JawaPos.com - Guruh Soekarnoputra mencapai salah satu fase paling produktif dalam perjalanan seninya ketika musik, tari dan pertunjukan kolosal yang digagasnya mendapat tempat luas di panggung Indonesia.
Guruh tidak membangun karier hanya melalui satu bidang. Ia menggabungkan musik dengan koreografi, busana dan unsur tradisi sehingga pertunjukan yang dihasilkannya memiliki karakter yang berbeda.
Kini, sosok Guruh kembali menjadi perhatian setelah kabar mengenai kondisi kesehatannya sedang drop. Keponakannya, Didi Mahardika, mengatakan bahwa Guruh sedang menjalani perawatan intensif di RS Siloam Semanggi dan belum sadarkan diri.
Sebelumnya, Guruh sempat dirawat sekitar empat pekan di RS Medistra. Keluarga menyebut kondisi kesehatannya memang telah mengalami gangguan selama sekitar satu tahun terakhir, tetapi belum mengungkap diagnosis penyakitnya kepada publik.
Baca Juga: PK Nikita Mirzani Ditolak MA, Hukuman 6 Tahun Penjara Tetap Berlaku
Masa Produktif Guruh dalam Seni Pertunjukan
Salah satu kekuatan Guruh terlihat dari kemampuannya membangun pertunjukan sebagai sebuah kesatuan.
Musik tidak berdiri sendiri. Di dalam konsepnya, musik dapat berjalan bersama tari, tata busana, koreografi hingga tata panggung.
Jejak tersebut terlihat dalam berbagai Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra yang berlangsung sejak akhir 1970-an hingga 1980-an.
ANRI mencatat Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979, disusul Untukmu Indonesiaku pada 1980, kemudian Cinta Indonesia dan Gilang Indonesia Gemilang pada 1986.
Rangkaian pertunjukan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Guruh dalam mengembangkan seni pertunjukan berskala besar.
Guruh Gipsy, Titik Penting Eksplorasi Musik
Sebelum berbagai pertunjukan kolosal itu berkembang, Guruh telah menunjukkan keberaniannya bereksperimen dengan musik.
Pada 1975, album Guruh Gipsy digarap dan dirilis pada tahun 1977. Album tersebut memadukan musik modern dengan unsur gamelan Bali.
Bagi perjalanan kreatif Guruh, eksperimen tersebut penting karena memperlihatkan bagaimana unsur musik tradisional dapat ditempatkan berdampingan dengan musik modern.
Arsip ANRI bahkan secara khusus menempatkan Guruh Gipsy dalam inventaris arsip Guruh sebagai bagian dari dokumentasi kiprahnya sebagai pencipta lagu sekaligus komposer.
Swara Maharddhika Memperbesar Panggung Guruh
Pada 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika. Ia kemudian menjadi wadah bagi berbagai aktivitas seni, termasuk pertunjukan tari. Dalam perkembangannya, Swara Maharddhika menjadi salah satu bagian penting dari ekosistem pertunjukan yang dibangun Guruh.
Sepuluh tahun setelah pendiriannya, Swara Maharddhika tampil dalam pertunjukan Gempita Swara Maharddhika. Selain itu, Guruh juga mengembangkan pertunjukan Jak Jak Jak Jak Jakarta.
Skala pertunjukan yang semakin besar menunjukkan ambisinya untuk menjadikan panggung sebagai ruang pertemuan berbagai bentuk seni.
Prestasi Musik di Tingkat Nasional dan Internasional
Kiprah Guruh tidak berhenti di panggung pertunjukan. Komposisinya berjudul Renjana tercatat mengikuti Festival Lagu Populer Tingkat Nasional pada 1976.
Guruh juga membawa karya "Kembalikan Baliku" ke World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang. Karya tersebut meraih Kawakami Award dan Audience Selections Award. Lagu yang sama juga tercatat menang dalam Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) 1987.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa karya Guruh memiliki perjalanan dari panggung nasional menuju forum musik internasional.
Karya Guruh juga Hadir di Film
Pengaruh Guruh dalam industri hiburan semakin luas karena ia turut menggarap ilustrasi musik sejumlah film.
Beberapa judul yang tercatat dalam dokumentasi ANRI antara lain Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati. Selain itu, dia juga terlibat sebagai aktor di sejumlah judul film seperti Untukmu Indonesiaku!, Sembilan Wali, Pacarku Anak Koruptor, dan lain-lain.
Dengan demikian, masa produktif Guruh bukan hanya ditandai oleh satu karya atau satu pertunjukan. Ia membangun ekosistem kreatif yang menghubungkan musik, tari, film dan seni pertunjukan.
Tetap Berkarya Menjelang Kondisi Kesehatan Menurun
Dedikasinya untuk dunia seni dan kebudayaan bahkan masih terlihat hingga tahun 2026.
Pada 27 Agustus 2026, Guruh terlibat dalam pertunjukan Untuk Indonesia di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, sejumlah karya musiknya seperti Damai, Putih, Cinta Indonesia dan Melati Suci kembali dibawakan.
Beberapa pekan setelah pertunjukan itu, kabar mengenai kondisi kesehatannya muncul.
Baca Juga: Komentar Pihak Reza Gladys Usai PK Nikita Mirzani Ditolak Mahkamah Agung
Guruh kini dirawat intensif di RS Siloam Semanggi. Didi Mahardika menyebut, Guruh belum sadarkan diri dan masih berada dalam pengawasan tim dokter. Keluarga juga meminta doa masyarakat untuk kesembuhannya.