← Beranda
Perjuangan Para Orang Tua dengan Anak-Anak Berkebutuhan Khusus
Miftakhul F.S• Rabu, 22 Maret 2017 | 20.16 WIB
IBU HEBAT: Etik Herawati begitu telaten mendidik sang buah hati Reza Gusti Erlangga (kiri).

Memiliki anak berkebutuhan khusus tentu bukan keinginan mereka. Bukan pula permintaan. Tapi, semuanya adalah kehendak Tuhan. Pada akhirnya, kasih sayang yang tulus mampu meredam egoisme dan berjuang sekuat tenaga agar sang anak dapat diterima dunia.





Antin Irsanti, Surabaya





NAMANYA Etik Herawati. Dua puluh dua tahun lalu, tepatnya 24 Mei 1995, dia dikaruniai seorang anak laki-laki. Bayi itu dia beri nama Reza Gusti Erlangga. Angan-angan besar mengiringi pemberian nama itu. Kelak, dia berharap sang anak bisa menjadi orang sukses. Jadi dokter, misalnya.



Dua tahun berjalan, sang anak baru bisa berjalan. Kata orang tua zaman dulu, perkembangan anak laki-laki biasanya memang lebih lambat. Tapi, sebagai ibu, Etik merasakan hal lain. Ada yang berbeda dengan buah hatinya.



Semakin lama, tumbuh kembang Angga, sapaan Reza Gusti Erlangga, semakin menunjukkan perbedaan dengan anak di sekitarnya. Bahkan, ketika sudah masuk playgroup pun, perilaku Angga tidak berubah. Dia tidak bisa duduk diam dan mengikuti irama lagu. Juga, tidak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.



Curiga ada yang tidak beres, Etik mendatangi pemilik playgroup itu yang juga seorang psikiater. Di sana, Angga menjalani serangkaian tes. Angga terdeteksi menyandang autisme. Tujuh di antara 10 tanda autis sesuai dengan kriteria Angga.



Etik tidak terima. Dia mencari dokter lain. Namun, dua ahli gangguan emosional yang didatanginya mengatakan hal sama. ’’Di situ sebenarnya saya mencari ahli yang mengatakan bahwa anak saya tidak seperti itu. Tapi, ketika tiga orang mengatakan hal sama, saya akhirnya menyerah,’’ ungkapnya.



Berita tersebut seakan meruntuhkan dunianya saat itu juga.



Apa yang telah saya perbuat?



Kenapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini?



Apa saya sedang dikutuk?



Pertanyaan demi pertanyaan seakan tiada habis membayangi pikirannya saat itu. Apalagi, pada saat bersamaan, dia harus menghadapi perpisahan dengan sang suami. Sungguh perempuan tangguh yang bisa menghadapinya.



Karena itu, Etik tidak boleh terus bersedih. Angga membutuhkan ibunya. Langkah pertama yang dilakukan Etik adalah mempersiapkan diri. Pertama-tama, yang harus dia ubah adalah mindset. Anaknya tidak bisa diperlakukan sama dengan anak-anak normal lainnya. Baru setelah itu, dia mempersiapkan orang-orang terdekatnya. Terutama orang tua dan saudara-saudaranya.



’’Saya akan merasa sangat berdosa jika tidak mempersiapkan anak ini dengan baik karena saya tidak bisa menemaninya selamanya. Kalau saya tidak ada, setidaknya dia sudah bisa mandiri dan tidak menyusahkan orang lain,’’ ujar alumnus Jurusan Manajemen Universitas dr Soetomo tersebut.



Sejak saat itu, Etik tidak pernah meninggalkan Angga. Hanya saat bekerja dia menitipkan bocah itu kepada orang tuanya. Namun, jika sedang tantrum dan tidak bisa dikendalikan orang-orang di sekitarnya, Angga harus segera dibawa ke ibunya. Meski sedang bekerja, Etik tak berkeberatan. Bagi dia, hidupnya hanya untuk Angga.



Memasuki kelas I SD, perilaku Angga semakin sulit dikendalikan. Pengobatan dan terapi ke sana kemari tidak mengubahnya menjadi lebih baik. Tidak banyak perubahan yang terjadi. Keputusan besar pun harus diambil. Etik memilih berhenti bekerja. Padahal, kala itu karirnya di salah satu perusahaan Jepang penghasil slipper sedang tinggi-tingginya.



Untung, suami kedua yang menikahinya ketika Angga berusia 5 tahun sangat mendukung keputusan tersebut. Awalnya Etik sempat takut jika penghasilan dari satu orang saja tidak cukup memenuhi kebutuhan obat Angga. Namun, sang suami terus meyakinkannya. Hingga akhirnya, keputusan itu diambil juga.



Lepas dari pekerjaan, Etik mencurahkan sepenuhnya kasih sayang dan perhatian kepada Angga. Bahkan, dia menunggui Angga di sekolah. Ketika di dalam kelas pun, Etik harus memangku anaknya agar tidak berlarian.



Meski demikian, Angga belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Di situ, Etik mengambil keputusan besar lagi. Yakni, melepas seluruh pengobatan dan terapi. Hanya vitamin tertentu yang masih dia gunakan untuk Angga.



Ketika itu, hanya satu yang diyakini perempuan kelahiran Makassar, 24 Desember 1970, tersebut. Kasih sayang orang tua, terutama ibu, adalah modal utama kesembuhan sang anak. Nasib anak tidak ditentukan dari seberapa banyak terapi dan obat-obatan mahal yang dia terima, tapi ibunya. Ibu harus bisa menerima keadaan anaknya dulu. ’’Saya bertekad Angga harus sembuh di tangan saya, bukan karena orang lain,’’ tegasnya.



Satu per satu perilaku Angga mulai diperbaiki. Untuk berbicara, misalnya. Angga bukannya tidak bisa, tapi tidak mau. Kalau ingin sesuatu, dia menggandeng tangan ibunya, lalu menunjuk benda yang dia inginkan.



Hal tersebut tidak bisa terus dibiarkan. Angga harus bisa berbicara. Salah satu upayanya, Etik mengajak teman sekelas Angga yang paling bandel untuk menginap di rumah. Ketika bermain, tampak egoisme dua bocah tersebut. Berebut mainan, pukul-pukulan. Semua dibiarkan jika masih dalam tahap wajar. Dan, saat emosinya memuncak, suara Angga pun keluar. ’’Punyakuuu...!’’ ucapnya saat merebut mainan yang diinginkan dari temannya tersebut.



Bukan hanya itu. Orang-orang di sekitarnya juga harus betah berbicara. Semakin sering mendengar kata-kata, semakin cepat pula perkembangannya untuk bisa berbicara. Etik juga menyekolahkan Angga di sekolah umum.



Meski begitu, Angga tidak mengalami problem membaca. Sejak umur 3 tahun, dia sudah bisa membaca. Caranya dengan melihat iklan di televisi. Angga sangat suka benda bergerak. Termasuk running text yang ada di setiap iklan. Ketika di jalan, dia mencocokkan isi iklan televisi dengan yang ada di poster dan spanduk.



Namun, problem yang harus dihadapi adalah menulis. Mengajari Angga menulis cukup lama. Sejak kelas II SD hingga kelas VII SMP, Angga baru bisa menulis dengan benar. Dulu, Angga tidak bisa menyambung kalimat di baris bawah. Semua kalimat dia sambung lurus ke samping. Kalau batas kertasnya habis, meja yang jadi korban coretannya.



Karena itu, Etik memberikan frame pada kertasnya. Masalah belum selesai. Kata demi kata dia rangkai mengikuti alur frame. Persis seperti ular yang terus memanjang hingga seluruh halaman kertas tertutup tulisan. Akhirnya Etik membuat tanda berupa titik-titik. Angga tinggal mengikuti arah titik-titik itu. Sampai akhirnya, dia tidak ketergantungan dengan tanda tersebut.



Sejak kecil, Angga tidak bisa mendengar bunyi-bunyi yang keras dan bising. Misalnya, suara kendaraan di jalan. Dia sering tantrum jika ada suara-suara yang mengganggunya. Sambil menutup telinga, dia berteriak dan bergerak tak terkendali.



Cara ekstrem pun dilakukan Etik. Dia tidak berusaha menjauhkan anaknya dari bunyi-bunyian yang membuatnya tidak nyaman. Justru semakin mendekatkannya. Salah satunya mengajak Angga ke Bandara Juanda dan mendekatkannya dengan area yang paling terdampak suara bising pesawat ketika lepas landas. Otomatis Angga menjerit sambil berusaha menutup pendengarannya.



Begitu pula ketika di jalan, kaca mobil sengaja dibuka. Tujuannya, sang buah hati terbiasa mendengar bunyi-bunyian itu. Akhirnya Angga benar-benar bisa menerima suara bising. Salah satunya karena dia suka bermain ke perusahaan percetakan di dekat sekolah hanya untuk melihat mesin itu menghasilkan kertas.



’’Itulah kenapa dia harus dipahami, bukan dimaklumi. Kalau kita maklum, dia tidak akan mengerti. Kalau paham, kita bisa menuntunnya untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak boleh,’’ jelas istri Sanuwar tersebut.



Lambat laun, Angga menunjukkan perkembangan. Jika waktu kecil dia divonis autis, ketika SD vonisnya berubah menjadi attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Kemudian, ketika SMP, vonisnya berubah lagi menjadi asperger syndrome. Di antara 10 gejala autis, hanya tiga yang cocok dengan Angga.



Mengubah perilaku Angga bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu lama dan kerja keras tanpa kenal lelah. Targetnya, hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Lelah pasti ada. Tak hanya karena mengasuh sang anak, tapi juga omongan di kanan-kiri. Etik terbiasa dengan protes orang tua murid lain. Tidak terhitung lagi berapa kali dia harus mengganti barang yang dirusakkan sang anak. Sampai kebal rasanya. ’’Waktu hang out bersama teman juga saya sudah tidak punya. Bagi saya, me time itu ya bersama keluarga,’’ ujar ibu dua anak tersebut.



Tapi, ada satu momen ketika dirinya tidak bisa menahan kesedihan. Yakni, ketika sang anak mengajukan pertanyaan. ’’Ma, aneh itu apa?’’



Rupanya, ada teman di sekolah yang mengolok-olok Angga dengan sebutan aneh. Di situ rasanya dia tidak terima. Ingin rasanya meledakkan emosi. Tapi, dia berusaha menahan diri. Setelah tenang, Etik menghampiri anaknya dan membawanya ke depan kaca. ’’Kamu lihat mama, kamu lihat diri kamu sendiri. Apa yang beda selain mama perempuan dan kamu laki-laki,’’ tanyanya.



’’Tidak ada kan? Sama-sama punya mata, hidung, dan tangan, semuanya. Jadi, tidak ada yang aneh dari kamu,’’ tegasnya.



Bully (perundungan) memang hal yang sering diterima Angga. Setiap Angga menerima perlakuan tidak menyenangkan, Etik selalu menanamkan kepada putranya bahwa cobaan itu masih kecil. Di luar sana, masih banyak hal kejam lainnya yang lebih besar. Makanya, Angga harus kuat. Tidak boleh jadi penakut.



Sejak kecil, Etik membentengi anaknya dengan ilmu akidah akhlak. Hal-hal yang dianjurkan dan dilarang agama menjadi tuntunan bagi dia untuk bersikap. Termasuk dalam menyikapi perundungan. Angga tidak pernah dendam. ’’Kan sudah biasa ya, Ma,’’ kata Angga yang menenangkan sang ibu.



Setiap ada yang memperlakukan Angga dengan tidak enak, Etik tidak pernah memarahi orang yang merundung putranya. Dia justru bertanya bagaimana perasaan Angga. Kalau sang anak baik-baik saja, Etik juga tidak apa-apa. ’’Dia bilang dia membantu temannya. Jadi, dia mau disuruh-suruh karena kasihan sama temannya itu. Kalau dia tidak apa-apa, saya harus bilang apa lagi?’’ ungkapnya.



Etik memang selalu mengajarkan kebaikan kepada Angga. Termasuk untuk membantu sesama. Apalagi bersedekah. Karena itu juga merupakan anjuran agama. Etik menganggap kebaikan yang disebarkan anaknya selama ini melapangkan jalannya hingga sekarang.



Angga bisa melewati ujian-ujian sekolah dengan lancar. Padahal, bisa saja sewaktu-waktu dia kumat dan tidak mood mengerjakan soal.



Lulus SMA, Etik mengenalkannya dengan ujian masuk perguruan tinggi. Tujuannya hanya untuk memberitahukan bahwa ada jenjang yang lebih tinggi setelah SMA. Dia juga tidak berharap putranya lolos seleksi masuk perguruan tinggi.



Tapi, hasil yang tidak diduga terjadi. Angga lolos tes masuk Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Dia diterima di program studi D-3 Teknik Informatika. Antara bangga dan bingung. Ketika SD hingga SMA di Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM), Etik bisa berkoordinasi dengan pihak sekolah. Tapi, ketika di perguruan tinggi, tentu hal tersebut tidak bisa lagi dilakukan dengan mudah.



Awal masuk kuliah, Etik sudah berkomunikasi dengan pihak PENS. Jika suatu ketika anaknya harus dikeluarkan dari bangku perkuliahan karena tidak bisa mengikuti pelajaran dengan benar, dia ikhlas.



Namun, rupanya Angga bertahan. Bahkan, sekarang dia sedang menyelesaikan tugas akhir untuk syarat kelulusannya. ’’Saya tidak tahu cara yang saya lakukan benar atau tidak. Tapi, menurut saya, sampai sekarang saya sudah berhasil. Sekarang saya tidak takut lagi melepas Angga untuk mandiri,’’ tandasnya. (*/c7/dos)


EDITOR: Miftakhul F.S