JawaPos.com - Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) saat ini sedang merencanakan restrukturisasi besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor asuransi. Rencana jangka panjang pemerintah adalah memangkas jumlah perusahaan asuransi milik negara sehingga hanya tersisa tiga perusahaan saja yang akan terus beroperasi.
Keputusan untuk merampingkan sektor ini didasarkan pada kinerja perusahaan BUMN asuransi yang menunjukkan hasil yang tidak seragam dalam laporan keuangan terakhir. Sebagai contoh, PT Jasa Raharja dilaporkan masih mencatat kinerja positif yang stabil hingga September 2025. Sebaliknya, PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) justru dilaporkan masih mencatatkan kerugian.
Berikut rangkuman kinerja sejumlah BUMN asuransi yang disebut-sebut akan dikonsolidasi seperti dirangkum oleh JawaPos.com pada Rabu (15/10).
1. PT Jasa Raharja
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba setelah pajak menunjukkan peningkatan yang signifikan, melonjak menjadi Rp 1,20 triliun pada September tahun ini, naik tajam dari Rp 871,31 miliar yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan laba yang dicapai PT Jasa Raharja ini terutama didorong oleh lonjakan pendapatan premi yang mencapai Rp 4,07 triliun hingga September 2025. Angka ini merupakan peningkatan substansial dari capaian sebesar Rp 3,47 triliun di periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain itu, premi neto perseroan juga mengalami kenaikan, menjadi Rp 3,97 triliun dari Rp 3,35 triliun pada posisi September 2024. Dampaknya, pendapatan underwriting Jasa Raharja turut melonjak, mencapai Rp 3,78 triliun dari Rp 3,37 triliun di September 2024.
Sementara itu, jumlah beban underwriting Jasa Raharja tercatat sebesar Rp 2,67 triliun, sedikit menyusut dibandingkan dengan Rp 2,71 triliun pada posisi September 2024. Untuk posisi utang perseroan, tercatat sedikit meningkat dari Rp 991,25 miliar menjadi Rp 993,43 miliar.
Secara keseluruhan, jumlah aset Jasa Raharja juga menunjukkan pertumbuhan, naik menjadi Rp 17,08 triliun hingga September 2025, dibandingkan dengan Rp 15,32 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun rasio tingkat solvabilitas perseroan tercatat sangat kuat, yaitu sebesar 828,12 persen.
2. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo)
PT Jasindo juga melaporkan kinerja keuangan yang positif dengan mencatat kenaikan laba yang signifikan. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis per Agustus 2025, Jasindo berhasil membukukan laba setelah pajak sebesar Rp 117,04 miliar. Angka ini melonjak tajam dibandingkan dengan laba sebesar Rp 20,22 miliar yang tercatat pada posisi Agustus 2024.
Peningkatan laba yang dicapai perseroan terutama didorong oleh pertumbuhan premi bruto, yang naik menjadi Rp 2,71 triliun dari Rp 2,43 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selanjutnya, premi neto Jasindo juga tercatat mengalami kenaikan, mencapai Rp 1,43 triliun, dibandingkan dengan Rp 1,35 triliun pada periode Agustus 2024.
3. PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo)
Meskipun masuk dalam rencana konsolidasi klaster asuransi, PT Jamkrindo sejatinya adalah perusahaan penjaminan dengan peran strategis sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016, berfokus memperluas akses pembiayaan bagi UMKM, korporasi, dan sektor produktif lainnya melalui skema penjaminan kredit.
Hingga September 2025, Jamkrindo menunjukkan kinerja yang stabil di tengah tekanan rasio keuangan tertentu. Total volume penjaminan yang dicapai mencapai Rp 186,76 triliun, merealisasikan 53,59 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025. Jumlah tersebut terbagi atas penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 116,54 triliun dan penjaminan non-KUR sebesar Rp 70,21 triliun.
Dari aspek neraca, total aset perseroan tercatat sebesar Rp 31,87 triliun. Komposisi liabilitasnya mencapai Rp 18,44 triliun, sementara ekuitasnya berjumlah Rp 13,43 triliun.
Pendapatan utama Jamkrindo, yaitu Imbal Jasa Penjaminan (IJP) bruto, mencapai Rp 5,59 triliun, atau 65,53 persen dari target RKAP 2025. Pendapatan juga ditopang oleh pendapatan investasi sebesar Rp 1,19 triliun (79,82 persen dari target) dan pendapatan subrogasi bersih senilai Rp 1,26 triliun (79,90 persen dari target). Bahkan, pendapatan lain-lain melampaui target secara signifikan, mencapai Rp 50,67 miliar atau 354,78 persen.
Di sisi beban, klaim yang dibayarkan tercatat sebesar Rp 3,79 triliun, jauh di bawah target karena hanya terealisasi 49,36 persen dari RKAP 2025. Sementara itu, beban usaha tercatat sebesar Rp 1,46 triliun (79,75 persen dari target). Kemampuan Jamkrindo membayar klaim tepat waktu dan tepat jumlah membuktikan kekuatan finansialnya dan menjaga kepercayaan mitra lembaga keuangan.
Pengelolaan risiko yang hati-hati tercermin dari rasio klaim realisasi terhadap target yang berada di angka 67,82 persen. Efisiensi operasional juga terlihat dari rasio Operating Expense (Opex) yang tercatat 16,48 persen, lebih baik dibandingkan target 17,69 persen.
Berkat kombinasi pendapatan yang solid dan pengelolaan beban yang efisien, Jamkrindo berhasil mencatatkan laba sebelum pajak (EBT) sebesar Rp 1,18 triliun, melampaui target RKAP 2025 hingga 156,72 persen.
Setelah dikurangi pajak sebesar Rp 535,7 miliar, laba bersih perseroan mencapai Rp 646,06 miliar, atau 114,98 persen dari target RKAP 2025. Sejak didirikan pada tahun 1970, Jamkrindo konsisten mencatatkan laba, menegaskan kemampuannya dalam menjaga kinerja usaha yang berimbang antara ekspansi penjaminan, efisiensi, dan profitabilitas berkelanjutan.
4. PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life)
Berdasarkan laporan keuangan per September 2025, IFG Life membukukan hasil yang kurang memuaskan karena mencatatkan rugi setelah pajak sebesar Rp 119,28 miliar. Angka ini berbalik drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perseroan masih mencatatkan laba setelah pajak sebesar Rp 153,44 miliar.
Secara keseluruhan, IFG Life berhasil mencatatkan total pendapatan sebesar Rp 5,30 triliun hingga kuartal ketiga 2025. Pendapatan ini terutama didorong oleh perolehan premi sebesar Rp 5,16 triliun. Setelah dikurangi premi reasuransi sebesar Rp 1,18 triliun, pendapatan premi neto perseroan tercatat sebesar Rp 3,74 triliun.
Namun, peningkatan signifikan terlihat pada pos beban. Beban klaim dan manfaat IFG Life melonjak menjadi Rp 4,35 triliun, naik dari Rp 3,88 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, beban usaha perseroan juga meningkat tajam menjadi Rp 898,81 miliar, dibandingkan Rp 680,59 miliar di tahun sebelumnya. Peningkatan beban inilah yang menjadi kontributor utama kerugian perseroan.
Meskipun demikian, pendapatan komprehensif IFG Life tercatat sebesar Rp 584,71 miliar, dengan total laba komprehensif senilai Rp 465,42 miliar hingga September 2025.
Dari sisi neraca, utang perseroan mencatatkan peningkatan signifikan, melonjak dari Rp 685,77 miliar menjadi Rp 1,93 triliun.
Sementara itu, total aset IFG Life sedikit menurun menjadi Rp 33,91 triliun, dari sebelumnya Rp 34,77 triliun. Rasio solvabilitas (RBC) perusahaan berada pada tingkat yang sehat, yakni sebesar 214,97 persen.
5. PT Asabri (Persero)
Meskipun laporan keuangan resmi ASABRI tidak tersedia di laman resminya, pemberitaan terkini menunjukkan adanya perbaikan kondisi keuangan yang signifikan. Sepanjang tahun 2023, ASABRI masih mencatatkan neraca ekuitas negatif sebesar Rp 1,069 triliun.
Angka negatif ini merupakan perbaikan luar biasa jika dibandingkan dengan kondisi tiga tahun sebelumnya, di mana ASABRI menghadapi krisis dengan ekuitas negatif yang sangat besar, mencapai Rp 13,30 triliun.
Kondisi keuangan negatif yang dialami ASABRI, yang menyebabkan kerugian, dipicu oleh beberapa faktor, termasuk aset tidak produktif yakni penurunan nilai aset perusahaan terjadi karena hampir 71 persen dari aset yang dimiliki dianggap tidak produktif.
Terdapat pula defisit klaim yang berarti tingginya rasio klaim menyebabkan perusahaan mengalami defisit pembayaran klaim terakumulasi sebesar Rp 1,74 triliun dalam periode 2017 hingga 2024.