Persaingan dunia bisnis tak membuat mereka larut dalam kompetisi. Selama masih berjalan di satu aspal yang sama, tak pernah ada niat untuk saling sikut. Ya, orang-orang ini tetap bisa kompak meskipun sejatinya mereka adalah
driver lintas aplikasi.
MIRZA BASHIRUDDIN AHMAD
OBROLAN malam itu, Sabtu (6/5), terjadi di salah satu bagian Jalan Ahmad Yani. Canda, tawa, dan gurauan terus-menerus tercipta di bawah temaram lampu penerangan jalan. Tentu, ada bergelas-gelas kopi hitam yang menemani orang-orang yang sedang berbincang tersebut.
Para lelaki yang sedang cangkruk itu adalah anggota Kobooi. Komunitas Bikers Ojek Online Indonesia. Malam itu mereka sedang berancang-ancang melaksanakan touring perdana mereka. Tak tanggung-tanggung, yang dituju adalah Gunung Bromo di Pasuruan.
Para anggota Kobooi adalah orang-orang yang bekerja sebagai pengendara ojek online lintas aplikasi. Karena itu, pemandangan pun menjadi tak lazim. Ada tukang Go-Jek yang diboncengkan tukang Uber. Sementara itu, di sebelahnya ada pengendara Grab yang mengiringi. Saling bonceng dalam satu rombongan. Tentu, mereka tidak saling order.
”Kami sengaja ambil hari libur bareng. Refresh ke Bromo,” ungkap Prima Fifin Fitrianto. Prima adalah driver Go-Jek. Dia pula yang akhirnya menjadi ketua komunitas yang baru saja dibentuk tersebut. Nama komunitas itu muncul saat mereka berkendara bersama ke Bromo. ”Ya, usule arek-arek iki, Mas,” ungkap Prima.
Dia menceritakan pengalaman touring tersebut sekitar sepekan kemudian. Malam itu, Jumat (12/5), 12 orang berkumpul di bagian selatan area skate Taman Bungkul. Mereka duduk bersila dan melingkar. Seperti syukuran sebuah hajatan di desa. Tentu lengkap dengan jaket kebanggaan masing-masing. Jaket hitam oranye milik Uber, jaket warna dominan hijau milik Go-Jek, dan jaket warna dominan hitam milik Grab.
Bagi para driver tersebut, touring itu sangat mengesankan. Mereka berangkat dari Surabaya sekitar pukul 22.00. Komunitas tersebut tiba di dekat jalur Penanjakan, Gunung Bromo, sekitar pukul 03.00 di keesokan harinya. Sempat beristirahat sejam, mereka kemudian menaiki mobil 4 x 4 untuk sampai di spot melihat sunrise. ”Mosok kate motoran, nggoser kabeh motore arek-arek,” ujar driver Go-Jek Mochamad Soleh.
Ternyata, aksi touring itu memikat perhatian khalayak. Tak heran. Ada Go-Jek mengangkut penumpang Uber. Ada Uber mengangkut penumpang Grab. Dan seterusnya. Mereka pun menjadi objek foto orang-orang saat berhenti di lampu merah.
Saat pelesir malam itu, rombongan berjumlah 24 orang. Mereka terkumpul dalam koordinasi yang dilakukan hanya dalam waktu dua hari. Tapi, jumlah anggota komunitas tersebut kini sudah mencapai 120 orang.
”Jarang kami kenal driver lain. Padahal, yo satu perusahaan,” kata Achmad Soim, driver Go-Jek lainnya. Namun, anggota komunitas itu tak ingin ada sekat-sekat hubungan antarpersonal. ”Tiap ketemu driver lain di jalan, selalu tanya poin,” ujar Prima.
Soleh langsung menambahi. Dia sepakat bahwa pekerjaan adalah urusan utama. Tapi, jangan lupakan hubungan antarmanusia. ”Manusia harus berkabar. Tanya kabar anaknya, ada keluh kesah apa, perlu bantuan apa,” ucapnya. Dengan begitu, mereka bisa mewujud menjadi komunitas yang guyub dan rukun.
Menurut perkiraan mereka, ada lebih dari 25 ribu driver ojek online yang aktif beroperasi di Surabaya. Kerja mereka bisa tiap hari. Satu hari libur bisa diambil kapan saja. Rata-rata mereka bisa meraup pendapatan bersih Rp 200 ribu–Rp 300 ribu per hari. ”Saya pernah rekor, dapat bersih Rp 700 ribu, kerjanya nonstop 22 jam,” kata Bennard, pengemudi Go-Jek.
Meski begitu, momen-momen duka pun kerap terjadi. Dalam berbagai kesempatan, mereka sering menemui pesanan bodong. ”Awalnya kami ikuti order itu. Begitu udah dekat, di-cancel. Kami telepon balik, nomornya mati,” papar Khoiron, driver Grab.
Mereka tak berdaya menghadapi jenis pelanggan –yang mereka sebut tak punya hati– seperti itu. Mereka tidak akan bisa menjelaskan kejadian itu kepada manajemen. Padahal, poin bisa dikurangi dan akun mereka ter-suspend jika beberapa kali di-cancel. ”Kalau bisa, kami dilengkapi aplikasi pengaman untuk pelanggan nakal,” ujar Soleh.
Aris Sugiarto, salah seorang driver, pernah mendapat order empat bungkus bakso dan bernasib sama dengan Khoiron. Pesanan dibatalkan saat sudah dekat rumah pelanggan. Tanpa penjelasan pula.
”Ternyata, anak saya telepon dan sedang kepengin bakso. Nggak nyangka,” ujarnya. Soleh langsung menimpali. ”Iku jenenge dikongkon mulih, ramuten anak bojomu (itu namanya disuruh pulang, disuruh memperhatikan anak istri, Red)!” kata Soleh disambut gelak tawa rekan yang lain.
Anggota komunitas itu sadar bahwa mereka adalah ujung tombak perusahaan dalam hal perubahan model transportasi. Dan itu bukan perkara gampang. Ibarat api unggun, mereka berperan sebagai kayu bakar sekaligus pemantiknya. ”Masyarakat nyatanya memang terbantu dengan adanya kami,” ujar Bennard. Namun, menurut dia, perubahan itu harus diimbangi dengan profesionalisme dan etika yang baik. ”Jangan ada yang mentang-mentang, mau itu driver, manajemen, atau pelanggan,” imbuhnya.
Nyatanya, mereka tidak begitu peduli dengan kompetisi antarkorporasi. ”Lho, kita ini satu aspal, sama-sama cari uang di jalan,” ucap Prima.
Sebagai ”maskot”, Soleh kembali menimpali. Persaingan hanya terjadi dalam hitungan matematis dan hanya driver newbie (baru) yang hanya memedulikan saingan itu. ”Kami ini kan bekerja untuk penghidupan keluarga. Saingan dan saling gontok iku kan kelase arek cilik,” ungkapnya.
Para pengemudi itu juga punya spot favorit untuk menunggu penumpang. ”Paling jos itu di dekat mal. Orderannya banyak,” ungkap Arif Rahman Hakim, driver Go-Jek. Tunjungan Plaza, Royal Plaza, Galaxy Mall, BG Junction, Jembatan Merah Plaza, hingga Pakuwon Trade Center adalah lokasi ngetem favorit mereka.
Hingga lewat tengah malam, obrolan itu masih renyah didengar. Cerita mereka yang sangat beragam tak mampu terekam semua. Jiwa para driver itu bak berada di dua alam. Maya dan nyata. Mereka beredar sebagai titik hijau dan oranye yang secara maya tersebar di layar sentuh smartphone. Walaupun nyatanya mereka tetap manusia yang tengah mencari penghidupan. (*/c10/dos)