JawaPos.com - Sejarah dunia modern sudah berkali-kali membuktikan bahwa keadaan suatu negara yang sedang baik-baik saja tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi mental sebagian masyarakat di dalamnya.
Kejayaan dan kemakmuran di bawah langit yang tenang ternyata bisa menjadi pisau bermata dua yang mendatangkan keterasingan sosial, kebosanan eksistensial, bahkan kekosongan spiritual.
Sosiolog Prancis Emile Durkheim menyebut kondisi semacam ini sebagai anomie, sebuah keadaan ketika perubahan sosial yang begitu cepat membuat sebagian manusia kehilangan orientasi hidup.
Ironisnya, kemajuan ekonomi, industrialisasi, dan teknologi yang menjanjikan kesejahteraan tidak selalu mampu mengisi ruang-ruang kosong dalam batin manusia.
Justru di tengah kehidupan yang relatif stabil lah manusia mulai mencari dan mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih kompleks dan abstrak: makna, arah hidup, serta keyakinan bahwa keberadaannya memiliki tujuan.
Di titik kebingungan di tengah kenormalan itulah sering kali lahir figur karismatik yang menawarkan sesuatu.
Sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi bisa menenangkan jiwa: jawaban.
Figur ini mengumpulkan individu-individu dengan kegelisahan serupa, menyatukan keresahan kolektif tersebut ke dalam satu ideologi bersama, sebelum perlahan membangun narasi bahwa dunia sedang berada di ambang krisis, dan hanya mereka yang mengetahui jalan keluarnya.
Fenomena inilah yang dipotret dengan begitu megah oleh mangaka Naoki Urasawa lewat salah satu magnum opus-nya, 20th Century Boys.
Lewat manga ini, Urasawa memperlihatkan secara telanjang bagaimana sebuah kultus modern yang dinakhodai seorang 'juru selamat' bekerja dengan taktis melalui landasan krisis yang difabrikasi dan dimobilisasi dalam skala masif.
20th Century Boys juga menunjukkan sebuah pola berulang dari kejadian serupa di dunia nyata, bahwa sosok penyelamat dan ancaman karangan biasanya muncul secara berbarengan.
Sebab, tanpa dunia yang dianggap sedang berada di ambang kehancuran, seorang mesias tidak akan pernah benar-benar dibutuhkan.
Baca Juga: Sirkus Tragis Tanpa Katarsis: Voyeurisme Menjijikkan Manusia Terhadap Penderitaan dalam 'Midori'
Sahabat
20th Century Boys diawali dengan penggambaran Jepang di penghujung era 1990-an sebagai negara mapan yang sedang menikmati pertumbuhan pesat. Tidak ada kelaparan massal, tidak ada junta militer, tidak ada penindasan asing.
Di tengah kondisi inilah tiba-tiba muncul satu karakter misterius bernama Tomodachi, atau 'Sahabat' dalam versi bahasa Indonesia. Antagonis utama dari manga ini.
Kemunculan Tomodachi bagaikan kanker ganas yang dengan cepat menyebar dan mengakar kuat di berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya berhasil memperoleh simpati dari kelompok akar rumput, ia juga mampu menanamkan pengaruh hingga ke kalangan birokrasi dan aparat negara.
Dengan kekuatan dan sumber daya yang ia bangun dalam senyap, Tomodachi melakukan rekayasa teror yang sangat brutal: menciptakan virus biologis yang bisa menyebabkan pendarahan hebat hingga tubuh korbannya hancur.
Virus ini lalu disebar di berbagai kota besar dunia seperti San Francisco, London dan Tokyo menggunakan skema serangan bioterorisme.
Puncak teror ini dilancarkan pada Malam Tahun Baru 2000, satu hari sebelum dunia memasuki abad 21. Tomodachi mengaktifkan sebuah robot raksasa untuk mengamuk di tengah kota sembari menyemprotkan virus tadi.
Rangkaian teror tersebut memiliki tujuan yang sangat jelas, yakni memicu kepanikan global agar umat manusia merasa tidak berdaya dan berharap adanya perlindungan dari sosok penyelamat.
Di tengah kekacaubalauan inilah Tomodachi muncul dengan gagah sebagai pahlawan. Ia menghentikan amukan robot tersebut, sementara para pengikutnya yang tergabung dalam Partai Persahabatan bergerak cepat membawa vaksin penawar virus.
Rencana Tomodachi berhasil paripurna. Ia dielu-elukan, disanjung, dan dianggap dewa penyelamat yang mengusir hari kiamat.
Baca Juga: Agitasi Sebelum Invasi: 'Pluto' dan Alegori Politik di Balik Propaganda Perang
Membakar Rumah demi Jadi Pemadam Kebakaran
Sebagaimana kebanyakan kultus, skenario palsu Tomodachi tentu tidak akan lengkap tanpa adanya sosok 'penjahat' di dalam grand design-nya.
Untuk menyempurnakan paranoia publik yang ia ciptakan, Tomodachi melakukan propaganda dengan mengambinghitamkan Kenji Endo, protagonis utama 20th Century Boys, dan kawan-kawan masa kecilnya sebagai dalang yang ingin membumihanguskan dunia.
Sosiolog dan filsuf politik Carl Schmitt pernah menjelaskan bahwa politik sering bekerja melalui pembentukan kategori 'kawan' dan 'lawan'.
Dalam praktiknya, sebuah kelompok akan jauh lebih mudah dipersatukan ketika mereka memiliki musuh yang sama. Tomodachi, melalui Partai Persahabatan, berhasil melakukan gaslighting massal menggunakan media massa untuk mem-framing Kenji dan kawan-kawannya.
Dalam sosiologi hukum dan politik, Stanley Cohen merumuskan teori Moral Panic yang mengemukakan di mana sebuah kelompok atau kultus mongonstruksi sosok folk devils alias musuh masyarakat untuk memicu kekhawatiran dan kepanikan.
Ketika masyarakat berhasil diperangkap oleh rasa takut yang akut, mereka dengan sukarela akan menyerahkan kebebasan diri kepada sang penyelamat demi perlindungan.
Apa yang dilakukan Tomodachi memang terlalu teatrikal dan ekstrem untuk terjadi di dunia nyata. Namun faktanya, pola serupa sudah berulang kali terjadi meskipun dieksekusi dengan wajah, simbol, dan skala yang berbeda.
Tomodachi tidak datang membawa jawaban atas krisis.
Ia menciptakan krisis terlebih dahulu agar predikatnya sebagai mesias terasa mutlak diperlukan.
Dalam ungkapan yang paling sederhana, Tomodachi ibarat membakar rumah demi menjadi pemadam kebakaran atas kekacauan yang ia rancang.
Baca Juga: Kala Roti Selai dan Dada Perempuan jadi Kemewahan: Tragedi Kaum Precariat dalam 'Chainsaw Man'
Tidak Butuh Dunia yang Runtuh
Tomodachi memang tidak lebih dari karakter komik. Namun, mekanisme yang digunakannya dalam membangun sebuah cult dan menebar teror bukanlah fiksi semata.
Ada sebuah kesalahpahaman luas tentang cara kerja sebuah sekte.
Banyak orang beranggapan bahwa kultus hanya akan lahir dan tumbuh dalam situasi dunia yang direngkuh ketidakpastian, dilanda bala kelaparan, atau dirundung perang. Bahwa publik baru akan mencari sosok mesias di dalam kebobrokan, ketidakberdayaan dan keputusasaan.
Fakta sejarah menunjukkan kenyataan yang tidak sehitam-putih itu.
Banyak kultus modern justru tumbuh di tengah masyarakat yang tidak mengalami ancaman nyata.
Justru ketika dunia tampak aman, tenteram, dan terkendali, seorang juru selamat palsu membutuhkan krisis untuk memvalidasi dirinya. Dan jika krisis itu tidak tersedia, maka ia harus diciptakan.
Salah satu contoh paling terkenal adalah gerakan People's Temple yang dipimpin oleh Jim Jones di era 1950-an hingga akhir era 1970-an.
Awalnya, Jim Jones menawarkan solidaritas sosial, kesetaraan ras, dan komunitas yang hangat. Mengusung pesan antirasisme dan sosialisme, People's Temple merekrut banyak pengikut dari kalangan marjinal dan Afro-Amerika.
Namun seiring waktu, kelompok ini berubah menjadi organisasi berbahaya setelah Jim Jones mulai melakukan doktrin tentang hari kiamat.
Doktrin yang diagitasi dengan begitu terstruktur ini berujung pada peristiwa pembunuhan dan bunuh diri massal yang sangat mengerikan di hutan Guyana, Amerika Selatan pada 1978.
Setidaknya 900 orang pengikut Jim Jones mati mengenaskan dalam kejadian yang kelak dikenal dengan sebutan Tragedi Jonestown tersebut.
Kasus lain datang dari Heaven's Gate, sekte UFO (Unidentified Flying Object) asal Amerika Serikat yang dipimpin oleh dua orang bernama Marshall Applewhite dan Bonnie Nettles.
Menggunakan ajaran Kitab Wahyu dalam agama Kristen yang dikombinasi dengan teori konspirasi UFO, Heaven's Gate meyakini bahwa keselamatan manusia akan datang melalui kehidupan ekstraterestrial.
Muara dari ajaran tersebut adalah bunuh diri massal pada tahun 1997 di sebuah rumah kawasan Rancho Santa Fe, California. Aksi ini dilakukan dengan keyakinan jiwa mereka akan meninggalkan tubuh lama dan dijemput oleh pesawat luar angkasa alien.
Yang miris, para anggota Heaven's Gate bukanlah kalangan yang hidup dalam kemiskinan atau keterbelakangan.
Kebanyakan dari pengikut kultus ini justru adalah mereka yang berpendidikan tinggi dan hidup dalam level kelas menengah yang relatif mapan. Orang-orang melek teknologi. Orang-orang pintar.
Sekte hari kiamat yang sama mematikannya juga pernah lahir di bumi Jepang pada 1987, Aum Shinrikyo.
Kelompok ini dipimpin oleh Shoko Asahara, pria yang mengklaim dirinya sebagai Kristus sekaligus manusia pertama yang mencapai pencerahan setelah Buddha.
Meramalkan bahwa armageddon atau perang akhir zaman akan segera terjadi dan hanya kelompoknya yang akan selamat, Shoko Asahara bukan cuma merekrut orang-orang berotak encer. Kelompok ini sukses menggaet ilmuwan, insinyur, dokter dan banyak lulusan universitas elit.
Berawal dari sebuah kelas yoga kecil, Aum Shinrikyo menjelma menjadi fenomena dunia akibat serangan gas sarin di lima kereta bawah tanah berbeda di Tokyo pada 1995. Peristiwa ini menewaskan belasan orang dan melukai setidaknya 5.000 orang.
Tomodachi bisa dibilang merupakan titisan dari intisari terburuk tiga sosok tersebut.
Terkhusus di kasus Aum Shinrikyo, sulit rasanya mengabaikan kemiripan pola sekte tersebut dengan metode yang digunakan Tomodachi dalam 20th Century Boys, yakni teror senjata biologis, kepanikan massal, dan kemunculan figur penyelamat.
Melalui Tomodachi, Naoki Urasawa seolah merangkum berbagai pola yang pernah muncul dalam sejarah kultus modern.
People's Temple, Heaven's Gate, maupun Aum Shinrikyo memperlihatkan pattern yang sama seperti Partai Persahabatan dalam 20th Century Boys, bahwa kultus tidak tumbuh karena dunia sedang runtuh.
Kultus tumbuh ketika manusia berhasil diyakinkan bahwa dunia sedang menuju kehancuran.
Kegelapan Paradoks Kebebasan
Pertanyaan besar yang muncul kemudian adalah mengapa orang-orang cerdas, terdidik, dan hidup di negara yang relatif makmur bisa memercayai, bahkan rela bergabung ke dalam sebuah organisasi yang terbentuk dari rangkaian narasi absurd dan sukar dinalar?
Mengapa begitu banyak orang membutuhkan sosok seperti Tomodachi?
Psikolog sosial Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul Escape from Freedom berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang, ternyata, tidak selalu nyaman dengan kebebasan.
Menurut Fromm, walau terdengar indah, kebebasan ternyata membawa efek samping negatif seperti perasaan terisolasi, kesepian bahkan kecemasan karena ketiadaan sosok dengan otoritas yang bisa membimbing mereka menuju kepastian hidup.
Dari sudut pandang ini, keberadaan kultus akhirnya bagaikan secercah harapan di tengah kegelapan paradoks kebebasan.
Mengapa? Karena orang yang tersesat akan lebih mudah mencerna jawaban sederhana ketimbang menerima fakta bahwa hidup adalah rangkaian episode harian yang penuh ambiguitas.
Pemikiran serupa juga muncul dari psikiater Viktor Frankl. Menurut Frankl, banyak manusia memiliki sarana dan cara untuk hidup, tapi ironisnya mereka tidak punya makna dan alasan untuk dihidupi.
Kultus tumbuh dengan memanfaatkan kekosongan makna tersebut. Dalam ruang kosong, kultus menawarkan tujuan hidup. Sesuatu yang terdengar sangat simpel, namun sangat mahal bagi manusia modern.
Dari sudut pandang lain, Psikolog Sosial Gustave Le Bon dalam The Crowd menjelaskan bahwa manusia yang tergabung dalam massa sering kali mengalami perubahan psikologis karena terdistorsi oleh keseragaman ide dan tujuan orang banyak.
Perubahan ini ditandai dengan melemahnya identitas personal sang individu. Logika serta daya berpikir kritisnya pun ikut menurun, berbarengan dengan meningkatnya kobaran emosi yang menguasai hati dan pikiran.
Saat ini terjadi, fakta mentah pun bisa menjadi hal yang terabaikan oleh simbol yang sudah direpresentasikan sebagai lambang harapan.
Lambang keselamatan. Lambang masa depan. Lambang kebenaran.
Ketika akhirnya muncul kritik dari kelompok luar, hal ini kemudian dianggap sebagai bentuk serangan dan penistaan terhadap lambang tersebut.
Psikiater Robert Jay Lifton, yang meneliti teknik thought reform atau brainwashing alias cuci otak, menjelaskan adanya konsep Milieu Control dan Mystical Manipulation.
Secara sederhana, dua konsep ini menjelaskan bahwa kultus akan mengontrol total arus informasi dan menciptakan otoritas mistis yang diposisikan lebih tinggi daripada realitas objektif itu sendiri.
Pola tersebut juga tampak pada cara Tomodachi membangun pengaruhnya di dalam 20th Century Boys. Melalui Milieu Control, Tomodachi memastikan para pengikutnya tetap buta terhadap realitas alternatif dan kejahatannya. Melalui Mystical Manipulation, sang Sahabat membungkus agenda politik dengan narasi takdir kosmis yang sakral.
Di tangan Tomodachi, dua konsep tersebut sukses mengubah coretan masa kecil yang seharusnya tidak lebih dari kenangan polos menjadi kitab suci bagi ribuan pengikutnya.
Mesias Palsu
Alasan mengapa 20th Century Boys tetap terasa relevan hingga hari ini mungkin karena dunia tidak pernah benar-benar kehilangan sosok seperti Tomodachi.
Figur Tomodachi di era modern tidak melulu muncul dalam bentuk pemimpin sekte berjubah yang mengusung ritual-ritual aneh. Tidak pula harus punya rancangan besar tentang pemusnahan dunia demi bisa menjadi pahlawan dan bermain Tuhan.
Mereka dapat muncul dalam berbagai bentuk. Tokoh politik, pemimpin gerakan, figur publik karismatik, bahkan influencer media sosial yang mampu membangun loyalitas tanpa ruang untuk mempertanyakan narasinya.
Layaknya Tomodachi, mereka menawarkan jawaban sederhana untuk masalah yang sebenarnya kompleks. Lebih dari sekadar menjanjikan kepastian di tengah kebingungan, mereka menciptakan rasa memiliki, identitas, dan kepastian bagi mereka yang merasa kehilangan arah.
Ancaman terbesar yang diperingatkan Naoki Urasawa secara implisit lewat 20th Century Boys bukanlah kemunculan seorang Tomodachi di kehidupan nyata.
Ancaman terbesar justru datang ketika masyarakat berhenti mempertanyakan narasi yang terdengar terlalu sempurna. Ketika rasa takut berhasil menggantikan nalar. Ketika kemampuan dan kebebasan berpikir diabaikan demi jawaban dari seseorang yang mengaku mengetahui seluruh kebenaran tentang hidup.
Mungkin, satu-satunya cara untuk mencegah lahirnya sosok Tomodachi bukanlah dengan terus mencari sosok penyelamat baru, melainkan dengan mempertahankan keberanian untuk berpikir secara merdeka.
Keberanian untuk meragukan dan mempertanyakan jawaban-jawaban yang bahkan terdengar paling masuk akal dan sangat meyakinkan sekalipun.
Sebab sepanjang sejarah, para mesias palsu hampir tidak pernah lahir dari dunia yang benar-benar runtuh. Mereka justru lahir di cakrawala yang teduh dan tumbuh subur di dalam hati manusia yang kehilangan pegangan hidup.
20th Century Boys berhasil menggelitik nalar pembacanya bahwa tragedi terbesar masyarakat modern bukanlah ketika virus mematikan mulai menyebar di ruang publik.
Tragedi itu terjadi di dalam kepala manusia sendiri.
Ketika rasa takut perlahan memadamkan logika, lalu membiarkan orang lain menentukan apa yang harus dipercaya, siapa yang harus dibenci, serta kapan mereka harus merasa takut dan aman.
Ketika manusia rela menukar kemerdekaan berpikir dengan ilusi rasa aman, lalu berjalan masuk ke dalam sangkar sembari meyakini bahwa itu adalah tempat penyelamatan.