JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah serta lonjakan suku bunga Bank Indonesia kini menjadi tantangan berat bagi isi dompet masyarakat. Situasi ekonomi ini memicu kenaikan harga barang dan jasa, yang secara riil menggerus daya beli.
Kendati situasi ekonomi penuh tantangan, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno, mengingatkan agar masyarakat tidak patah arang. Menurutnya, kunci utama menghadapi badai ekonomi ini adalah dengan menyadari perilaku dan situasi keuangan keluarga.
"Sehingga kita bisa melakukan prioritas, kita tetap semakin menjaga disiplin kita, kita juga tetap bisa mengupayakan untuk melakukan proteksi dari berbagai risiko keuangan. Dan tentu saja langkah-langkah yang perlu kita lakukan apa ya jadi kita tidak perlu berputus asa sampai tidak bisa melakukan apa-apa," ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (21/5).
Aturan Baru Dana Darurat: Karyawan vs Freelancer
Di tengah tingginya risiko ketidakpastian kerja seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), meningkatkan jumlah dana darurat kini bersifat wajib. Formula ideal besaran dana darurat pun harus dikaji ulang dan disesuaikan dengan profil profesi serta status keluarga:
Baca Juga: Terkuak Memo Mark Zuckerberg ke Pekerjanya, Ngomong Begini Saat Pecat Ribuan Karyawan Demi AI
Karyawan Tetap: Jika sebelumnya cukup mengumpulkan 3 sampai 4 kali pengeluaran bulanan, kini minimal harus memiliki dana darurat sebesar 6 kali pengeluaran bulanan.
Freelancer & Wirausaha: Karena pendapatan dari klien sangat volatil dan bisa berkurang kapan saja, kelompok ini disarankan mengamankan 9 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.
Sudah Berkeluarga & Punya Anak: Bagi yang memiliki tanggungan besar, batas aman dana darurat berada di angka 12 kali pengeluaran bulanan.
Waktu pemulihan (recovery) untuk mencari penghasilan pengganti di tengah situasi sulit saat ini membutuhkan waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, mencukupi batas ideal dana darurat menjadi benteng pertahanan terbaik agar tidak goyah diterpa badai ekonomi.
"Karena dalam situasi seperti ini, risiko kehilangan pekerjaan, risiko pendapatan kita hilang atau terhenti, itu semakin tinggi. Sehingga perlu ditingkatkan. Apalagi kalau yang belum punya," katanya.
Realita Tekanan Ekonomi dan Jebakan Paylater
Pelemahan rupiah nyatanya tidak hanya berdampak pada level makro, melainkan langsung merembet ke keuangan pribadi. Mike Rini mencontohkan, produk yang komponen produksinya menggunakan bahan impor kini harganya kompak naik. Mulai dari harga makanan di restoran, jajanan, bahan pokok, hingga tarif listrik dan bahan bakar.
Baca Juga: Sopir Taksi Green SM Jadi Tersangka Kecelakaan KRL di Perlintasan Sebidang Bekasi Timur
Kondisi ini memicu penurunan daya beli masyarakat. Dampaknya, porsi pendapatan yang tersisa untuk menabung atau membayar cicilan utang kian menipis. Fenomena menarik yang terjadi di tengah tekanan ini adalah pergeseran psikologis masyarakat yang cenderung mencari jalan pintas lewat pembiayaan instan.
Penggunaan paylater untuk menambal kebutuhan sehari-hari seperti sandang, pangan, hingga elektronik kini kian marak. Namun, Mike Rini mewanti-wanti masyarakat agar tidak terjebak dalam perilaku mengabaikan risiko (avoidance) dengan menggampangkan pinjaman.
"Jangan sampai nanti masyarakat untuk memenuhi biaya hidupnya, untuk menutup defisitnya, dia terbiasa menggunakan pinjaman. Nah, itu harus hati-hati karena kalau kita tidak memperhatikan kemampuan membayar ini, kita tidak menyesuaikan dengan penurunan daya beli ya, berarti kita akan cenderung nanti akan mengalami masalah," tegasnya.