi. Karena itu, kebijakan pengendalian subsidi BBM perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya transportasi.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah Hari Ini, Hasil Keputusan BI Rate Jadi Sorotan Pasar

“Selain itu, sikap hati-hati masih para investor terus membayangi pasar menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal kedua yang dijadwalkan pekan ini, mengingat defisit pada kuartal pertama sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019 akibat kinerja perdagangan yang melemah akibar gejolak geopolitik di timur tengah yang meyebabkan harga Minnyak mentah dunia terus menguat,” ungkapnya.

 

EDITOR: Kuswandi