JawaPos.com - Ada satu pertanyaan yang dari dulu tidak pernah memiliki jawaban pasti.
Bukan karena sulit, tetapi karena setiap orang punya definisi yang berbeda dalam mengartikannya.
"Apa artinya menjadi kuat?"
Sebagian orang mengartikannya sebagai simbol kemenangan. Yang lain mendefinisikannya sebagai dominasi dan kontrol. Ada juga yang memandangnya sebagai keberanian dalam menjalani beratnya hidup.
Banyaknya jawaban dari pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa manusia, khususnya laki-laki, sebetulnya menjalani hidup tanpa pernah benar-benar mempertanyakan apa arti 'kuat' yang sesungguhnya.
Faktanya, selama berabad-abad, laki-laki selalu dituntut untuk menjadi sosok yang kuat. Hal ini disertai doktrin bahwa kekuatan merupakan solusi dari semua masalah. Jawaban atas semua keraguan. Kunci untuk menemukan ketenangan.
Tuntutan ini muncul dalam berbagai bentuk di beragam konteks. Di ruang kelas, di gelanggang olahraga, di arena digital, di medan perang, hingga di media sosial modern yang kian hari kian mendorong manusia untuk menjadi lebih sukses dari yang lain.
Padahal, jika mau digali sedikit lebih dalam, obsesi untuk menjadi kuat ini sebetulnya memantik pertanyaan baru: Benarkah menjadi kuat adalah tujuan utama dan jawaban dari eksistensi manusia?
Bagaimana jika semua doktrin tadi tidak lebih dari fatamorgana?
Mangaka Takehiko Inoue membedah kebingungan akan pencarian arti kekuatan ini melalui Vagabond, sebuah manga yang diadaptasi dari novel lawas karya Eiji Yoshikawa, Musashi.
Di permukaan, manga yang rilis perdana pada 1998 ini mungkin tidak lebih dari penggambaran ulang kisah klasik tentang Miyamoto Musashi, pendekar legendaris Jepang yang mengabdikan hidupnya di jalan pedang.
Namun, semakin dalam cerita bergulir, Vagabond justru terasa semakin jauh dari kisah fantasi kepahlawanan.
Alih-alih merayakan kemenangan, Inoue menggunakan sosok Musashi versi dirinya untuk mempertanyakan kegandrungan laki-laki terhadap kekuatan.
Lewat pendekatan ini, Inoue berhasil menjadikan Vagabond sebagai instrumen kritik yang tajam terhadap maskulinitas.
Baca Juga: Agitasi Sebelum Invasi: 'Pluto' dan Alegori Politik di Balik Propaganda Perang
Shinmen Takezo dan Hegemonic Masculinity
Tidak berlebihan rasanya untuk menyebut Musashi sebagai ikon maskulinitas Jepang. Bukan cuma seorang jago pedang, dia adalah arketipe pria ideal Negeri Matahari Terbit yang punya disiplin baja, tangguh, religius dan menjunjung tinggi tatanan sosial.
Namun, segala hal positif itu bukanlah bawaan orok.
Dalam penuturan novel dan manga, Musashi tidak langsung digambarkan sebagai figur bijak dengan ilmu pedang adiluhung seperti yang diceritakan sejarah.
Musashi lahir dan dibesarkan dengan nama Shinmen Takezo.
Seorang pemuda brutal, urakan, egois, penuh amarah, namun juga dihantui oleh ketakutan akan cap lemah.
Takezo menerjemahkan ketakutannya itu menjadi obsesi terhadap kekuatan.
Pola pikir ini terus membentuk Takezo menjadi laki-laki yang meyakini bahwa menjadi yang terkuat adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh pengakuan sosial.
Sosiolog Australia, R. W. Connell mencetuskan hegemonic masculinity, sebuah konsep yang menjelaskan bagaimana masyarakat kerap membentuk standar laki-laki ideal berdasarkan dominasi, kompetisi, keberanian, dan kemampuan mengungguli orang lain.
Dari pengertian itu, bisa disimpulkan bahwa konsep ini mematok nilai seorang laki-laki berdasarkan kemampuannya untuk menang.
Menang dalam karier, dalam kompetisi, dalam status sosial, dalam hidup.
Shinmen Takezo adalah representasi gamblang gagasan ini.
Dalam Vagabond maupun novel Musashi, Takezo melakukan banyak hal nekat hanya untuk membuktikan dirinya layak disebut sebagai laki-laki yang kuat.
Ia terjun ke Perang Sekigahara. Bertarung melawan bos bandit kelas kakap. Mengacau di kampung halamannya. Mencari masalah dengan perguruan pedang. Menantang biksu ahli bela diri tongkat, dan banyak lagi.
Semua ia lakukan hanya dengan modal kekuatan mentah tanpa pemikiran taktis dan ilmu pedang mumpuni.
Takezo tidak mencari kekuatan untuk kedamaian. Ia mencari validasi.
2 Perspektif Kelahiran Miyamoto Musashi
Rangkaian peristiwa yang menginjak-injak harga diri Takezo bermuara pada 'kelahiran' Miyamoto Musashi.
Namun, ada dua perbedaan krusial dari versi novel dan manga tentang bagaimana Musashi muncul dari 'kepompong' Shinmen Takezo. Hal ini perlu diluruskan terlebih dahulu agar tidak terjadi distorsi pemahaman dan salah kaprah bahwa apa yang terjadi di Vagabond sama persis seperti yang ditulis dalam Musashi.
Dalam versi novel, Eiji Yoshikawa menggambarkan bagimana Takezo dikurung oleh Biksu Takuan di Kastil Himeji selama 3 tahun untuk membaca kitab sebelum kemudian melangkahkan kaki keluar sebagai Miyamoto Musashi.
Di sini, Eiji Yoshikawa menjinakkan Shinmen Takezo yang seperti binatang buas dengan cara yang terbilang instan. Cara ini ditulis oleh sang novelis sebagai refleksi psikologi Jepang di era 1930-an yang membutuhkan standardisasi moral demi mobilisasi perang.
Sebagai konteks, tahun 1930-an adalah masa di mana militerisme dan fasisme mulai menguasai Jepang. Pemerintah kala itu membutuhkan narasi yang bisa menyatukan rakyat. Novel Musashi karya Yoshikawa yang diterbitkan sebagai cerita bersambung di koran Asahi Shimbun bertindak sebagai 'panduan moral' bagi publik pada masa itu.
Takehiko Inoue menolak 'jalan pintas' tersebut di Vagabond.
Bagi sang mangaka, watak beringas Takezo tidak bisa diubah sesederhana dijebloskan ke dalam 'penjara moral' berbentuk lautan buku falsafah hidup.
Inoue meyakini bahwa pencerahan tidak bisa datang dari instruksi otoritas. Ia harus lahir kehancuran ego personal.
Inilah yang akhirnya membuat Musashi dalam novel dan manga seperti dua orang yang berbeda.
Jika Musashi versi novel lahir dari kepungan dinding perpustakaan, maka Musashi versi Vagabond lahir lewat trauma, penyesalan dan tragedi berdarah yang ia lakukan.
Unrivaled under The Heavens
Salah satu titik fokus Vagabond adalah menunjukkan bahwa obsesi Musashi terhadap kekuatan sebetulnya terbentuk dari rasa takut.
Ia takut menjadi lemah. Karena, yang lemah akan dilupakan. Yang lemah akan tidak punya arti. Yang lemah akan mati.
Hal ini berakar pada masa kecil Musashi yang keras akibat didikan sang ayah, Shinmen Munisai, yang kelewat batas.
Jauh sebelum tumbuh besar menjadi mesin pembunuh dan ronin ulung di kemudian hari, Takezo kecil di Vagabond adalah korban kekerasan domestik. Ia tak cuma diperlakukan kasar secara fisik, tapi juga diburu seperti hewan oleh sang ayah.
Menggunakan sudut pandang psikoanalisis Carl Jung, kebrutalan Takezo di masa muda adalah manifestasi dari konsep shadow self atau sisi bayangan bawah sadar yang lahir dari trauma kekerasan.
Trauma tersebut akhirnya membuat Takezo memiliki cita-cita ambisius: menjadi ahli pedang yang tiada tanding dan tanpa banding di kolong langit.
Menjadi sosok unrivaled under the Heavens.
Sayangnya, keinginan ini lahir bukan dari panggilan spiritual, tapi dari mekanisme pertahanan tubuh seorang anak kecil yang hidup dalam ketakutan akan teror perundungan dan penyiksaan.
Pedang, bagi Musashi, bukan hanya instrumen bela diri belaka, tapi sebuah 'bahasa' dari rasa takut. Sebuah dinding pertahanan mental yang dikonstruksi dari asumsi bahwa jika ia menjadi orang terkuat di bumi, tidak akan ada lagi figur 'Shinmen Munisai' lain yang bisa menyakitinya.
Musashi terus bergerak membantai lawan-lawannya tanpa menyadari bahwa yang harus ia kalahkan sebetulnya adalah 'bayangan' dirinya sendiri.
Baca Juga: Mazmur Pembantaian dalam Liturgi Darah: 'Hellsing' dan Fetish Manusia dalam Menikmati Kekerasan
Menjadi Rapuh, Mengebiri Maskulinitas
Salah satu kisah perjalanan Musashi yang paling tersohor adalah ketika sang samurai tak bertuan membantai 70 ahli pedang dari perguruan Yoshioka sendirian.
Dari sini, Musashi sebetulnya sudah bisa menepuk dada sembari mengklaim bahwa dirinya sudah menjelma menjadi sosok terhebat yang pernah ada di bawah matahari.
Namun, bukan kepuasan yang ia dapatkan. Bukan pula euforia menggelegak, apalagi tepuk tangan dan sembah sujud dari khalayak.
Musashi justru menderita paranoid akut dan insomnia. Aksi di luar nalar yang awalnya dilakukan sebagai pembuktian ketangguhan justru berakhir dengan keterasingan total, karena menjadi yang terkuat artinya memosisikan diri sebagai target pembunuhan baru.
Di sinilah delusi maskulinitas yang selama ini dijunjung oleh Musashi runtuh.
Tak cukup membuat kejiwaannya terganggu, Takehiko Inoue juga mengambil langkah brilian berikutnya untuk 'mengebiri' maskulinitas Musashi: membuat sang ronin pincang permanen lewat cedera kaki yang ia derita dari pertempuran banjir darah dengan perguruan Yoshioka.
Bagi seorang pendekar yang meletakkan seluruh reputasi dan harga dirinya pada superioritas fisik, kepincangan adalah bentuk kebiri simbolis yang sangat menusuk ego maskulin.
Namun, kondisi ini justru menjadi titik balik pola pikir Musashi tentang kekuatan.
Pakar psikologi sosial Brene Brown pernah menuturkan bahwa kekuatan tertinggi manusia justru lahir dari the power of vulnerability atau keberanian untuk menjadi rapuh. Pandangan ini secara tak langsung memberikan tamparan keras kepada doktrin maskulin yang kerap menuntut superioritas.
Dengan kondisi kaki yang cacat, Musashi praktis tidak bisa bertarung seperti sedia kala. Pergerakannya melambat. Kuda-kudanya tidak sekokoh dulu.
Di tengah rasa sakit, malu dan takut bukan kepalang itulah untuk pertama kalinya Musashi tidak ragu untuk menangis. Ia menerima kelemahannya.
Fasad pria gagah perkasa yang tidak bisa terluka dan harus selalu berselisih dengan air mata pun luruh seketika.
Kedamaian dari Lumpur dan Padi
Kehancuran fisik dan mental ini membawa Musashi pada sebuah fase yang absen dari esensi novelnya. Fase yang sering disebut-sebut sebagai salah satu episode terbaik dalam sejarah dunia manga: Farming Arc.
Di tengah keputusasaan dan alienasi, Musashi dikisahkan mengembara tanpa tujuan hingga pingsan di sebuah desa yang dilanda kekeringan.
Diselamatkan seorang anak kecil bernama Iori, Musashi akhirnya memutuskan untuk tinggal sementara di desa tersebut untuk menjalani tantangan baru, yakni memerangi bala kelaparan dengan cara bertani.
Di fase inilah Musashi mempraktikkan hal yang digaungkan filsuf eksistensial Martin Heidegger sebagai Gelassenheit, yakni sikap melepaskan keinginan untuk mengontrol objek secara agresif dan mulai membuka diri pada realitas.
Sebelum terdampar di desa kecil itu, Musashi hanya bisa menggunakan tangannya untuk mencabut nyawa orang lain. Di sawah, ia harus menggunakan tangan yang sama untuk merawat dan menumbuhkan kehidupan. Untuk pertama kali dalam hidup, Musashi menghadapi musuh yang tidak bisa ia kalahkan dengan pedang
Musashi belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah menghancurkan, tapi menciptakan.
Dalam salah satu adegan, dikisahkan Musashi mencoba menaklukkan tanah gersang dengan ego dan cara bertarungnya. Hasilnya? Gagal total. Padi-padi yang harusnya ia rawat malah mati.
Dari teguran seorang petani tua bijaksana bernama Shusaku, Musashi menyadari bahwa ia tidak bisa memaksa alam bekerja sesuai kemauannya. Ia harus belajar bekerja bersama alam. Dengan mendengarkan tanah. Dengan memperkirakan cuaca.
Musashi juga belajar tentang menghadapi ketidakberdayaan ketika banjir dan badai menghancurkan semua hasil panen yang ia tuai. Oleh alam, Musashi dipaksa untuk bisa menerima hal-hal yang terjadi di luar kontrolnya dengan kepala tegak, sebelum mulai mencangkul lagi dari awal tanpa berkeluh kesah.
Puncak keindahan arc ini terjadi ketika Musashi akhirnya menyadari bahwa prinsip bertani sebetulnya tidak jauh berbeda dengan ilmu pedang tertinggi. Keduanya sama-sama membutuhkan fokus mutlak, keheningan pikiran, pergerakan efektif dan mindfulness.
Melalui lumpur dan padi, Musashi akhirnya menemukan kebebasan dan kedamaian. Hal yang ia cari selama ini. Hal yang tidak pernah bisa ia dapatkan dari pertumpahan darah.
Sasaki Kojiro di Dunia Paralel
Dalam sejarah Jepang maupun novel Eiji Yoshikawa, Sasaki Kojiro dikenal sebagai rival terbesar Musashi.
Duel tersohor yang dilakoni keduanya di Ganryujima menjadi babak akhir perjalanan panjang dan melelahkan Musashi dalam mencari makna kehidupan lewat jalan pedang.
Namun, lagi-lagi, Takehiko Inoue melakukan pendekatan yang sangat berbeda. Terlalu berbeda, sampai di titik manga ini betul-betul terasa sebagai kisah Musashi di dunia paralel.
Tapi, justru inilah yang membuat Vagabond menjadi manga yang semakin menarik dan tidak terprediksi.
Dalam Vagabond, Kojiro digambarkan sebagai seorang jenius pedang berwajah tampan dengan watak yang bertolak belakang dengan versi novelnya.
Di sini, Kojiro bukan seorang pendekar sombong yang haus reputasi, gelar, maupun status. Sebaliknya, dia polos, lembut, baik hati, dan yang paling ekstrem, ia seorang bisu-tuli.
Namun, kekurangannya ini sama sekali tidak menjadi belenggu. Kondisi cacat Kojiro justru membuatnya hidup dengan bebas. Melalui tubuhnya, melalui instingnya, melalui rasa cintanya terhadap pedang.
Dalam konteks obsesi mengejar kekuatan, Takehiko Inoue juga menggambar Kojiro sebagai antitesis total dari Musashi.
Jika Musashi terbeban oleh obsesi menjadi yang terkuat, Kojiro justru hidup dengan spontanitas yang nyaris tanpa batas.
Yang satu memburu validasi, yang satu lagi nyaris tidak peduli.
Faktor inilah yang membuat Musashi terdorong untuk melakoni duel dengan Kojiro. Bukan karena rasa iri dan benci, tapi karena rasa kagum dan respek yang tinggi.
Mengapa? Karena untuk pertama kalinya, Musashi berjumpa dengan seseorang pendekar pedang jempolan yang hidup tanpa memusingkan filosofi rumit serta pengakuan yang selama ini ia kejar mati-matian.
Dan, satu-satunya bentuk penghormatan paling agung dari seorang pendekar pedang ke pendekar pedang lainnya adalah dengan menantangnya berduel. Sehebat mungkin. Sesengit mungkin. Sedahsyat mungkin.
Sayangnya, duel yang dinantikan itu belum terjadi hingga tulisan ini diterbitkan.
Takehiko Inoue memutuskan untuk menghentikan sementara manga ini.
Hiatus Sebagai Meta-Narasi Puitis
Hal yang paling sangat disayangkan dari Vagabond adalah status hiatusnya yang kini sudah memasuki tahun ke-11. Takehiko Inoue, yang mengaku mengalami kelelahan mental, fisik dan kehilangan motivasi, memutuskan untuk meletakkan penanya dan berhenti meneruskan manga ini sejak 2015 lalu.
Ia berhenti sebelum menyajikan salah satu pertarungan paling ikonik dalam sejarah Jepang: pertarungan di Ganryujima antara Sasaki Kojiro dengan pedang Monohoshizao-nya, melawan Miyamoto Musashi dengan dayung perahunya.
Kecewa? Jelas.
Namun, tidak adil rasanya untuk menghakimi bahwa hiatus berkepanjangan Vagabond merupakan kegagalan sang mangaka dalam menyelesaikan kisah Musashi dengan paripurna. Toh, Inoue sudah menegaskan bahwa ketika ia sudah siap secara fisik dan mental, Vagabond akan kembali ia teruskan.
Dari sudut pandang lain, banyak pengamat budaya pop melihat hiatusnya Vagabond sebagai sebuah meta-narasi puitis yang sangat berkaitan dengan Musashi dan jalan pedangnya.
Sama seperti Musashi yang menyadari bahwa pembantaian tidak mendatangkan kedamaian, Inoue juga menolak memproduksi kekerasan visual dengan cara berhenti sejenak.
Realitas yang dialami Inoue akhirnya berkelindan erat dengan karyanya sendiri.
Hiatusnya Vagabond justru menjelma menjadi momen bisu yang masih mampu merefleksikan kritik dari maskulinitas dalam manga ini.
Layaknya Musashi, Inoue memilih untuk meletakkan 'pedangnya' ketika menyadari bahwa memaksakan narasi menuju duel maut di Ganryujima melawan Sasaki Kojiro hanya akan mengkhianati makna pencarian hidup Musashi yang sudah direkonstruksi ulang di Farming Arc dengan begitu apik dan epik.
Fatamorgana Belaka
Di kehidupan modern, banyak laki-laki muda yang tumbuh seperti Musashi sebelum sang ronin memahami arti kehidupan dari bertani.
Mereka hanya didorong terus untuk menang dan unggul dari yang lain, sembari lupa diajarkan untuk menghadapi kegagalan dan menerima keterbatasan.
Kritik terhadap manusia yang terobsesi mengejar kekuatan ini pernah dilontarkan oleh filsuf Friedrich Nietzsche.
Nietzsche melihat, banyak orang mengejar tujuan besar tanpa pernah benar-benar memahami alasan mereka melakukannya. Mereka berjuang mati-matian dengan meraih kemenangan, tanpa pernah mempertanyakan apakah kejayaan tersebut benar-benar punya makna.
Vagabond menunjukkan bahwa kekuatan yang dikejar Musashi perlahan tapi pasti berubah menjadi fatamorgana belaka.
Semakin ia dikejar, semakin ia sulit disentuh. Ketika berhasil dicapai pun, ia tidak memberikan kepuasan yang dibayangkan.
Baca Juga: Sirkus Tragis Tanpa Katarsis: Voyeurisme Menjijikkan Manusia Terhadap Penderitaan dalam 'Midori'
Jalan Pedang dan Fantasi Manusia Tak Terkalahkan
Berbeda dengan banyak kisah kepahlawanan yang bergerak dari ketidakberdayaan menuju kesempurnaan, Vagabond melangkah menuju arah sebaliknya.
Musashi memahami arti kehidupan bukan dari seberapa hebat dirinya dalam beradu pedang. Ia mengarifinya dari segala bentuk kekurangan yang ada padanya.
Dari kelemahan. Dari keterbatasan. Dari kemalangan. Dari ketidakmampuan. Dari pemahaman bahwa kekuatan absolut yang selama ini ia kejar mungkin tidak pernah benar-benar eksis.
Takehiko Inoue juga menyajikan sebuah ironi indah, bahwa semakin dekat Musashi dengan puncak jalan pedang, justru semakin jauh ia dari fantasi menjadi manusia tak terkalahkan yang ia impikan.
Nilai-nilai ini yang membuat Vagabond masih relevan dengan kehidupan modern, di mana manusia cenderung mencari makna melalui kemenangan dan berlomba mengejar kekuatan demi mengubur ketakutan.
Padahal, disadari atau tidak, semua susah payah itu dibayangi oleh sebuah kontemplasi yang sunyi:
Ketika tubuh sudah begitu lelah, ketika mata mulai kabur oleh tetesan darah, ketika kaki nyaris tidak bisa kompromi untuk melangkah, ketika pedang dalam genggaman tangan sudah terlalu berat untuk diangkat, untuk apa semuanya ini?
Melalui Vagabond, Inoue seakan-akan ingin mengajak para pembacanya untuk melakukan hal paling reflektif: Berdamai dengan diri sendiri.
Berdamai dengan kekecewaan, kerapuhan, kesedihan, dan segala batas kemanusiaan.
Jalan pedang Musashi tidak berakhir pada kemenangan atas orang lain, melainkan pada keberhasilan mengalahkan delusi dirinya sendiri.
Sebuah kepasrahan yang puitis, di mana hasrat untuk menghancurkan akhirnya benar-benar diletakkan demi menumbuhkan dan merawat kehidupan.