← Beranda
Perjalanan Karier Guruh Soekarnoputra, dari Panggung Seni hingga Menjadi Maestro Budaya Indonesia
Abdul Rahman• Jumat, 25 September 2026 | 21.30 WIB
Guruh Soekarno Putra (tengah) bersama Ariel Noah, Dea Dalilia dan Grup Band Nev+ saat memberikan keterangan tentang lagu Janger Persahabatan yang dijadikan lagu official dari Asian Games 2018 di Ciputat, Tangerang Selatan

 

JawaPos.com - Nama Guruh Soekarnoputra telah melekat dalam perjalanan seni dan budaya Indonesia selama lebih dari kudang lebih 5 dekade. Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati itu dikenal bukan hanya sebagai pencipta lagu, tetapi juga penari, koreografer, penata musik, seniman pertunjukan hingga budayawan.

Kini, perhatian publik kembali tertuju kepada Guruh Soekarnoputra setelah kondisi kesehatannya dikabarkan menurun. Melalui keponakannya, Didi Mahardika, didapati informasi bahwa Guruh sedang menjalani perawatan intensif di RS Siloam Semanggi, Jakarta.

Guruh disebut belum sadarkan diri dan berada dalam pengawasan intensif tim dokter. Pihak keluarga untuk saat ini belum bersedia mengungkap penyakit yang dideritanya, menyebabkan kondisi kesehatannya drop.

Sebelum dirawat di RS Siloam Semanggi, Guruh sempat menjalani rawat inap selama sekitar empat minggu di RS Medistra. Kondisinya sempat membaik sebelum kembali menurun. 

Baca Juga: Apa Itu PK Ditolak? Ini Arti "Putusan Tolak PK Terpidana” dalam Kasus yang Menjerat Nikita Mirzani

Kabar tak sedap tersebut membuat perjalanan panjang Guruh di dunia seni kembali menjadi sorotan.

Mulai Mengenal Seni Sejak Kecil

Kecintaan Guruh terhadap seni sudah terlihat sejak usia sangat muda. Guruh mulai belajar sejumlah tari tradisional seperti tari Jawa, Sunda, dan Bali ketika baru berusia sekitar 5 tahun.

Pada masa kanak-kanak, ia juga membentuk Band Bocah dan belajar memainkan piano. Memasuki masa remaja, Guruh membentuk kelompok musik The Beat G pada 1965.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi perkembangan Guruh sebagai seniman dengan bidang yang sangat luas.

Ia tidak hanya menempatkan musik sebagai medium berekspresi, tetapi juga menggabungkannya dengan tari, busana, koreografi dan konsep pertunjukan.

Guruh Gipsy dan Eksplorasi Musik

Salah satu fase penting dalam perjalanan musik Guruh terjadi ketika ia terlibat dalam proyek Guruh Gipsy.

Album Guruh Gipsy dirilis pada 1977 dan dikenal karena memadukan musik modern dengan unsur gamelan Bali. Arsip ANRI mencatat album tersebut sebagai bagian penting dari kiprah Guruh sebagai pencipta lagu sekaligus komposer. 

Eksperimen tersebut menunjukkan kecenderungan Guruh untuk mempertemukan unsur tradisional Indonesia dengan perkembangan musik modern.

Pendekatan semacam itu kemudian menjadi salah satu karakter yang melekat pada karya-karyanya.

Mendirikan Swara Maharddhika

Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika. Kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu wadah penting dalam aktivitas seni yang digagasnya.

Swara Maharddhika tidak hanya berkaitan dengan musik, tetapi juga pertunjukan tari dan berbagai ekspresi seni panggung. Pada 1987, organisasi tersebut berubah menjadi Yayasan Swara Maharddhika. 

Guruh kemudian mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP pada 1989.

Melalui berbagai wadah tersebut, gagasan Guruh mengenai seni pertunjukan diwujudkan dalam skala yang semakin besar.

Mengembangkan Pertunjukan Kolosal

Perjalanan kreatif Guruh kemudian berkembang melalui sejumlah Pergelaran Karya Cipta. Mulai dari Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979, Untukmu Indonesiaku pada 1980, Cinta Indonesia tahun 1984, hingga Gilang Indonesia Gemilang pada 1986. 

Pada 1989, Guruh juga menggelar pertunjukan kolosal Jak Jak Jak Jak Jakarta serta Gempita Swara Maharddhika.

Rangkaian pertunjukan itu memperlihatkan konsistensinya menjadikan seni sebagai medium untuk menghadirkan identitas Indonesia di atas panggung.

Tak Hanya Musik dan Tari

Kiprah Guruh juga merambah ke dunia perfilman. Ia pernah terlibat sebagai ilustrator musik untuk sejumlah film antara lain; Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA, dan Puspa Indah Taman Hati. Guruh juga pernah tampil sebagai aktor dalam film Sembilan Wali (Wali Songo) pada 1985.

Di luar panggung, Guruh juga pernah terjun ke dunia politik dan menjadi anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan. Namun, seni tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.

Warisan yang Terus Hidup

Lebih dari sekadar panjangnya daftar karya, perjalanan Guruh menunjukkan konsistensinya dalam mempertemukan berbagai cabang seni. 

Musik, tari, busana, koreografi dan pertunjukan kolosal menjadi bagian dari pendekatan kreatifnya.

Saat ini, Guruh masih menjalani perawatan intensif di RS Siloam Semanggi. Keluarga meminta masyarakat mendoakan kesembuhannya dan belum menyampaikan secara terbuka terkait diagnosis medis yang dialaminya.

Baca Juga: PK Nikita Mirzani Ditolak MA, Hukuman 6 Tahun Penjara Tetap Berlaku

Di tengah kabar tersebut, perjalanan karier Guruh menjadi pengingat bahwa jejak seorang seniman tidak hanya ditentukan oleh usia aktifnya berkarya, tetapi juga oleh karya dan gagasan yang terus dikenang setelah pertunjukan berakhir.

EDITOR: Abdul Rahman